Monokrom Itu Bernama Indonesia - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Monokrom Itu Bernama Indonesia

    Keberagaman bukan berarti perbedaan, melainkan monokrom persatuan

    Dibaca : 2.095 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Indonesia sebagai sebuah konsep luhur yang menjadi perekat keanekaragaman di nusantara seakan tergerus oleh arus separatisasi oleh sekelompok golongan. Perbedaan yang mewujud dalam suku, agama, ras, maupun golongan, tak dianggap lagi sebagai anugerah Ilahi yang patut disyukuri karena menjadi potensi kekayaan di negeri ini. Golongan yang menyatakan dirinya mayoritas lantas menginjak-injak eksistensi kaum minoritas yang serba terbatas. Suatu kemunduran, bukankah hampir seabad yang lalu ‘Indonesia’ telah menjadi spirit bagi integrasi yang mampu meleburkan perbedaan identitas ke dalam sebuah monokrom bernama Indonesia?

    Nasionalisme Indonesia dibangun bukan dari identitas mayoritas yang coba dipaksakan untuk dianut oleh minoritas. Kesadaran yang tumbuh lewat tempaan kolonialisasi menjadikan ikhtiar untuk merdeka sepenuhnya melahirkan Indonesia sebagai mufakat bersama. Mengalah untuk menang bersama. Para founding fathers negeri ini memilih untuk tak memaksakan identitas lahiriahnya, tetapi merelakan konsep yang nantinya dianut bersama sebagai identitas yang dijunjung tinggi. Bukan dalam rangka menghilangkan, misalnya, orang Jawa yang kehilangan kejawaanya, orang Sunda kehilangan kesundaannya, ataupun orang Batak yang kehilangan kebatakannya. Akan tetapi, keberagaman dalam persatuan dalam lantunan Bhineka Tunggal Ika adalah tujuan mulia yang coba diwujudkan.

    Konsep nasional hadir untuk menggantikan konsep usang yang masih menonjolkan etnis (kesukuan), agama, dan bersifat lokal kedaerahan. Lewat organisasi semacam PNI (Partai Nasional Indonesia), PI (Perhimpunan Indonesia), serta PKI (Partai Komunis Indonesia), keberadaannya mulai mengambil alih eksistensi organisasi yang sebelumnya tak berorientasi tentang nasionalisme, yang muncul selama dua dekade awal abad ke-20 seperti, misalnya, Budi Utomo dengan identitas priyayi Jawanya, maupun Sarekat Islam dengan identitas keislamannya.

    Kesepakatan para pemuda, 28 Oktober 1928, dalam sebuah sumpah mampu menihilkan keanekaragaman suku (ras), identitas kedaerahan, bahasa, serta ideologi kedalam bingkai nasionalistis. Bahasa Indonesia yang telah mengakar kuat sebagai lingua franca era merkantilisme dijadikan bahasa pemersatu. Manusia nusantara telah sepakat untuk menjadi suku Indonesia seutuhnya. Dan tentunya, tanah air Indonesia menjadi titik kulminasi perjuangan yang akhirnya terwujud 17 tahun berikutnya lewat proklamasi.

    Mengenai ideologi yang dianut, mewujud kedalam pancasila yang berisi lima dasar falsafah Indonesia merdeka: ketuhanan, kebangsaan, perikemanusiaan, kesejahteraan, dan demokrasi. Kompromi awal yang mewujud dalam Piagam Jakarta berkaitan dengan ketuhanan menyatakan “ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” untuk tetap memberikan peran istimewa Islam di negeri ini tak dipertahankan. Ketuhanan diatur beradasarkan lafal sila “ketuhanan yang maha esa”. Beberapa kali, ide ketuhanan yang terkesan telah mengandung unsur sekulerisme tersebut, mendapatkan rongrongan. Dekrit Presiden 5 Juli 1959 mengukuhkan Piagam Jakarta sebagai ilham dari undang-undang dasar, lalu menyulut para pemimpin Islam, bahwa negara memiliki kewajiban untuk mengawasi pelaksanaan syariat Islam di kalanangan muslim. Akan tetapi, dekrit yang terkesan inkonstitusional itu beranggapan tak dengan sendirinya menjadi bagian dari piagam Jakarta yang harus mengawasi terwujudnya syariat-syariat Islam. Pun dengan tahun 1968, ketika usulan yang disuarakan Nahdlatul Ulama (NU) bersama Partai Muslimin Indonesia (Parmusi) pada sidang MPRS untuk menjadikan Piagam Jakarta sebagai undang-undang ditolak.

    Monokrom Indonesia yang sebetulnya lahir dari polikrom suku, agama, identitas kedaerahan, bahasa, serta falsafah ideologi pantas dan seharusnya kita perjuangkan. Devide et impera atau politik pecah belah yang mencoba menumbuhkan disintegrasi bangsa, baik yang datang dari elemen dalam maupun luar, harus segera ditangkis. Ind(one)sia merupakan konsep mulia yang mengandung cita-cita luhur persatuan di atas keberagaman, persis dengan kata one yang bermakna satu, tepat di tengah-tengah kata Indonesia. Nusantara, tetaplah menjadi monokrom bernama Indonesia.

    #PeriplusCompetition

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.