650 Milyar… Kemanakah Engkau…? - Analisis - www.indonesiana.id
x

Dwi Septian

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • 650 Milyar… Kemanakah Engkau…?

    bahwasannya eks kombatan GAM tersebut telah dianggarkan dana untuk mereka sebesar 650 milyar.

    Dibaca : 1.869 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Masyarakat Aceh tentunya masih ingat semua, khususnya masyarakat Aceh yang terlibat dalam organisasi Gerakan Aceh Merdeka (GAM), bahwasannya eks kombatan GAM tersebut telah dianggarkan dana untuk mereka sebesar 650 milyar. Dana sebesar itu tentunya sangat fantastis nilainya, apalagi bila dana tersebut dikelola dengan baik untuk mantan kombatan GAM. Dana 650 milyar tersebut akan sangat berarti sekali bagi eks kombatan GAM, dimana dengan dana tersebut,  tentunya para mantan kombatan GAM tidak akan mengalami kesulitan ekonomi yang sampai saat ini masih dirasakan oleh mantan kombatan GAM.

    Sampai saat ini kemana larinya dana 650 milyar tersebut masih belum jelas. Masing-masing pihak baik kalangan eksekutif maupun legislatif di Aceh, seolah-olah melempar bola panas tersebut kesiapa saja dan seakan-akan kalangan eksekutif maupun legislatif, satu sama lain meneriakan “Usut dana 650 milyar” secara tuntas. Namun sayang sampai saat ini mulai tahun 2013 sampai 2017 permasalahan tersebut sepertinya ditutup-tutupi oleh para petinggi GAM baik di tingkat eksekutif maupun di tingkat legislatif.

    Jika kita melihat situasinya seperti itu, mungkin kita pernah mendengar ataupun pernah mengucapkan sebuah kata yang sangat tenar didalam dunia Mafia yaitu “KONSPIRASI”. Dalam Bahasa sehari-hari kata KONSPIRASI dapat kita artikan sebagai sebuah PERSEKONGKOLAN. Biasanya KONSPIRASI/PERSEKONGKOLAN itu dilakukan oleh sekelompok orang yang sangat berkuasa dan berpengaruh untuk melakukan manipulasi terhadap sesuatu demi kepentingan kelompok mereka.

    Mungkin itulah yang ada di benak para eks kombatan GAM, bahwa para elit politik yang ada di tingkat eksekutif maupun ditingkat legislatif, telah bersama-sama melakukan konspirasi terkait dana 650 milyar tersebut. Pihak eksekutif dan legislatif seolah-olah menaruh kepedulian terhadap eks kombatan GAM tersebut dengan berusaha untuk mencari tahu kemana dana 650 milyar tersebut digulirkan, padahal apa yang mereka suarakan tersebut sangat jauh dari niat yang tulus.

    Kalau saja Gubernur Aceh Zaini Abdullah dan Wakil Gubernur Aceh Muzakir Manaf memang mempunyai kepedulian terhadap eks kombatan GAM tersebut, maka permasalahan dana 650 milyar tersebut sudah tidak digaung-gaungkan lagi pada tahun 2017 ini. Kalau saja DPR Aceh mempunyai kepedulian terhadap eks kombatan GAM tersebut, maka persoalan dana 650 milyar tersebut tentunya sudah tuntas diselesaikan sesuai dengan peruntukannya.

    Jika boleh saya boleh bertanya kepada Bapak Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf selaku Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh periode 2012-2017, saya akan mengajukan beberapa pertanyaan. Pertama, apakah Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur tidak tahu kemana aliran dana tersebut digulirkan? Kedua, jika dana tersebut dititipkan kesejumlah SKPA-SKPA untuk kepentingan eks kombatan GAM, apakah Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur pernah melihat hasilnya? Ketiga, apakah Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur tidak pernah menanyakan saat kunjungan kebeberapa wilayah kepada eks kombatan GAM, apakah mereka telah menerima dana untuk eks kombatan GAM?

    Jika ketiga pertanyaan saya itu tidak pernah mereka pikirkan, tidak pernah mereka periksa dan mereka utarakan kepada eks kombatan GAM, lantas apa yang mereka pikirkan saat itu? Dengan persoalan seperti itu, tentunya sebagai eks kombatan GAM seluruhnya, harus dapat melihat secara jelas apa hak yang harus mereka terima atas dana 650 milyar tersebut.

    Sebentar lagi pilkada Aceh akan dimulai secara serentak, baik untuk gubernur dan wakil gubernur, bupati dan wakil bupati serta walikota dan wakil walikota. Sebagai manusia biasa yang tentunya masih mempunyai kebutuhan untuk hidup, baik untuk diri sendiri sampai menghidupi keluarga, perlu kiranya eks kombatan GAM berfikir, mencari dan menilai, pemimpin seperti apa yang harus mereka pilih untuk masa depan mereka dan keluarganya. Eks kombatan GAM tentunya harus berfikir lebih realistis lagi.

    Perlu kita ingat bersama, kebutuhan dan kesejahteraan hidup masyarakat tidak akan terpenuhi hanya dengan gambar-gambar, slogan-slogan serta logo-logo partai politik semata.

    Ikuti tulisan menarik Dwi Septian lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.