Menilik Progres Megaproyek 35.000 Megawatt

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Sudah sejauh manakah perkembangan megaproyek 35.000 Megawatt (MW) yang sudah diluncurkan pada awal bulan mei 2015 yang lalu?

Presiden Joko Widodo telah meluncurkan program pembangunan pembangkit listrik 35.000 MW pada Mei 2015 lalu. Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Publik Kementerian ESDM Dadan Kusdiana seperti dilansir Bisnis.com (22/10/2017) mengatakan, "Pemerintah melaksanakan Program Percepatan Pembangunan Pembangkit Listrik 35.000 Megawatt (Program 35.000 MW). Arahan Presiden Joko Widodo agar proyek 35.000 MW ini terus dijalankan dan telah terkontrak seluruhnya pada tahun 2019. Ditargetkan sekitar 17.000 MW harus selesai pada akhir 2019,”

Sebesar 773 MW pembangkit listrik telah beroperasi secara komersial hingga September 2017. 15.266 MW tengah dalam tahap konstruksi dan 10.255 MW telah melakukan perjanjian jual beli listrik (Power Purchase Agreement/PPA).

Sebesar 4.563 MW dalam proses pengadaan dan 6.970 MW dalam tahap perencanaan. Progres Proyek 35.000 MW yang dibangun PLN, 1.168 MW telah Commercial Operation Date (COD), 5.205 MW dalam tahap konstruksi, 5.884 MW dalam tahap perencanaan dan pengadaan. Sementara yang dibangun oleh IPP, 605 MW telah COD, 10.061 MW dalam tahap konstruksi.

Di luar program 35.000 MW, ada tambahan kapasitas pembangkit listrik sebesar 480 MW yang telah beroperasi. Tambahan dari Marine Vessel Power Plant (MVPP) Sewa Amurang 120 MW, MVPP Sewa Sumut 240 MW, dan MVPP Sewa Kupang 60 MW dan MVPP Sewa Ambon 60 MW. Di Kepri, 33 desa dari 104 desa yang belum mendapat aliran listrik PLN ditargetkan sudah bisa menikmati aliran itu pada tahun ini. 71 desa yang tersisa diharapkan sudah teraliri listrik pada tahun depan.

Disejumlah daerah, cadangan listrik saat ini sudah cukup besar sehingga yang tadinya mengalami defisit, kini mulai surplus pasokan listrik. Sebagai contoh, di Jawa cadangan listrik kini mencapai 7.432 MW. Di Sumatera bagian utara cadangan listrik tersedia hingga 413 MW, dan di Sumatera bagian selatan cadangannya mencapai 531 MW.

Sementara itu, di beberapa daerah, cadangan listrik kini bahkan mencapai 30% hingga 50%. Bangka-Belitung (Babel) yang kini cadangan listriknya surplus 30 %. Kondisi ini jauh lebih baik dibanding tahun 2014 di mana defisit listrik mencapai 15%. Nias yang pada 2014 hanya surplus 1% kini cadangan listriknya melonjak hingga 54%. Hal yang sama terjadi di sistem besar di Kalimantan serta kawasan timur Indonesia.

Peluang Investasi

Peluang-peluang investasi pun akan semakin terbuka, mendorong pertumbuhan dan pemerataan ekonomi di seluruh nusantara. Daerah-daerah telah siap menampung masuknya investor, seperti Ambon yang kini sudah mengantongi cadangan listrik lebih dari 100 %. Bertambahnya cadangan menjadi peluang bagi daerah-daerah untuk membuka pintu bagi masuknya investasi baru. Investor diyakini akan semakin rajin mengintai potensi-potensi bisnis di daerah-daerah setelah kini pasokan energi tak lagi menjadi kendala.

Laporan Bank Dunia Indonesia didapuk sebagai satu dari 10 negara dengan kenaikan terbesar pada peringkat kemudahan berbisnis. Peringkat negara ini naik dari 106 menjadi 91. Arus investasi dan ekspor juga berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan masih dalam kisaran 5,0-5,4 persen pada 2017.

Sepanjang Januari-September 2017, PT PLN (Persero) mencetak kenaikan penjualan listrik nasional 3,1%. Laporan PLN juga menyebutkan terjadinya kenaikan penjualan listrik 2,8% di wilayah Jawa Bagian Barat. PLN Distribusi Banten bahkan mencatatkan kenaikan hingga 6,7%. Sementara penjualan listrik PLN Disjaya tumbuh sebesar 0,4%.

PLTU dan RUPTL 2018

Pemerintah akan memprioritaskan pengerjaan PLTU mulai tahun depan. Hal ini tercantum dalam rencana usaha penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2018-2027. Hal ini pun langsung disambut baik Cirebon Power dengan turut mengapresiasi kinerja baik pemerintah Indonesia dari tahun ke tahun untuk mewujudkan konsumsi litrik merata di Indonesia. PT Cirebon Power menyatakan target proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap Cirebon unit II Expansion tetap beroperasi di 2021. Pembangkit berkapasitas 1.000 megawatt (MW) itu merupakan bagian dari proyek ketenagalistrikan 35.000 MW.

Head of Communication PT Cirebon Energi Prasarana Yuda Panjaitan mengatakan progres pembangunan saat ini dalam tahap pemadatan lahan alias land improvement. Dibilang pengerjaan lahan itu ditargetkan semester kedua 2018. Setelah itu tahapan konstruksi dimulai. "Kami optimistis target beroperasi di 2021," kata Yuda seperti dilansir Beritasatu.com (2/10/2017).

Dikatakannya PLTU Unit 2 akan menggunakan batubara kalori rendah yakni 4000-4600 kkal/kg. Dia menjelaskan pembangkit ini menggunakan teknologi ultra super critical dengan efisiensi tinggi dan lebih ramah lingkungan. Teknologi ramah lingkungan, lanjut Yuda, sudah diterapkan pada PLTU unit satu. Pembangkit berkapasitas 660 MW itu menggunakan dengan teknologi Super Critical Boiler. "Penggunaan teknologi ini menjaga tingkat emisi selalu jauh di bawah regulasi yang ditetapkan pemerintah," ujarnya.

Listrik akan membuka peradaban, meningkatkan pertumbuhan dan perekonomian masyarakat. Seluruh masyarakat Indonesia harus dapat menikmati listrik, tidak ada lagi masyarakat yang mengalami krisis listrik di provinsi mana pun di Indonesia. SAATNYA MERDEKA DARI GELAP !!

 

 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Rika Fedrika

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
Lihat semua