Perang Ide dan Film Religi ~ Nurman Hakim - Analisa - www.indonesiana.id
x

Indonesiana

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Perang Ide dan Film Religi ~ Nurman Hakim

    Dibaca : 949 kali

    Nurman Hakim

    Sutradara film

    Radikalisme Islam lahir dari suatu kondisi sosial-politik dan keagamaan: egoisme dalam membentuk identitas keislaman, pemurnian ajaran Islam, ideologi anti-Barat, dan penegakan hukum yang lemah. Lalu, dari mana kondisi ini mempengaruhi tumbuh-kembangnya radikalisme?

    Ini bermula dari pertarungan wacana di antara dua kelompok: Islam modernis toleran dan kelompok Islamis (Salafi, Wahabi). Ajaran kelompok pertama bersifat inklusif, toleran, dan mengakomodasi budaya setempat dan kontekstual dalam menafsirkan teks-teks Al-Quran dan hadis. Kelompok kedua bersifat eksklusif, meyakini bahwa ajaran Islam versi mereka adalah paling benar, di luar tafsir mereka adalah salah dan bahkan bisa dikafirkan.

    Kelompok Islamis ini, pada level paling “halus” sekalipun, telah menciptakan akar dan pijakan untuk radikalisme tumbuh. Ibarat sebuah gunung yang berada di dasar laut, wacana dari kelompok Islamis ini adalah dasar dari gunung yang tertutup oleh air laut, sementara bagian yang tampak di permukaan laut, itulah radikalisme, dan bagian puncaknya adalah terorisme. Kita hampir tidak melihat dasar dari gunung itu karena tertutup permukaan air laut.

    Pada 1980-an berkembang pemikiran intelektual muslim berpandangan Islam inklusif (modernis toleran dan pluralis). Yang paling menonjol adalah KH Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid. Pada dekade itu, wacana Islam arus utama dikuasai oleh kelompok modernis toleran. Kehidupan “berislam” cukup stabil saat itu. Tapi, pasca-reformasi, peta kuasa wacana Islam bergeser sejak berkembangnya Hizbut Tahrir Indonesia dan kelompok sejenisnya beserta para “pendukungnya” yang membawa wacana Islam eksklusif.

    Bagaimana mereka mampu menggeser peta kuasa wacana itu? Variabelnya cukup banyak. Yang signifikan adalah penggunaan berbagai media: situs web, selebaran di masjid, buku, berita palsu yang berseliweran di media sosial, acara televisi, hingga film-film religi (film bertema atau berlatar belakang Islam). Inilah yang disebut dengan istilah harb al afkar atauperang ide. “Pertarungan antara dogma religius, pada hakikatnya ini adalah perang ide, bisa jadi ide keimanan atau kekufuran yang menang,” kata Sayid Qutb, yang dikutip oleh Bassam Tibi dalam bukunya, Islamism and Islam. Sayid Qutb adalah pemikir kelompok garis keras Ikhwanul Muslimin. Dalam konteks global, kita harus menyadari bahwa perang ide itu masih berlangsung dan berujung pada suatu agenda besar, yaitu kendali atas kekuasaan politik negara. Hal itu pernah terbukti di Mesir dan Aljazair.

    Lalu, mengapa film-film religi termasuk bagian dari pertarungan itu? Film adalah representasi dari masyarakat dan zamannya. Film menggambarkan situasi sosial-politik, budaya, ideologi, dan keagamaan suatu masyarakat. Seorang pembuat film, sengaja atau tidak, menyerap keadaan ini. Dan, ini terendap ke dalam ruang-ruang kesadaran dan ruang bawah sadarnya. Ketika mencipta sebuah dunia di dalam film, ia akan merepresentasikan semua yang telah diserap itu. Kita akan bisa membaca pandangan keagamaannya pada film yang dicipta.

    Begitu banyak film-film religi kita selalu bicara hitam-putih, yang merepresentasikan Islam eksklusif. Islam ditampilkan secara dangkal dan penuh dengan dogma-dogma keagamaan. Narasi film yang dibangun seolah menyampaikan tafsir Al-Quran dan hadis yang paling benar.

    Narasi poligami hadir untuk mengkampanyekan poligami dan mencari segala pembenarannya, yang terkesan menggampangkan. Seorang laki-laki saleh digandrungi wanita-wanita cantik, tokoh protagonis yang bicara seolah dirinya suci tanpa dosa, dan lain sebagainya. Pada beberapa film religi yang diniatkan berbicara soal Islam toleran, sayangnya itu malah terpeleset menjadi verbal dan menjemukan.

    Jutaan penonton menikmati dan menyetujui model Islam yang dihadirkan dalam film religi jenis ini, yang mereka anggap paling “Islamis”. Bahkan, mereka ingin memformulasikan seperti apa sesungguhnya film religi yang benar itu menurut versi mereka. Sebuah film religi yang pernah saya buat mendapat hujatan dari kelompok “Islamis” ini karena tokoh perempuannya menggunakan kerudung yang tampak sedikit rambut di bagian depannya. Ini tidak syar’i! (mengikuti syariat Islam), menurut mereka.

    Dari sini terbaca bahwa kelompok Islamis telah memegang kendali atas pertarungan wacana Islam di Indonesia dengan pengikut yang semakin banyak, seperti halnya film-film religi “Islamis” yang banyak digemari. Para penonton telah menemukan cermin yang menampakkan wajah mereka sendiri pada film-film religi “Islamis” itu, yang turut andil menyuburkan dan memberi fondasi pada gunung bawah laut yang saya analogikan di atas.

    [*]


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.