Rumah Murah di Jakarta, Bisakah Anies Realisasikan Janjinya? - Analisa - www.indonesiana.id
x

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Rumah Murah di Jakarta, Bisakah Anies Realisasikan Janjinya?

    Dibaca : 1.090 kali

    Perumahan yang terjangkau merupakan tantangan terbesar bagi perkotaan  di seluruh dunia saat ini. Permintaan akan perumahan yang terjangkau dan memadai di perkotaan sangat besar, namun ketersediaan perumahan terbatas, terutama untuk kelompok menengah ke bawah.

    Laju kenaikan harga perumahan berjalan lebih cepat dibanding kenaikan pendapatan. Harga perumahan di Jakarta, misalnya, naik sekitar 18 persen per tahun. Sementara itu, rata-rata pendapatan kelas pekerja di Jakarta meningkat 10 sampai 12 persen per tahun. Terdapat kesenjangan antara harga dan kemampuan membeli rumah. Selain perbedaan laju harga dan pendapatan, sebab lainnya adalah anggapan atau perlakuan rumah sebagai komoditas bukan sebagai kebutuhan atau hak asasi manusia yang harus difasilitasi negara. Sebagai komoditas, orang yang memiliki dana cenderung membeli lebih dari satu rumah sebagai investasi. Sebaliknya, tak sedikit warga kota yang tak punya dana dan tak memiliki akses cukup untuk membeli rumah.

    Di Jakarta dan kota-kota besar lain, para spekulan properti memperparah situasi. Mereka berkolusi dengan pejabat, pengusaha, dan memicu harga rumah hingga naik tak terkendali. Pembangunan perumahan juga seringkali berada jauh dari pusat kota yang harga tanahnya masih relatif  murah. Akibatnya, masyarakat harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk bekerja, suatu hal yang menyita energi dan daya produktivitas warga.

    Keterbatasan penyediaan perumahan terjangkau juga menyuburkan pemukiman liar. Tepian sungai, di bawah jalan layang, di samping rel kereta api, menjadi tempat-tempat subur bagi kelompok berpendapatan rendah untuk mendirikan rumah. Pemukiman ini sering menjadi sasaran penggusuran dan juga menyebabkan kekerasan. Di sisi lain kota Jakarta telah menjadi wilayah perkantoran mahal dan apartemen mewah, sementara perkampungan hilang dari lanskap perkotaan; sehingga penduduknya pindah ke pinggiran. Dengan hilangnya perkampungan maka begitu juga dengan jaringan dan komunikasi sosial serta prinsip gotong royong yang biasa diterapkan di perkampungan.

    Gubernur terpilih DKI Jakarta Anies Baswedan telah berjanji kepada masyarakat untuk mengakhiri penggusuran. Dalam kampanye, Anies Baswedan juga berjanji memastikan akses mendapatkan perumahan yang terjangkau melalui program perumahan dengan uang muka Rp 0. Sejauh mana janji ini bisa terpenuhi, masih menjadi pertanyaan besar. Terobosan apa yang hendak diterapkan Gubernur Terpilih untuk menjalankan program rumah dengan uang muka Rp 0, masih dinantikan penduduk Jakarta.

    Pemerintah Indonesia pun telah melakukan banyak upaya untuk mengurangi masalah ini, antara lain melalui program pembiayaan dan pengembangan. Seperti, Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), Pembangunan Perumahan Khusus, Rusunawa (program pembangunan apartemen dengan biaya rendah), rumah mandiri, dan program pembangunan satu juta rumah.

    Tempo Institute, Friedrich Ebert Stiftung, Rujak Center, Indonesiana, Universitas Indonesia, dan Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mengadakan Diskusi Publik Perumahan Terjangkau dan Memadai.

    Diskusi akan digelar pada:  

    Rabu, 20 September 2017 pukul 12.00 (diawali dengan makan siang)

    Di Lantai 5 Gedung Tempo Jalan Palmerah Barat 8 Jakarta

    Pembicara: Leilani Farha (pelapor khusus PBB untuk perumahan memadai)

    Penanggap: 1. Thomas Meyer (pengamat politik Jerman)

                          2. Faisal Basri (pengamat ekonomi dan Universitas Indonesia)

                          3. Marco Kusumawijaya (pendiri kelompok studi urban Rujak Center)

                          4. Retno Sulistyowat (redaktur Ekonomi Tempo)

    Kami mengundang Anda untuk hadir dalam diskusi. Jangan lupa mendaftar dulu melalui whatsapp ke nomor yang sudah dicantumkan. Tempat terbatas.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.