Lebih Ideal Anies Baswedan Daripada Ahok - Analisis - www.indonesiana.id
x

Nursyifa Fitri

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Lebih Ideal Anies Baswedan Daripada Ahok

    Gaya Kepemimpinan Anies Baswedan dan Ahok

    Dibaca : 2.802 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Fenomena “Asal Bukan Ahok” adalah gejala bahwa warga DKI Jakarta membutuhkan pemimpin baru. Tidak bisa dipungkiri gaya kepemimpinan Ahok yang menimbulkan resistensi warga kepadanya, beresiko membawa Jakarta ke dalam konflik yang berkepanjangan. Pemerintahan juga tidak akan berjalan baik, sebab tingginya penolakan terhadap pemimpin. Penolakan ini tidak hanya berlangsung di warga, tetapi juga pada birokrasi, partai politik, dan lembaga legislasi daerah.

    Gaya kepemimpinan negatif Ahok merenggangkan komunikasi pemerintah dengan warga, birokrasi, partai-partai politik, berbagai organisasi kemasyarakat, bahkan dengan partner pemerintah, yakni Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jakarta. Suasana ini tidak kondusif bagi kehidupan di Jakarta. Bisa dibayangkan ketika di beberapa masjid muncul spanduk-spanduk untuk tidak mensholatkan jenazah para pendukung Ahok, birokrasi juga bekerja dibawah ketakutan, dan konflik tak berkesudahan dengan DPR DKI Jakarta.

    Karena itu, sosok pemimpin yang bisa merangkai kesalingpemahaman antar golongan adalah yang mutlak dibutuhkan Jakarta. Anies Baswedan memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Dia adalah sosok yang lengkap dan bisa diterima semua kalangan. Dia bisa diterima di kalangan akademisi, karena latar belakangnya akademisi; dia juga bisa diterima birokrasi karena pernah menjabat sebagai menteri; dia juga diterima partai politik karena mampu membangun kepercayaan partai; dan dia juga bisa diterima warga dan berbagai organisasi kemasyarakatan karena kepribadian, tutur kata, dan sikapnya.

    Jakarta adalah gudang persoalan. Konfleksitas masalah di Jakarta membutuhkan kerjasama, saling pengertian, dialog yang harmonis, dan tentu saja ketegasan. Pemimpin tidak bisa mengklaim dirinya sebagai “bapak” yang tahu dan dapat mengatasi persoalan warga DKI Jakarta. Pemimpin di Jakarta harus menempatkan dirinya sebagai partner bagi semua kalangan.

    Selain dijejali segudang persoalan, Jakarta juga dipenuhi oleh semua sumber daya. Jakarta adalah pusat politik, pusat ekonomi, corong Indonesia, Ibu Kota Negara, Pusat komunitas, pusat orang-orang cerdas, dan pusat bagi segala yang berkaitan dengan Indonesia. Yang dibutuhkan adalah sosok yang mampu memanfaatkan semua sumber daya ini dengan tanpa menimbulkan persoalan-persoalan baru. Dengan gaya kepemimpinannya yang mampu diterima dan bisa berkolaborasi dengan semua kalangan, Anies adalah sosok yang dibutuhkan di Jakarta. 

    Ikuti tulisan menarik Nursyifa Fitri lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.