Pentingnya Sistem Irigasi sawah - Peristiwa - www.indonesiana.id
x

YOHANA SILVIA ROTUA SIALLAGAN

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Peristiwa
  • Pilihan
  • Pentingnya Sistem Irigasi sawah

    Dibaca : 2.795 kali

     

    Water is essensial..

    Air merupakan kebutuhan primer yang tidak bisa bisa ditawar-tawar lagi. Kebutuhan air sangat penting untuk kehidupan manusia. Air digunakan mulai dari air minum, mencuci, memasak, bahkan mengairi sawah.

    Kalau orang Papua bilang, Sumber air sudah dekat !

    Memang itu jugalah yang terdapat di Pulau Samosir, tepatnya Desa Siallagan. Sumber air memang dekat nan melimpah yang berasal dari Danau Toba. 3 tahun sebelum dibukanya air PAM, masyarakat selalu memanfaatkan air danau Toba untuk berbagai kepentingan. Mulai dari air minum sampai memasak. Bahkan, masyarakat mencuci langsung di pesisir pantai.

     

    Masyarakat tidak pernah kekurangan sumber air. Namun, disisi lain banyak sisi negatif yaitu masyarakat harus turun langsung untuk mengambil air. Saat itu, belum ada akses air ke setiap rumah. Maka, masyarakat yang mandi dan mencuci di kawasan danau Toba adalah hal lumrah yang menjadi pemandangan sehari-hari.

    Zaman semakin berkembang, perlahan pembangunan dijalankan. Perusahaan milik pemerintah memperhatikan masyarakat yang kerap ke tepi danau dan mulai membangun mesin air. Namun, pembangunan ini tentunya memakan waktu. Setelah pembangunan, saluran air tidak langsung dijalankan. Apalagi cuaca di pulau Samosir yang dilanda musim kemarau selama 8 bulan. Jangankan sumber air mengering, masyarakat juga mengalami gagal panen. Semua sawah retak tak berair.

    Fenomena ini lantas menjadi sorotan. Untunglah musim kemarau tidak berkepanjangan. Perlahan tapi pasti, pembangunan saluran air dibangun ke setiap rumah. Untuk membuat saluran air, kami masyarakat harus membayar mahal seharga 1 juta enam ratus ribu rupiah. Itupun bila tidak membedah jalan. Bila membedah jalan harganya bisa sampai 2 jutaan.

    Bayangkan, untuk membuat jalan air harus semahal itu. Sebenarnya, masih banyak masyarakat yang belum memiliki akses air ke rumah mereka. Hal ini terjadi karna biaya administrasi yang besar. Sebagian masyarakat tersebut masih turun ke pantai untuk keperluan air. Namun, pentingnya air mengalahkan semuanya. Toh, kalau tahun depan harganya semakin mahal.

    Air PAM berasal dari Danau Toba. Jadi air yang dikonsumsi masyarakat adalah air asli dari Danau Toba. Setiap bulan, kami harus membayar iuran air. Tergantung seberapa banyak yang digunakan. Penggunaan air PAM sudah berlangsung 2 tahun bagi masyarakat desa Siallagan. Kadang-kadang, bila terjadi masalah terhadap mesin, mau tidak mau  masyarakat harus turun kembali ke pesisir Danau. Seperti pada bulan Februari lalu, mesin air mati dan akses air putus. Penanganan ini harus memakan waktu seminggu, masyarakat harus turun lagi ke pantai. Untunglah, penanganannya tidak langsung lama.

    Kondisi air dari PAM sangat bersih. Bila dilihat dari jarak dekat memang bersih. Air ini juga kami gunakan untuk minum dan keperluan lainnya. Menurut saya, tidak ada yang perlu dikomentari dari kondisi air tersebut.

    Namun, yang menjadi problema dalam kehidupan masyarakat adalah tidak adanya Sistem irigasi sawah. Padahal, mata pencaharian masyarakat sebagian besar adalah bertani. Sawah disini hanya mengharapkan hujan dari langit. Padahal sumber air dari danau Toba cukup dekat dan melimpah. Tidak ada salahnya bila pemerintah membangun irigasi sawah sehingga sawah bisa bereproduksi kembali.

    Jujur saja, biaya untuk membuat sebuah irigasi sangat besar. Tentu masyarakat tidak akan mampu. Pemerintah harus turun tangan untuk membantu masalah dana. Satu-satunya solusi untuk menuntaskan masalah kekeringan yang melanda sawah adalah membuat sistem irigasi.

    Manfaat irigasi juga sangat besar dalam bidang pertanian  yaitu untuk mengairi dan memberikan pasokan air di lahan persawahan, menjamin ketersediaan air ketika musim kemarau, melancarkan aliran air kelahan persawahan, serta untuk membasahi tanah.

    Karna kondisi sawah yang kerap ’gagal panen’, kehidupan masyarakat menjadi imbasnya. Harga beras melonjak tinggi. Bayangkan saya, harga 1 kaleng beras mencapai dua ratus ribu rupiah (200.000). Fenomena ini tentu mencekik warga. Selain itu, pasokan beras terus berkurang dari dalam daerah dan harus didatangkan dari luar daerah. Tak hanya itu, masyarakat juga mengkonsumsi beras ’miskin’ dari pemerintah. Sungguh ironis, walaupun Pulau Samosir disebut kepingan surga, masyarakat masih banyak hidup dalam kemiskinan.

    Bila pemerintah merespon dengan cepat maka harusnya masalah ini cepat di tindaklanjuti. Masyarakat sangat membutuhkan air untuk mengairi sawah. Sebenarnya, sah-sah saja bila pemerintah membangun sistem irigasi dan memanfaatkan air dari Danau Toba untuk keperluan pengairan sawah. Tentu dana yang dibutuhkan tidak terlalu besar. Jarak dari persawahan ke Danau Toba juga tidak terlalu jauh. Namun, kembali ke permasalahan bahwa fasilitas nol dan kesadaran pemerintah juga tidak ada untuk membantu menuntaskan masalah ini. Fasilitas mesin dan penyedot air yang tidak ada menjadikan masalah ini terus berlarut-larut. Entah sampai kapan kekeringan sawah ini akan berakhir.

    Semoga aparat pemerintah peka terhadap kehidupan masyarakat yang semakin susah. Sistem Irigasi harus diadakan untuk membantu para petani mengairi sawah. Semoga, program pengairan sawah cepat diadakan untuk menanggulangi sawah yang kekeringan sehingga masyarakat bisa kembali beraktivitas dan kehidupan masyarakat bisa lebih baik lagi. Begitu besarnya dampak air dalam kehidupan masyarakat. Mari kita gunakan air sebaik-baiknya.

     

     

     

    Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.