x

Iklan

Rinsan Tobing

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Kartini Menderita Karena Kemerdekaannya

Kartini menderita karena kemerdekaannya. Kemerdekaan yang didapatkan dari pendidikan yang dikecapnya.

Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Surat-surat Kartini dipenuhi keluhan, keprihatian, penderitaan dan kesengsaraan yang dialami semasa hidupnya. Penderitaan karena tubuh dan mimpi yang dikungkung. Keinginan yang muncul karena berpandangan luas ternyata menimbulkan kesedihan tersendiri di tengah sistem yang sangat kolot waktu itu.

Dalam surat-suratnya yang dikirim kepada beberapa sahabat penanya, Kartini mengutarakan berbagai pandangannya dalam banyak hal. Banyak hal yang ditolak, ditentang dan ingin diubahnya.

Kartini menolak perbedaan laki-laki dan perempuan dalam masyarakat di jamannya. Perbedaan yang bermuara pada derajat perempuan yang lebih rendah dari laki-laki. Tak ayal, laki-laki dapat melakukan semua kehendaknya, sementara perempuan tidak memiliki kehendak kecuali hanya pasrah.

Iklan
Scroll Untuk Melanjutkan

Kondisi masyarakat yang membedakan laki-laki dan perempuan mengakibatkan perempuan tidak boleh berpendidikan, perempuan tidak boleh bekerja di luar rumah, perempuan tidak boleh menduduki jabatan di masyarakat dan paling parahnya, perempuan tidak boleh memiliki kemauan.

Pemandangan yang tidak adil dan buruknya bayangannya terhadap nasib perempuan yang dikawinkan dengan orang yang tidak dikenal menambah nelangsa yang kian mendera. Kakaknya sendiri sangat memegang adat istiadat bahwa mereka akan berakhir menjadi istri bupati dan menjadi perempuan yang wajib manut kepada suami, seutuhnya.

Sekalipun harus dimadu, dengan barisan selir yang seringnya bersaing untuk mendapatkan kasih sayang suami yang lebih besar. Jamaknya juga, lelaki pasti akan lebih menyukai yang lebih muda. Itu tentunya menambah sengsara perempuan yang menjadi istri tua.

Sudah pasti, tidak ada wanita yang mau dimadu. Tidak ada wanita yang mau berbagi. Jika pun ada, pasti ketidakinginan itu telah ‘dibenamkan’ dalam-dalam sehingga di permukaan tidak tampak. Dalam hati kecilnya, tidak ada yang ingin membagi cinta. Kartini pun memiliki pandangan demikian. Dia tidak ingin menikah. Dia ingin mengubah perkawinan dengan poligami itu.

Akan tetapi, Kartini harus menikah dengan Bupati Rembang dan harus menjadi istri ke-empat. Kartini harus menurut pada perintah orang tuanya. Menolak perintah orang tua adalah aib yang tak tertahankan. Orang tuanya sebagai sebuah ‘kebenaran’ masyarakat, tidak bisa ditolak. Sedikit banyak Kartini melihat bahwa agama yang dianutnya yang memungkinkan itu terjadi.

Dalam suratnya kepada Stella Zeehandelaar pada 6 Novermber 1899, Kartini menyampaikan pandangannya ini. Kartini menuliskan “Benarkah agama itu restu bagi manusia? Tanyaku kerap kali kepada diriku sendiri dengan bimbang hati. Agama harus menjaga kita dari pada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat atas nama agama itu?

Kartini sangat menderita dengan semua keadaan yang dilihatnya. Bahkan pada satu ketika, kondisi yang sangat stress mendorong Kartini melakukan tindakan yang tidak terkirakan. Kartini, seperti diceritakan kepada sahabat penanya Stella, pernah menghempaskan badannya ke pintu ruangan yang tertutup dan dinding batu yang mengelilingi kediamannya. Mungkin Kartini tidak ingin hidup lagi?

 

Awalnya karena Pendidikan

Ayah Kartini memiliki pikiran maju. Hanya ada sedikit yang Bupati yang berpikiran maju pada jaman itu. Ayahnya memberikan pendidikan. Tetapi, hanya hingga Kartini berusia 12 tahun. Setelah itu, Kartini harus manut dipingit. Dikungkung oleh empat dinding tembok yang membatasi dirinya dengan dunia nyata diluar kungkungannya.

Akan tetapi proses belajar menjadikan Kartini membangun kemampuan membaca dan menulis. Sialnya, justru itulah yang mengakibatkan Kartini mengalami kegalauan luar biasa. Semua kejadian yang dialaminya, dikontraskan dengan nilai-nilai yang terdapat dalam bacaan yang semuanya ditulis oleh orang Belanda.

Sistem yang dialaminya, termasuk adat-istiadat yang harus dijalankan, fakta lelaki lebih tinggi dari perempuan, orang tua harus dituruti bahkan hingga pernikahan yang tidak dikehendaki, bertentangan dengan segala sesuatu yang dibacanya.

Bacaan dan imajinasi yang lahir di benak Kartini mendorongnya ingin memiliki sesuatu yang diluar jangkauannya. Kartini ingin seperti teman-teman belajarnya sebelum dia dipingit pada usia 12 tahun. Kartini membayangkan kebebasan yang dimiliki perempuan-perempuan Eropa yang dia kenal. Perempuan yang secara bebas menentukan keinginannya, hendak menjadi apa saja yang dimungkinkan oleh kehidupan.

Seandainya Kartini tidak diperkenalkan kepada pendidikan, mungkin pertentangan yang ada di dalam dirinya tidak akan terjadi. Pengenalan kepada sesuatu yang baru melahirkan perbandingan. Jika tidak sesuai dengan pikiran dan hati nurani, maka terjadi pergolakan yang luar biasa. Inilah yang terjadi dengan Kartini. Pendidikan telah membukakan matanya. Bacaan dan kesempatan untuk bergaul dengan orang Eropa, memberikan pandangan lain soal dunia padanya.

Perempuan Eropa jauh lebih bebas, sesuatu yang diinginkannya. Sementara Kartini melihat perempuan kaumnya hanya akan berakhir di dalam rumah saja, antara tungku dan kamar. Tidak lebih. Tidak berhak atas keinginan dan kemauan. Bayangan akan dunia yang luas dan kebebasan perempuan Eropa dibandingkan dengan kenyataan adat dan istiadat yang mengungkungnya, melahirkan penderitaan yang luar biasa. Ditambah lagi celaan dan hinaan dari saudara dan Ibunya tentang mimpi-mimpi Kartini.

“Perempuan yang sudah dicerdaskan dan pandangannya diperluas tidaklah sanggup hidup dalam adat istiadat nenek moyangnya itu”, kata Kartini. Seperti disampaikannya pada Nona Zeehandelaar pada 23 Agustus 1900 dalam sebuah suratnya.

Dalam hidupnya yang masih muda, Kartini bertahan sementara dengan sengsaranya. Apa yang dilakukannya? Bagaiamana Kartini menahan tekanan dan sengsara yang dideritanya?

Membaca dan Menulis sebagai katup Pembebas

Mungkin karena tekanan yang luar biasa ini, Kartini menyampaikan deritanya kepada para sahabatnya yang orang Belanda dan Jerman. Tidak satupun dari kalangan pribumi, karena memang tidak banyak yang bisa dia sampaikan karena masih sangat sedikit perempuan pribumi yang bisa membaca dan menulis, untuk tidak mengatakan tidak ada.

Membaca dan menulis yang justru menjerumuskannya dalam penderitaan yang tidak berujung, menjadi saluran pembebasnya. Dilakukannya dengan membabi buta untuk melepas ketegangan yang dialaminya.

Bahkan di salah satu suratnya diterangkan bagaimana Kartini membaca dan membaca lagi meskipun tidak mengerti. Kartini ingin keluar dari tubuhnya. Kartini ingin keluar dari kenyataan yang menekannya. Kartini ingin melayang dalam dunia yang disajikan dalam semua majalah dan buku yang dibacaannya

Penderitaan yang mendera akhirnya mendapatkan pelepasan dan katup pengaman yang bisa menenangkan dirinya. Menulis kegalauan yang dimilikinya dan menyampaikannya kepada teman Belandanya, Nona Estelle Zeehandelaar, Mr. Abendanon, Ibu Abendanon yang istri dari Mr. Abendanon, dan juga putranya Mr. Abendanon.

Kartini menumpahkan segalanya dalam surat-suratnya. Semua pertentangan yang ada di dalam hidupnya, terkait pikiran-pikirannya dan ketidaksetujuannya dengan sistem adat istiadat yang berlaku. Mimpi-mimpinya yang ingin mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi. Mimpi yang harus dihempaskannya ketika sudah mendapatkan kesempatannya. Mimpi yang harus dikalahkan oleh sesuatu yang sangat ditentang dan ingin diubahnya. Mimpi yang dikalahkan oleh perkawinan yang ditentukan bukan oleh kemauan dan harus menerima dimadu dalam perkawinan poligamis.

Dan hanya itulah saluran yang digunakan oleh Kartini untuk melemaskan saraf-sarat setelah menyaksikan berbagai masalah yang bertentangan dengan hati nurani dan pikirannya. Membebaskan kehidupannya dari segala perkara yang mengekangnya. Tubuhnya boleh dibatasi oleh tembok, akan tetapi imajinasi dan semua bayangannya tentang kebebasan dan dunia di belahan bumi lainnya, ditumpahkan dalam surat-surat kepada para sahabat penanya.

Membaca dan menulis menjadi seperti sebuah saluran yang melepaskan pikirannya dari tubuhnya. Kemampuan yang memungkinkannya merdeka untuk berkelana kemana saja. Kemerdekaan menciptakan imajinasi dan keinginan-keinginan.  Kartini bisa mencapai apa pun yang diinginkan lewat imajinasi dalam pikirannya. Hingga akhirnya, imajinasi itu berhenti pada usianya yang ke-25. Apakah semua penderitaannya itu yang membuatnya menyerah pada kehidupan di usia yang masih sangat muda itu?

 

Ikuti tulisan menarik Rinsan Tobing lainnya di sini.


Suka dengan apa yang Anda baca?

Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.












Iklan

Terpopuler

Terpopuler