Kekompakan Keluarga dalam Mendidik Anak - Analisis - www.indonesiana.id
x

Ilustrasi anak belajar/mengerjakan PR bersama orang tua. Shutterstock.com

Edi Warsidi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kekompakan Keluarga dalam Mendidik Anak

    Kekompakan keluarga dalam mendidik anak bukan saja dilaksanakan sekarang, melainkan jauh ke masa depan.

    Dibaca : 2.317 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Oleh EDI WARSIDI

    DARI dalam kamarnya, Larasti (nama samaran) berteriak jengkel, ”Ayah curang …! Nonton apa hayo itu …! Curang …!” Ibu yang duduk di sisinya meletakkan majalah yang sedang dibaca sembari berusaha menenangkan putri sulungnya itu.

    ”Ayah sedang capek! Kan sudah bekerjaan seharian … Jadi, ayah butuh refreshing. Biarin saja, Larasati belajar sama ibu, ya?” ucap Ibu Siti (juga nama samaran).

    Larasati berhenti mencoret-coret kertas hitungan dan membanting pensilnya dengan kesal. ”Curang itu namanya. Larasati juga capek, sekolah seharian. Tapi toh sekarang harus belajar. Sebentar lagi tidur. Nggak boleh nonton film. Kenapa ayah enak-enak nonton?” Tata (nama yang disamarkan), adik Larasati yang semula belajar di kamar sebelah tiba-tiba sudah berdiri di pintu kamar kakaknya sembari memonyongkan mulutnya, ”Iya, ayah curang. Mau enaknya saja…” Ibu Siti hanya menghela napas, bingung harus memberikan argumen apa. Sementara suara televisi yang ditonton ayah di ruang keluarga terdengar perlahan mengusik telinga.

    Semula ayah, ibu, Larasati, dan Tata sudah membuat kesepakatan bersama mengenai jadwal kegiatan harian dalam keluarga mereka. Salah satunya bahwa seusai Magrib, sudah tidak diperbolehkan menyalakan televisi. Hal itulah saatnya bagi anak-anak untuk belajar. Dan biasanya ibu akan menemani anak-anak sambil membantu memecahkan kesulitan pelajaran yang ditemui.

    Sayangnya, kadangkala ayah diam-diam berkeinginan menonton televisi untuk mengisi waktu luangnya, sembari melepaskan kepenatan badan. Walaupun volume televisi sudah dikecilkan, terdengar lirih dari kamar anak-anak sehingga menimbulkan kecemburuan mereka yang sedang diwajibkan belajar.

    Peristiwa serupa kerap terulang dalam banyak keluarga. Sebagai pemimpin tertinggi keluarga, ayah justru merasa dirinya tidak perlu mengikuti aturan yang ada dalam keluarga. Hal ini tentu saja memancing rasa iri dari anak-anak yang diharuskan mengikuti sekian banyak aturan disiplin keluarga sebab sedang dalam proses ’belajar’. Sementara ayah yang sudah merasa ’panda’ dan sudah tidak perlu belajar lagi, tidak perlu diikat dengan berbagai aturan semacam itu.

    Bukan hanya ayah, ibu dan orang dewasa lain di dalam rumah dapat juga terkena penyakit ini. Merasa dirinya sudah dewasa dan pandai sehingga merasa tidak perlu lagi belajar berdisplin mengikuti aturan-aturan kecil dalam keluarga itu.

    Dalam sebuah tim manajemen, keberhasilannya akan sangat dipengaruhi oleh kualitas kekompakan tim tersebut. Kekompakan ini ditunjukkan oleh kondisi ketika seluruh individu yang bernaung di bawah tim tersebut saling memenuhi kewajiban masing-masing serta menghormati hak-hak yang lainnya. Sementara seluruh lini yang ada di dalam tim manajemen tersebut memiliki jalur yang lancar untuk berkomunikasi, bermusyawarah dan menyatakan pendapat. Jadi, semua individu di dalamnya bersama-sama menjadi subjek yang turut memiliki kepentingan terhadap keberhasilan keluarga.

    Kendala yang sering dihadapi dalam membina kekompakan sebagai berikut.

    Pertama, ayah dan ibu menganggap dirinya lebih istimewa dibandingkan dengan anak sehingga merasa bebas dari berbagai aturan. Mereka hanya membuat aturan untuk dilaksanakan oleh anak-anak. Perasaan istimewa ini timbul dikarenakan usia kedewasaan, posisi sebagai kepala rumah tangga, dan sebagai orang tua serta perasaan pandai sehingga tidak membutuhkan pembelajaran disiplin sebagaimana anak-anak.

    Tentu saja hal itu salah sebab orang tua toh tetap manusia, yang bisa khilaf, bisa salah, dan harus belajar hingga maut menjemput nantinya. Hanya pembelajaran disiplin yang mereka butuhkan berbeda. Bisa saja dibuatkan aturan yang berbeda antara orang tua dan anak jika anak-anak bisa menahami.

    Jika anak belum memahami, lebih baik orang tua mengikhlaskan diri untuk mengalah, menyesuaikan diri dengan disiplin yang berlaku untuk mereka. Karena untuk bisa menepati aturan tersebut, anak memerlukan contoh yang bisa dilihat dan ditiru. Siapa lagi yang pertama kali mereka pandang jika bukan ayah dan ibu? Akan menjadikan konflik batin  dalam diri mereka jika tokoh anutan terdekat ternyata tidak mematuhi aturan yang telah disepakti bersama.

    Kedua, anak-anak dianggap terlalu kecil dan bodoh sehingga tidak diberi kesempatan untuk ikut berpendapat dalam menentukan kebijakan keluarga meskipun untuk permasalahan yang menyangkut kepentingannya sekalipun. Padahal, sebetulnya kemampuan anak-anak itu bisa dikembangkan optimal jika mereka diberi kesempatan.

    Ketiga, ayah dan ibu belum siap menerima kritik dari anak-anak sehingga ketidaksetujuan anak-anak dianggap sebagai pembangkangan dan ketidaktaatan. Memang, banyak kritikan anak-anak didasarkan pada sempitnya pemikiran mereka sehingga terkesan berlebih-lebihan dan tidak masuk akal. Akan tetapi, itulah suara hati mereka yang sebenarnya. Justru melalui kritikan itulah orang tua bisa memahami sebatas mana kemampuan anak memandang persoalan sehingga orang tua bisa menyesuaikan diri nantinya.

    Keempat, karena belum menjadi kebiasaan dan belum merasa membutuhkan, sulit untuk bisa menemukan waktu luang secara rutin ketika seluruh anggota keluarga bisa hadir untuk bermusyawarah. Memulai hal ini memang sulit, tetapi semua akan semakin lancar kelak jika masing-masing anggota keluarga mulai merasakan hasilnya.

    Kelima, ayah sebagai pemimpin tertinggi keluarga belum bisa bekerja sama dengan anggota timnya, sementara ibu dan anak-anak tidak berani menegur. Seperti halnya Ibu Siti yang tidak berani menegur ayah karena kelalaiannya melanggar kesepakatan bersama. Mengapa takut? Karena budaya keliru selama ini yang menganggap ayah begitu terhormatnya sebagai pemimpin keluarga sehingga tidak pantas ditegur walaupun melakukan kesalahan.

    Keenam, ibu sebagai manajer rumah tangga umumnya masih memiliki kemampuan minim sekali. Akibatnya, belum banyak yang mengetahui manfaat membentuk sebuah tim yang kompak dalam rumah tangga. Belum pula menyadari pentingnya permusyawaratan dalam keluarga.

    Bagaimana agar dalam keluarga terbina kekompakan dalam mendidik? Dalam rangka mewujudkan penguatan peran keluarga dalam mendidik anak, enam hal berikut dapat menjadi solusi. Pertama, ada sarana pertemuan secara rutin untuk bermusyawarah. Kedua, karena seluruh personil tim memiliki peran sebagai subjek, semua memiliki hak yang sama untuk menyuarakan pendapat, baik ayah, ibu, maupun anak-anak.

    Ketiga, dalam lingkungan keluarga tersebut harus dikembangkan budaya komunikasi terbuka, yaitu masing-masing bersedia mendengar dan menghormati pendapat yang lainnya serta mengembangkan jiwa kesatria untuk bersedia menerima kritik dari siapa pun. Keempat, setiap persoalan keluarga diambil kebijakan melalui jalan bermusyawarah. Setelah dilakukan upaya maksimal dalam bermusyawarah, putusan akhir diberikan kepada seluruh pemimpin tertinggi dalam keluarga.

    Kelima, dalam hal ini harus diciptakan sebuah kebersamaan dan rasa memiliki sehingga masing-masing pihak akan lebih mementingkan kepentingan bersama. Keenam, sebuah keistimewaan dalam tim manajemen keluarga ini adalah bahwa sang ayah sebagai pemimpin tertinggi meskipun secara umum membawahkan ibu, dalam teknis kehidupan rumah tangga sehari-hari harus menempatkan diri sebagai anggota tim pekerja operasional yang dipimpin oleh ibu sebagai manajer operasional. Dengan demikian, kegiatan keseharian tetap harus mengikuti putusan hasil musyawarah bersama, yang pelaksanaannya diawasi oleh manajer operasional—ibu sebagai manajer rumah tangga.

     Kekompakan keluarga dalam mendidik anak bukan saja dilaksanakan sekarang, melainkan jauh ke masa depan. Bantun dan perlindungan yang diberikan kepada anak-anak itu diarahkan pula agar anak kelak setelah besar dapat melaksanakan tugas hidupnya sebagai insan dewasa. Kekompakan keluarga yang diwujudkan dalam bantuan dan perlindungan kepada anak-anak ini, boleh jadi dimaknai sebagai pendidikan.

    Edi Warsidi, editor yang menaruh minat pada masalah pendidikan

    Ikuti tulisan menarik Edi Warsidi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.