Tepuk Tangan Kecil, Namun Tulus

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Benarkah ketulusan untuk saling menghargai semakin menipis?

 

Kapankah terakhir kali Anda memuji anggota tim suatu proyek, rekan kerja, anak buah, atau pemasok yang bekerja penuh disiplin? Bila Anda lupa kapan melakukannya, besar kemungkinan Anda pelit pujian. Jika Anda menjawab kemarin, boleh jadi Anda lekas merespons positif kinerja orang-orang yang berhubungan dengan Anda.

Memberi respons positif seringkali lebih sukar dilakukan ketimbang mengritik. Ini tidak lepas dari kebiasaan memandang sisi-sisi negatif terlebih dulu: berprasangka, berpikir negatif. Keburukan memang kerap terlihat lebih menonjol dibanding kebaikan. Kesalahan lebih menempel pada ingatan ketimbang keberhasilan.

Orang sering berpendapat bahwa berbuat baik merupakan hal yang lumrah dan sudah sewajarnya dilakukan. Karena itu, tak perlu diapresiasi. Pendapat ini mengabaikan fakta bahwa apapun yang kita peroleh dari bekerja, tidak ada yang lebih bernilai daripada perasaan bahwa kita memberi kontribusi berharga pada capaian yang luar biasa, dan bahwa kita diakui karena hal itu. Bagi sebagian kecil orang, pengakuan tidak begitu penting; namun pada umumnya orang merasa dihargai bila diakui kontribusinya.

Dari studinya yang menarik, Towers Watson menyimpulkan bahwa penggerak tertinggi keterlibatan karyawan (employee engagement) ialah perasaan bahwa manajernya mengapresiasi kinerjanya. Perasaan diapresiasi oleh atasan atau teman kerja dapat memotivasi seseorang untuk bekerja lebih giat. Sekurang-kurangnya, pada tingkat yang paling dasar, perasaan diapresiasi membuat karyawan merasa aman (secara psikologis) dalam bekerja.

Lain hal bila kita disorot karena berbuat kesalahan. Orang lantas kekurangan motivasi dan energi untuk berkontribusi dalam menciptakan nilai bagi perusahaan. Dalam situasi seperti orang yang dikritik bisa bersikap defensif dan reaktif. Ia bisa menjadi cemas dan gelisah.

Emosi negatif semacam itu, terlebih lagi perasaan tidak lagi berharga, berpotensi meracuni orang tersebut dan berdampak buruk terhadap kesehatan. Dalam sebuah studi disebutkan bahwa pekerja yang merasa dikritik oleh bos secara tidak fair memiliki kemungkinan mengidap penyakit koroner 30 persen lebih tinggi dibanding mereka yang merasa diperlakukan secara fair.

Menarik pula untuk menengok simpulan studi Marcial Losada. Dari studinya, Losada menyimpulkan bahwa pada tim berkinerja tinggi, umpan balik positif mempunyai dampak yang jauh lebih besar (5,6 kali lipat) dibandingkan umpan balik negatif. Sedangkan pada tim berkinerja rendah, dampaknya relatif kecil, berkisar antara 0,36 hingga 1,0.

Apa yang dapat kita lakukan dalam mengapresiasi kerja orang lain agar kinerja tim semakin tinggi? Beberapa saran berikut ini boleh dicoba:

Pertama, jangan meremehkan orang lain. Biaya yang harus kita keluarkan karena memandanng rendah orang lain begitu besar, sehingga kita perlu menyediakan waktu lebih banyak untuk mengatasi dampaknya. Sangat mungkin, ia lebih hebat daripada yang terlihat.

Kedua, praktikkan kebiasaan mengapresiasi dari diri sendiri. Jika Anda sukar mengapresiasi orang lain secara terbuka, boleh jadi karena Anda sukar mengapresiasi diri sendiri. Ambillah waktu sejenak untuk bertanya: “Apa yang dapat kubanggakan pada hari ini?” Anda mengapresiasi diri dengan secangkir kopi di sore hari.

Ketiga, berpikirlah positif, jangan berprasangka buruk. Mulailah berpikir perihal kualitas positif dari kontribusi seseorang yang hingga saat ini masih Anda anggap sebagai hal yang lumrah. Tepuk tangan kecil namun tulus jauh lebih bagus ketimbang ibu jari tangan menghadap ke bawah.

Mengapresiasi kinerja orang lain perlu pembiasaan. Dan itu dapat dimulai dari diri sendiri. Bukan bermaksud narsis, melainkan untuk berkaca: “Apakah saya sudah memberi manfaat kepada orang lain?” (Sumber foto ilustrasi: thoughtsforday.com) **

Bagikan Artikel Ini
img-content
dian basuki

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua