Sekapur Sirih: Relaksasi ala Nusantara - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Sekapur Sirih: Relaksasi ala Nusantara

    Tradisi 'Nginang' yang membingkai dinamika sosial masyarakat nusantara

    Dibaca : 6.479 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Nginang karo ngilo” (Mengunyah buah pinang sambil berkaca), sebuah ungkapan dalam bahasa Jawa mencoba menyindir kalangan masyarakat dengan keseharian penuh kemewahan. Tradisi mengunyah buah pinang atau menyirih merupakan prestise bagi masyarakat kelas menengah ke atas. Kalangan elit Eropa, abad ke-17, seperti digambarkan Tavernier, saat pergi ke gereja seringkali membawa kotak yang dibawa oleh budak-budak perempuan berisi perlengkapan nginang. Kebiasaan nginang tak hanya membingkai perlambang kelas. Lebih dari itu, nginang mengekspose konteks sosial masyarakat nusantara dan cara untuk sejenak merelaksasi pikiran yang jenuh akibat aktivitas sehari-hari.

    Dalam tradisi nusantara nginang merupakan aktivitas mengunyah bahan-bahan, perpaduan dari buah pinang atau di Jawa dikenal sebagai jambe, enjet (kapur), dan daun sirih (suroh). Relief candi Borobudur yang dibangun abad ke-8 dan candi Sojiwan seabad berselang, menggambarkan kebiasaan nginang. Pada salah satu reliefnya terdapat kotak sirih dan tempat ludah disamping orang yang sedang mengunyah, hal ini diinterpretasikan oleh para arkeolog, sedang mengunyah sirih. Kebiasaan nginang juga dapat diketahui dari kronik pelancong Cina. Ma Huan mencatat, pada awal abad 15, mulut orang-orang Jawa tak pernah terlepas dari perpaduan buah pinang, kapur, dan daun sirih. Ketika mereka menerima tamu, teh tak menjadi suguhan utama, melainkan buah pinang.Tak hanya itu, dalam perkembangannya, nginang dijadikan sebagai simbol ritual, penyegar mulut, dan sebagai relaksasi ketika sedang dalam perjalanan, ataupun masuk menjadi daftar menu makanan.

    Nginang pada akhirnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat nusantara. Antonio Pigafetta, seorang pelaut yang turut dalam ekspedisi Magellan, menjelaskan kebiasaan nginang menjadi penenang hati dan ketika mereka tak melakukannya, mereka akan mati. Kebiasaan ini menyebar dan menyeluruh paling tidak sejak orang-orang Belanda untuk pertama kalinya mencapai Banten, 1598. Nginang menjadi kebutuhan sosial orang dewasa. Ketika mereka, misalnya, menolak tawaran untuk sekadar nginang, hal itu merupakan sebuah penghinaan.

    Kebiasaan nginang mengambil posisi sentral dalam kehidupan masyarakat, hal ini terlihat dari ritus yang dijalankan. Buah pinang dan sirih selalu nampak pada upacara pemakaman. Bahan-bahan nginang juga hadir dalam upacara penyembuhan. Anak-anak, di nusantara bagian timur, diharuskan nginang saat gigi mereka mulai tumbuh, sebagai perlambang mereka telah memasuki usia dewasa.

    Menarik untuk melihat ritual yang dijalankan saat dihelat upacara pernikahan. Saat prosesi lamaran dan penerimaan, kata pinang hadir untuk menjelaskan prosesi ini. “Meminang” dijadikan diksi untuk melamar, sementara “pinangan” menjelaskan pertunangan. Dalam prosesi pernikahan adat Jawa, mempelai pria dan wanita saling lempar daun sirih sebagai lambang harga yang harus dibayar dalam pernikahan, sementara kotak sirih dijadikan pusaka. Perlengkapan nginang melambangkan pertalian yang menyatukan mempelai pria dan wanita dalam ikatan suci pernikahan.

    Di berbagai wilayah nusantara, perlengkapan nginang mengandung sebuah kesakralan. Dua bagian penting, buah pinang dan daun sirih, merepresentasikan keseimbangan. Pinang dilihat sebagai sesuatu yang panas sementara daun sirih sebagai sesuatu yang dingin. Di Timor, menurut Forman, nginang melambangkan kelahiran. Ludah berwarna merah yang dibuang adalah kontribusi seorang ibu dalam darah calon janin.

    Bagi konsumennya, nginang memiliki fungsi sentral sebagai penenang tensi yang sedang meninggi, kesedihan, serta kemarahan. Kandungan arecoline pada buah pinang mirip dengan nikotin dalam tembakau yang mampu menstimulasi dan menjaga detak jantung bekerja secara normal. Dalam Sejarah Melayu diceritakan, seorang wanita Jawa yang sedang menjadi ‘pesakitan cinta’ ditawari Hang Tuah buah pinang untuk menghilangkan rasa sakit cintanya. Sementara dalam tradisi Aceh abad ke-18, Hikayat Pocut Muhammad, prajurit yang merasa kelelahan dan ketakutan ditenangkan dengan mengunyah buah pinang dan menelan ludahnya untuk mendapatkan efek maksimal. Nginang adalah relaksasi yang kehadirannya selalu dinanti.

    Dilihat dari sisi kesehatan, nginang mampu mencegah kerusakan gigi, sakit gigi, serta menyegarkan nafas. Seperti dicatat Tome Pires, abad ke-16, nginang membantu pencernaan, menenangkan pikiran, dan yang terpenting mampu menguatkan gigi, sehingga mereka yang biasa mengunyahnya akan memiliki gigi yang tetap utuh, bahkan hingga usia delapan puluh tahun. Nginang mencegah sendawa setelah makan, seperti dicatat Chau Ju-Kua pada abad ke-12. Bagi wanita Asia kala itu, mereka tak akan berpikir tentang cinta sebelum menyegarkan mulut mereka dengan nginang.

    Meski keberadaan nginang kini tergantikan oleh rokok maupun opium, kehadirannya bagi nusantara adalah anugerah yang mampu menjadi dinamisator kehidupan sosial masyarakat. Nginang merelaksasi, menyehatkan, hingga menjadi bagian dari tradisi. Sekapur sirih memang merupakan persembahan terbaik dari nsantara.

     

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

    (Sumber foto: pixoto.com)

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.