Kerja Istimewa Bersama, Indonesia yang Berkemanusiaan

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Semboyan Kerja Bersama untuk peringatan 72 tahun kemerdekaan RI tahun ini membawa harapan bisa menghadirkan (kembali) semangat gotong royong royong.

(tulisan untuk hari Kemerdekaan RI dan hari Kemanusiaan Sedunia)

 

“Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna

Terhanyut aku akan nostalgi,Saat kita sering luangkan waktu

Nikmati bersama, Suasana Jogja”(KLA)

 

            Semboyan KERJA BERSAMA untuk peringatan 72 tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun ini membawa harapan bisa menghadirkan (kembali) semangat gotong royong untuk membangun Indonesia menuju masa depan yang lebih baik. Sebuah harapan yang baik, walau sebetulnya Indonesia sudah sedang dan terus akan bekerjasama di desa, kota dan dimanapun juga.

            Kisah dari Yogya yang istimewa membuat kita punya setitik harapan bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang hebat. Orang-orang istimewa ini bukanlah pesohor apalagi politisi kondang yang sedang berusaha merayu pemilih dalam upaya meraih suara elektoral. Mereka adalah rakyat yang kerap tanpa nama dengan ikhlas memberikan yang terbaik untuk mencintai sang ibu pertiwi dengan sepenuh hati.

            Mungkin Sarni sang perempuan muda tidak terlalu berharap apa yang dia lakukan disohorkan oleh media. Namun apa yang dilakukannya sebagai bagian dari rakyat kebanyakan yang bertahan hidup sungguh mengagumkan. Dalam kebersahajaan ia menghidupi keIndonesiaan dengan sentuhan semangat pergerakan warisan sang Pencerah dalam berkarya baik untuk sesama.

            Usaha kecilnya dinamai  Baselog Coffee, tepatnya di depan Pasar Telo menjadi berbeda dengan tempat nongkrong kopi yang lain di Yogyakarta. Para teruna muda yang berkumpul menghabiskan waktu bukan semata melakukan hasrat guyub bersama model anak muda, tapi ada semangat hebat yang memacu kebersamaan disana. Mereka adalah kebanyakan relawan-relawan yang tergabung dalam persyarikatan Muhammadiyah. Kumpul-kumpulnya pun adalah kumpul kerelawanan yang bermakna.

            Tempat yang digagas dan diusahakan oleh mbak Sarni ini mampu menangkap sebuah semangat untuk membuat keberlanjutan model Islam berkemajuan di antara anak-anak muda konstituen penerus KH Ahmad Dahlan. Paling tidak ucapan sang penggagas Muhamadiyah itu dipancangkan dengan jelas di salah satu dinding kafe ini yaitu , “Hadjatnya P.K.O itoe akan menolong kesengsaraan dengan memakai azas agama Islam dengan segala orang, tidak dengan membelah bangsa dan agamanja.”

            Di tempat itulah canda dan guyonan para teruna muda memenuhi ruangan dengan isu-isu kekinian soal bencana dan kemanusiaan yang perlu dilakukan secara bersama. Ditempat itu juga tersemai pemikiran-pemikiran Islam Indonesiawi yang terbuka mau menerima dan bekerja sama dengan semua anak-anak bangsa. Apa yang dilakukan sang pemilik yang juga ketua relawan Muhammadiyah sangat mengena dalam membuat generasi Indonesia hebat yang berkemanusiaan.

            Sudah tentu etika kemanusiaan bukan saja dalam kata-kata belaka. Tak terhitung Sarni terlibat dalam upaya bantuan kemanusiaan baik urusan bencana maupun konflik di Indonesia. Ia menghidupi semangat dan panggilannya sebagai seorang “pencerah” muda dalam praksis seperti ketika murid-murid pertama Kyai Ahmad Dahlan melakukan tafsir praksis Al Maun dalam kehidupan dan karya mereka. Bahkan penjualan kopipun disedekahkan 5% untuk tanggap darurat bencana. Hidup Sarni adalah hidup anak Indonesia yang bekerja bersama secara istimewa

            Di pojok lain kota Yogyakarta, ada juga seorang yang pantas dijadikan contoh kerja bersama tanpa pamrih. Ia saat ini me nekuni kerja harian sebagai penarik becak dan kerap mangkal di depan Gereja Katolik Santo Albertus Magnus  di Kranggan Yogyakarta. Ia mengaku sebagai penganut agama Kristen Katolik yang setia dan pada hari-hari Minggunya dihabiskan mengantar pulang pergi para ibu-ibu sepuh dari dan ke gereja dengan aman.

            Namanya Pak Sutopo, yang tidak malu menarik becak kendati ia seorang pensiunan pegawai sipil TNI AD di Yogya. Ia juga pernah mengenyam pendidikan di di Akademi Seni Rupa Indonesia (sekarang ISI Yogyakarta). Namun 5 tahun terakhir ini ia menggenjot becaknya dengan gembira untuk sebuah semangat yang sangat mulia. Bukan saja sebagai penyedia jasa transportasi, tetapi becaknya ia sediakan sebagai sebuah tempat pembelajaran.

            Mbah Topo, warga Cokrodiningratan, Jetis, Kota Yogyakarta  inimenyediakan bacaan gratis di becaknya. Selain mengangkut penumpang, becak miliknya menjadi perpustakaan berjalan. Semua orang boleh meminjam untuk dibaca, buku-buku yang dibawanya. Mulai dari bacaan ringan yang sekali baca selesai sampai kepada buku filsafat dan sosiologi menjadi bagian dari koleksi perpustakaan berjalan ini. Berbagai buku atau bahan bacaan itu ada yang dari pemberian kenalan. Namun ada sebagian dibeli sendiri oleh Mbah Topo.

         Uniknya di becanya ada tulisan 'Ayo membaca dan Berkah dalem' di bagian depan. Ini adalah bagian dari filsafat yang ia hidupi. Menurutnya,  motivasinya menyediakan buku bacaan karena ingin berbagi. Apalagi dirinya mengaku hobi membaca. "Membaca tidak ada batas waktu," paparnya. Baginya dengan demikian maka ada rasa kepuasan saat ada penumpang meluangkan waktunya untuk membaca. Apalagi ia semakin bahagia ketika  ia mengungkapkan "Anak-anak banyak yang tertarik baca buku,".

            Pak tua yang berusia 70 tahun adalah representai bahwa pensiunan dan berusia tua bukanlah sebuah hambatan untuk berbagi dengan sesama. Roh untuk berbagi itu ia tularkan dengan menyatakan dirinya sebagai Katolik yang taat namun senang membawa “tamu penumpang” siapapun, apalagi bila para pengguna jasanya mau diajak membaca. Baginya pemberitaan makna kasih yang sebenarnya adalah bisa membahagiakan orang lain dan mencerdaskan mereka dengan baik dan benar.

            Kerap ia mengatakan dengan tegas bahwa, “Membaca adalah kebutuhan, jangan pernah berhenti membacakarena dari membaca manusia bisa berkembang mengikuti kemajuan zaman.” Oleh karenanya ia bangga bisa mendukung program pemerintah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan berbagai dengan siapapun yang menjadi pelanggan becak sederhananya. Menjadi tua, pensiunan dan penarik becak tidak menjadikan seseorang berhenti dari karya kebaikan bersama.

            Oh … Yogya memang ISTIMEWA, di kota ini kita dihadapkan pada hebatnya Indonesia menjelang 72 tahun peringatan Indonesia. Di kota ini kita diingatkan heroisme rakyatnya mempertahankan kemerdekaan Negara. Di kota ini juga kita selalu diajar berIndonesia dengan plural dalam suasana kejawaan yang kental. Di Kota Ini jugalah putra terbaik bangsa KH Ahmad Dahlan memulai kiprahnya dalam berbangsa dan mau serta mampu berfastabiqul khoirot dengan Zending Protestan dan misionari Katolik.

            Di Yogya yang istimewa, Indonesia kembali diingatkan bahwa masih ada Sarni dan Sutopo yang menjadi mutiara harapan bangsa kini dan ke depan. Indonesia ada dalam perempuan muda Muslim Muhammadiyah dan laki-laki tua Katolik yang bisa menjadi satu mengisi kemerdekaan bukan dengan slogan apalagi bualan. Merekalah pekerja keras bangsa yang bisa terus menghadirkan KERJA BERSAMA. Siapapun diajak bekerja bersama, siapapun diberkati dan siapapun dianggap sesama manusia yang harus dimartabatkan.

            Terima Kasih Yogya, salam hormat kepada ribuan Sarni dan Sutopo yang terus berjuang untuk keIndonesiaan dan kemanusiaan. Indonesia masih akan hidup 1000 tahun lagi kalau ada teladan kalian, dan sudah tentu ibu Pertiwi sedang tersenyum melihat anak-anaknya menari dengan indah dalam panggilan dan karya yang mereka lakukan.

 

Dirgahayu Indonesia 72 Tahun. Kerja Bersamalah dengan Istimewa.!!!

 

Victor Rembeth (Penikmat Kemanusiaan)2

Bagikan Artikel Ini
img-content
Victor Rembeth

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

img-content

Rabu Abu Rasa Dirty Vote

Selasa, 13 Februari 2024 19:02 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua