#FESTIVALMENULIS | Mengekor Pram - Analisis - www.indonesiana.id
x

prima dwianto

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • #FESTIVALMENULIS | Mengekor Pram

    Mengekor sensibilitas Pram memotret fenomena sosial

    Dibaca : 1.997 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Saya mengharapkan bahwa apa yang dibaca dari tulisan saya akan memberikan kekuatan pada pembaca saya, memberikan kekuatan untuk tepat berpihak pada yang benar, pada yang adil, pada yang indah.

    (Pramoedya Ananta Toer, Saya ingin Lihat Semua Ini Berakhir).

    Menulis menjadi bukti sebuah perjuangan dari alur spiritual yang dialami oleh seorang Pramoedya Ananta Toer. Sensibilitas terhadap realitas sosial mendarah daging dan terejawantahkan dalam karya-karyanya. Meski seringkali dianggap subversif terhadap kuasa tirani, Pram tetap berpegang teguh pada nilai-nilai yang diyakininya, terwujudnya humanisme.

    Jalan terjal harus ia tapaki dalam karir kepenulisannya. Sebagai sulung dengan delapan orang adik serta datang dari sebuah kota miskin, Blora, pilihan untuk merantau ke Jakarta tentu cukup sulit baginya. Ayahnya kehilangan pekerjaan sebagai guru di Hollands Indische School karena pilihan politiknya, bergabung dengan sekolah Budi Utomo yang antikolonial. Semuanya menjadi semakin sulit. Di sekolah yang dianggap liar oleh pemerintah kolonial tersebut, ayahnya hanya memperoleh gaji tak lebih dari sepersepuluh gajinya semula di sekolah pemerintah. Seringkali ayahnya berjudi dan tak pulang ke rumah untuk menghilangkan kepenatan yang menyesak di kepalanya. Berharap mendapat penghidupan yang lebih baik, Pram mantap melangkahkan kakinya ke Jakarta pasca kematian ibunya, tepat saat nusantara berada dalam cengkeraman saudara tuanya, Jepang.

    Sesampainya di Jakarta, Pram ditampung oleh pamannya Mudigdo di Kemayoran. Ia diterima di kantor berita Jepang Domei sebagai juru ketik. Sebelum resmi diterima, Pram diwawancarai terlebih dahulu oleh direktur Domei. Keterbatasannya dalam penguasaan bahasa Inggris menjadikan Pram hanya mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dengan yes atau no saja. Satu setengah tahun berlalu, Pram mendapatkan pelajaran stenografi dan berkenalan dengan orang-orang yang kelak menjadi pemimpin republik, seperti Soekarno, Hatta, dan Adam Malik. Ia belajar pula kewartawanan. Keinginannya untuk maju menyadarkannya bahwa semuanya dapat dicapai melalui belajar.

    “History is what the ruler inseribes”, sejarah adalah apa yang digoreskan oleh penguasa. Namun, karya-karya Pram membuktikan bahwa kaum proletar yang notabene berada di bawah pengaruh para penguasa memiliki peran dan atensinya sendiri pada alur sejarah. Sensitivitas Pram dalam memotret realitas sosial mengenai nasib rakyat terasah lewat balik jeruji maupun pembuangan, bak universitas baginya, serta kegetiran masa kecilnya melihat kenyataan hidup di sekitarnya yang turut memperuncing ketajaman Pram.

    Disamping magnum opus Tetralogi Buru tentang tumbuhnya nasionalisme nusantara, beberapa karya awal Pram layak dikedepankan. Perburuan, debut roman sastranya, bertutur mengenai kebengisan pendudukan Jepang. Para tokohnya menghadapi dilema moral untuk tetap berteguh hati demi terciptanya Indonesia baru dan menolak kolaborasi untuk menjadi antek jepang. Keluarga Gerilya yang terbit sesudah Perburuan, berkisah tentang partisipasi sebuah keluarga mempertahankan kemerdekaan nusantara dari Belanda, meski dalam keadaan yang tak terlalu beruntung. Karya ini adalah bentuk penghormatan Pram kepada Komandan Wahab yang dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan militer Belanda. Karya awal lainnya, Mereka yang dilumpuhkan, berkisah seputar getirnya pengalaman Pram ketika berada di Bukit Duri dan Pulau Edam, ketika ia harus melakukan kerja paksa.

    Di tengah laju perputaran informasi yang sangat pesat kini, semangat yang ditularkan Pram patut untuk diikuti dengan mengekor pandangan-pandangannya. Media telah begitu jauh didominasi oleh kepentingan-kepentingan politik penguasa yang terfusi di dalamnya. Semangat atas nama kemanusian seakan tak mendapat tempat lagi. Khalayak terpecah kedalam faksi-faksi oleh paparan media yang sarat akan muatan provokasi, kredibilitas akhirnya terkebiri.

    Kekuasaan adalah ladang subur yang harusnya dikritisi. Bukan semata untuk menghadirkan persepsi buruk apalagi stigmatisasi, tetapi menumbuhkan kesadaran para penguasa agar kebijakannya tepat mengena pada kaum papa. Menulis menjadi semacam amunisi dalam arus partisipasi dalam perjalanan negeri ini guna mencari solusi atas pelik dan kompleksnya permasalahan yang menghampiri. Pram yang telah berpulang sebelas tahun lalu (30 April 2006) telah meninggalkan jejak langkahnya, lewat tulisan, bagi generasi kini untuk tetap setia mengkritisi kuasa tirani dengan kepekaan sosial yang tinggi dan tentunya tanpa mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan dan keberpihakan pada kaum proletar.

    PRIMA DWIANTO

    Alumni Jurusan Ilmu Sejarah, FIB, UGM

     

    Sumber gambar: goodreads.com

    Ikuti tulisan menarik prima dwianto lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.