Izinkan Kami Hidup Tenang

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Penggunaan jalur alternatif sebagai alihan jalan utama yang rusak ternyata dapat menimbulkan dampak psikologis, yaitu kurangnya ketenangan hidup warga desa

Jalan merupakan media transportasi yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Sebagian besar manusia menggunakan alat transportasi darat dalam kehidupan sehari-hari. Segala jenis kegiatan manusia ditunjang dengan keberadaan jalan, seperti berpindahnya manusia dari satu daerah ke daerah lain dalam urusan pendidikan, perekonomian, kesehatan dan lain sebagainya. Dengan demikian infrastruksur dan pengelolaan jalan yang baik memiliki peranan penting bagi segala aktivitas manusia.

Infrastrukur dan pengelolaan jalan yang baik dapat mempermudah semua aktivitas manusia. Mulai dari berpindahnya seseorang dari rumah ke tempat belajar atau bekerja sampai pendistribusian berbagai jenis usaha manusia, baik distribusi barang ataupun jasa. Sebaliknya dengan keberadaan infrasruktur dan pengelolaan jalan yang kurang baik, dapat menghambat aktivitas manusia. Bukan hanya kurangnya keamaanan dan kenyamanan pengguna jalan, akan tetapi dapat menimbulkan juga kurangnya keefektifan waktu bahkan kecelakaan.

Infrasruktur dan pengelolaan jalan di beberapa daerah di wilayah Indonesia sudah bisa dikatakan bagus, khususnya di kota-kota besar di Indonesia. Akan tetapi jika kita melihat secara detail, masih banyak pula keadaan jalan yang kurang baik khususnya di daerah pedesaan atau pedalaman di negeri ini, salah satunya ialah keadaan jalan di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Kabupaten Kuningan ialah sebuah kota kecil yang terdapat di daerah pegunungan. Akses yang digunakan untuk menuju ke kota ini tidak selalu mudah dengan keadaan jalan yang berkelok-kelok dan turun naik. Lebih dari itu, beberapa waktu lalu (14/2/16) terjadi bencana longsor di jalan Nasional antara Kuningan-Cikijing, tepatnya di Jalan Cipadung, daerah Sindang Panji, Cikijing. Satu tahun kemudian (17/2/17), bencana longsor terjadi masih di Jalan Nasional Kuningan-Cikijing ini, tepatnya di Jalan Kawah Manuk, Daerah Darma, Kuningan.

Akibat dua peristiwa tersebut, arus lalu lintas dialihkan ke berbagai jalur alternatif. Salah satu jalur alternatif yang biasa digunakan yakni Desa Parung - Desa Gunung Sirah - Cidulang – Cikijing. Jalan tembus antara Desa Gunung Sirah menuju Cidulang ialah jalan yang masih baru dibuka, dengan keadaan jalan yang mulanya sangat bagus dan aman. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, jalan baru ini akhirnya terkikis sedikit demi sedikit oleh banyaknya kendaraan alihan yang melalui lintasan ini, bukan hanya kendaraan seperti motor dan mobil-mobil kecil yang biasa melintas akan tetapi ditambah dengan mobil-mobil besar seperti elf dan truk.

Dampak lain yang ditimbulkan dari adanya jalan alternatif melalui desa-desa ini ialah tumbuhnya kerja sama dan gotong royong antar warga desa. Keadaan jalan yang sempit dan track yang terbilang berbahaya di beberapa titik jalan, memunculkan inisiatif warga untuk berjaga di setiap titik bahaya agar pengguna jalan tetap aman. Selain itu keadaan ini juga dimanfaatkan untuk meningkatkan rasa pro sosial pengguna jalan, bagi mereka yang ingin memberikan sedikit uangnya kepada penjaga jalan tersebut untuk membalas jasa keamanan. Jalur alternatif inipun dapat mempermudah akses warga desa untuk bepergian ke kota, dimana sebelumnya alat transportasi susah didapat di daerah pedesaan tersebut.

Namun demikian, dampak yang ditimbulkan bukan hanya segala hal yang dapat dilihat oleh mata, seperti halnya telah disebutkan di atas. Dampak psikis atau psikologis juga tidak dapat dihindari, khususnya bagi masyarakat yang bertempat tinggal di daerah jalan alternatif tersebut.

Bagi masyarakat desa, kenyamanan dan ketentraman merupakan kunci kehidupan. Bagaimana tidak, sejak lahir masyarakat desa selalu dihadapkan dengan keadaan yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk kehidupan yang biasa ditemui di kota. Kenyamanan dan ketenangan ini diperoleh dari gaya hidup masyarakat desa, dimana masyarakat desa selalu berkativitas pada pagi hingga sore hari dan istirahat ketika menjelang malam. Tidak ada aktivitas di malam hari yang biasa dilakukan, bahkan terjaga di malam hari dengan tujuan yang kurang jelas merupakan hal yang masih tabu bagi masyarakat desa.

Dengan dijadikannya jalan-jalan desa sebagai jalur alternatif, dapat menimbulkan perubahan psikologis pada masyarakat desa yaitu ketenangan dan ketentraman desa yang mulai terancam. Masyarakat desa yang terbiasa dengan suasana sederhana dan tenang, tiba-tiba harus beradaptasi dengan suasana yang ramai dan kurang aman. Warga desa juga harus menjalani hari-hari dengan menghadapi banyaknya kendaraan asing yang melintas, mulai dari menghirup polusi kendaraan hingga harus mendengar kebisingan suara kendaraan hingga malam hari. Waktu yang biasa warga desa gunakan untuk istirahat tetap kurang kondusif akibat kebisingan atau keramaian kendaraan yang melintas. Hal itu dapat menimbulkan kegelisahan, shock, bahkan stres bagi masyarakat yang merasa sangat terganggu secara psikologis tersebut. Dampak psikologis memang tidak dapat dilihat oleh semua orang, maka wajar apabila dampak psikologis ini mudah terabaikan dan tidak segera ditanggulangi.

Dampak negatif yang terjadi baik secara fisik ataupun psikologis dapat dicegah dengan keberadaan infrastruktur dan pengelolaan jalan yang baik. Seperti misalnya membuat jalur jalan utama baru yang aman dan jauh dari resiko bencana longsor serta perawatan  yang baik, agar tidak lagi menggunakan jalan desa sebagai jalur alternatif yang akan menimbulkan dampak-dampak negatif bagi warga. (AZ)

Bagikan Artikel Ini
img-content
Syarah Aisyah Azzahra

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Izinkan Kami Hidup Tenang

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua