Berwisata Tanpa Menyampah - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Berwisata Tanpa Menyampah

    Dibaca : 1.311 kali

    Judul: Zero Waste Adventure

    Penulis: Siska Nirmala

    Tahun Terbit: 2017

    Penerbit: Expedisi Nol Sampah

    Tebal: v + 111

    ISBN:

    Awalnya terjadi saat lambat-lambat menuruni jalur Sembalun. Siska melihat semak-semak Rinjani yang disisipi sampah. Ia melihat banyak sampah yang ditinggalkan oleh para pendaki yang menyebut dirinya pecinta alam. Ia tersentak, tetapi juga terhenyak. Sebab ia membenci sampah, tetapi ia juga menyadari bahwa di dalam ransel yang dibawanya juga terdapat sejumlah benda yang bisa menjadi sampah. Perjalanan di Rinjani ini adalah sebuah titik pertobatan. Sejak saat itu ia berjanji untuk tidak mengotori gunung yang didakinya. Namun Siska belum tahu bagaimana caranya untuk mendaki gunung tanpa meninggalkan sampah. Baru saat mendaki Semeru, ia memraktikkan gaya mendaki gunung tanpa meinggalkan sampah sama sekali. Zero waste adventure!

    Persoalan sampah memang telah menjadi persoalan dunia modern. Sampah telah menyebabkan banjir, penyakit dan permasalahan lingkungan lainnya. Apalagi setelah penggunaan plastik sebagai kemasan. Plastik yang sangat sulit untuk terdegradasi menjadi sampah yang merusak lingkungan dalam jangka panjang. Berbagai upaya untuk mengurangi penggunaan plastik telah dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk negara. Namun upaya tersebut belum memberi hasil yang signifikan. Saat negara menerapkan kantong plastik berbayar, memang banyak orang yang memikirkan kembali untuk menggunakan kantong plastik saat berbelanja. Namun saat aturan tersebut dicabut, maka perilaku masyarakat kembali seperti semula. Untuk mengurangi sampah, khususnya sampah plastik diperlukan keterlibatan masyarakat secara masif. Perlu sebuah upaya untuk mendidik masyarakat supaya bisa mengurangi penggunaan plastik. Buku yang ditulis oleh Siska Nirmala ini adalah bagian dari pendidikan masyarakat untuk mengurangi menyampah. Setidaknya pendidikan kepada orang-orang muda yang mengaku dirinya sebagai pecinta alam.

    Buku ini memuat pengalaman Siska dan kawan-kawannya memraktikkan zero waste adventure saat mendaki lima gunung. Sebenarnya Siska berencana untuk mendaki sepuluh gunung. Namun akhirnya lima gunung yang terlaksana. Kelima gunung yang telah menjadi saksi perjalanan tanpa sampahnya adalah Gunung Gede, Gunung Tambora, Gunung Papandayan, Gunung Lawu dan Gunung Argopuro.

    Di Gunung Gede Pangrango, ia menyaksikan sampah yang diproduksi oleh para pendaki. Bukan hanya sampah plastik, namun tinja yang mencemari air dari gunung ini juga menjadi permasalahan tersendiri. Siska menunjukkan bahwa sebenarnya kita bisa mendaki gunung tanpa perlu membawa barang-barang yang berpotensi menjadi sampah, seperti kemasan botol minuman, kemasan mie instan dan sebagainya.

    Tak berbeda dengan Gede Pangrango, Tambora juga memiliki permasalahan sampah yang sama. Apalagi Tambora belum ditetapkan sebagai kawasan taman nasional seperti Gede Pangrango. Siska prihatin jika persoalan pengelolaan sampah ini tidak dicermati dari awal, maka penetapan Tambora sebagai tujuan wisata di Nusa Tenggara Barat justru akan merusaknya.

    Sedangkan di Papandayan Siska menyaksikan betapa khidmadnya para pendaki gunung merayakan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Namun para pendaki yang khidmad dan bangga sebagai pecinta alam tersebut ternyata meninggalkan banyak sampah di alam yang dicintainya. Di Gunung Lawu Siska dibuat takjub dengan rumah yang dibuat dari botol bekas minuman. Betapa botol-botol tersebut akan menjadi sampah jika tidak dimanfaatkan. Sampah juga mengotori keindahan dan kemolekan Dewi Rengganis yang menjadi ikon Gunung Argopuro.

    Siska tidak berhenti hanya menggerutu dan memaki. Dia memberi contoh. Di setiap akhir artikelnya ia memberikan tips tentang persiapan untuk mendaki masing-masing gunung tersebut. Ia memberikan daftar jenis makanan dan minuman yang perlu disiapkan tanpa perlu menggunakan plastik, botol kemasan minuman sekali pakai dan plastik kemasan makanan instan. Selain dari sisi kecukupan energi untuk mendaki, Siska juga mempertimbangkan aspek kepraktisannya. Sebab naik gunung adalah kegiatan yang cukup melelahkan, sehingga tanpa persiapan kecukupan makanan dan kepraktisan membawanya akan membuat kerepotan tersendiri.

    Di bab terakhir, Siska melangkah lebih jauh. Ia membagikan pengalamannya dalam memerangi sampah bukan hanya saat mendaki gunung, tetapi dalam hidup sehari-hari. Ia membuat alat untuk mengomposkan sampah organik yang dihasilkannya di rumah. Ia juga mulai meninggalkan minuman kemasan, makanan yang dikemas dalam plastik dan mengurangi membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu diperlukannya. Ia mulai mengurangi membeli baju, sepatu dan barang-barang lain selama ia masih memiliki barang sejenis yang bisa dipakainya. Ia hanya membeli barang yang benar-benar diperlukannya.

    Hidup tanpa sampah adalah sebuah keputusan. Jika keputusan sudah dibuat, maka tidak ada hal berat yang bisa menghalangi. Pengalaman Siska yang tak lagi menggunakan plastik dan mengurangi membeli barang yang tak benar-benar diperlukannya adalah sebuah contoh nyata hidup tanpa menyampah. Jika Siska bisa bagaimana dengan kita? Masihkan kita tak peduli dengan sampah yang kita produksi yang berbahaya bagi lingkungan hidup kita? Siska sudah memulai, mari kita mengikutinya.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.