#FESTIVALMENULIS | Perspektif Sejarah di Era Banjir Informasi - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • #FESTIVALMENULIS | Perspektif Sejarah di Era Banjir Informasi

    Pendekatan sejarah dalam menyikapi kompleksitas fenomena masa kini

    Dibaca : 2.707 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Dunia kini memasuki era banjir informasi sebagai konsekuensi dari semakin mutakhirnya teknologi. Lini masa dijejali dengan nada-nada penuh provokasi yang berpotensi mengacaukan khalayak dalam mengajukan persepsi. Jika tak pandai-pandai melakukan seleksi, niscaya kita akan terjebak dalam ruang penuh kontroversi, benar dan salah telah tersimplifikasi dalam sebuah narasi.

    Daya kreasi dituntut untuk selalu hadir ketika kita menceburkan diri dalam lumpur partisispasi. Permasalahan yang begitu pelik, tentu tak akan cukup jika hanya dianalisa mengandalkan daya fiktif belaka. Perlu adanya analisis mendalam dan terstruktur agar kelak kredibilitas narasi yang dihadirkan tak perlu dipertanyakan. Satu perspektif yang layak dikedepankan ialah perspektif sejarah.

    Tentu akan hadir banyak perdebatan. Banyak yang meragukan, bahkan mungkin antipati, jika analisis sejarah dihadirkan. Perspektif sejarah dianggap terlalu usang untuk dapat memecahkan permasalahan kekinian yang semakin kompleks. Kuno dan sudah ketinggalan zaman. Akan tetapi, jika menilik kerja seorang sejarawan, ia tak ubahnya seorang koki dalam menyuguhkan sebuah hidangan. Sang juru masak akan menentukan jenis masakan, mengumpulkan dan memilih bahan terbaik, memasaknya, hingga akhirnya menyajikan karya yang penuh cita rasa untuk dapat dinikmati. Pun demikian dengan seorang sejarawan, ia akan memilih topik, mengumpulkan sumber dan memverifikasinya, menginterpretasi, lalu menuliskannya.

    Lalu, mengapa perspektif sejarah layak untuk dikedepankan?

    Sejarah adalah rekonstruksi masa lalu. Namun, tak berarti narasi yang dihasilkan diperuntukkan untuk kepentingan masa lalu itu sendiri atau antikuarian. Permasalahan masa kini tentu dapat ditelisik akar-akarnya dari sejarah, tak ada asap jikalau tak ada api. Identifikasi akan mempermudah dalam pemecahan sebuah masalah.

    Menurut Kuntowijoyo, dalam bukunya Pengantar Ilmu Sejarah, sejarah memiliki kegunaan, baik intrinsik maupun ekstrinsik. Secara intrinsik narasi sejarah memang hadir untuk menjembatani kita mengetahui masa lampau. Sementara dari segi ekstrinsik sejarah mampu memberikan pendidikan moral, penalaran, politik, kebijakan, perubahan, serta masa depan. Sebuah peristiwa sejarah sarat akan pesan-pesan yang mampu mengilhami seseorang untuk menjadi semakin arif dan bijak dalam bersikap. Kejayaan nusantara era kerajaan, kungkungan kolonialisme yang menyedihkan, nafas kemerdekaan yang tersiar lewat proklamasi, kelihaian Soekarno dalam beretorika, kecerdasan Hatta, kepiawaian Sjahrir dalam bernegosiasi, ataupun kejayaan dan kejatuhan rezim Soeharto dapat diketahui dari narasi sejarah.

    Dari sisi keilmuan, sejarah terus berevolusi. Sejarah tak antipati terhadap pekembangan ilmu sosial lainnya. Pendekatan multidimensional yang ditawarkan Sartono Kartodirdjo hadir untuk menjawab tantangan ini. Bantuan yang berasal dari teori sosial yang sedang berkembang menjadikan sejarah semakin kaya akan perspektif. Ketika filsafat sejarah kristen Zaman Pertengahan mendominasi, hadirlah narasi yang mengungkapkan peran orang-orang suci, atau ketika muncul psikohistori, kejiwaan tokoh-tokoh sejarah hadir dalam sebuah narasi. Jika sebuah peristiwa tak hanya diamati dari atas geladak kapal atau hanya permukaannya saja, tetapi secara lebih mendalam, akan ditemukan kausalitas yang memungkinkan sebuah peristiwa terjadi yang diidentifikasi oleh Carl G. Gustavson sebagai “kekuatan sejarah”, yang meliputi: ekonomi, agama, institusi, teknologi, dan militer. Kesemuanya akan membantu menjadikan sejarah semakin mendekati keutuhannya sebagai sebuah peristiwa.

    Ibarat orang naik kereta menghadap ke belakang, sejarah hanya bisa melihat kebelakang serta samping kanan dan kiri, namun tak dapat melihat kedepan. Akan tetapi, ramalan sejarah memungkinkan seorang sejarawan memperkirakan masa depan berdasarkan historical trend dalam skala makro dan jangka menengah. Sejarah adalah pengulangan pola masa lampau dan dari pola tersebut dapat diperkirakan sesuatu akan bergerak kemana. Masa depan Indonesia dengan kehidupan politik, agama, maupun budayanya dapat diperkirakan dengan mengamati historical trend yang ada. Namun, ramalan sejarah tetap saja penuh dengan ketidakpastian. Banyak hal yang mempengaruhinya, mulai dari perubahan sosial, ekonomi, politik, ataupun kondisi kejiwaan para pelakunya.

    Kompleksitas permasalahan kini akan lebih mudah pemecahannya dengan pendekatan sejarah yang diterapkan. Kredibilitas pada akhirnya dapat dipertanggungjawabkan karena prosedur penelitian sejarah memungkinkan hal itu. Ungkapan “semua ada sejarahnya” akan menyuburkan daya kreasi dalam mengamati sesuatu yang tak melulu dari satu sisi. Sejarah merangkum akar-akar permasalahan masa kini dengan menariknya kebelakang. Masalalu memang selalu aktual.

     

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

     

    Sumber gambar: beli.com

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.