Secangkir Kopi Hangat di Tahun Politik - Analisa - www.indonesiana.id
x

Nino Fernandez di kedai kopi miliknya, Di Bawah Tangga. Tabloidbintang.com/Ryan

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisa
  • Berita Utama
  • Secangkir Kopi Hangat di Tahun Politik

    Secangkir kopi hangat perlu disiapkan untuk meredakan ketegangan yang berpotensi terjadi sepanjang Tahun Politik.

    Dibaca : 2.043 kali

     

    Setelah sempat ‘berbalas cuitan’ di twitter, Wagub Jabar Deddy Mizwar dan politikus PKS Hidayat Nur Wahid (HNW) sepakat akan minum kopi bareng, entah kapan. Inilah cara yang lebih pas untuk mengakhiri debat di muka publik yang cenderung mendorong siapapun untuk ‘ingin tampak lebih benar’. Perselisihan di muka publik lebih sering memperlihatkan keengganan masing-masing pihak untuk melihat adanya kebenaran di pihak lain.

    Bukankah ada cara lain untuk menyelesaikan perbedaan pandangan selain di media sosial? Mereka sudah memilih: mengakhiri bertukar pantun di twitter dan sepakat untuk minum kopi bareng. “Semua masalah memang biasanya hanyalah masalah komunikasi saja J,” tulis Deddy Mizwar di akun twitternya. Dengan cuitannya ini, ‘Jenderal Nagabonar’ berusaha meredakan ketegangan relasinya dengan politikus PKS itu.

    Dan twitter, seperti halnya media sosial lain, memiliki kelemahan. Sebagai sarana komunikasi, pernyataan yang ringkas tidak mampu menyampaikan pesan orang-orang yang berkomunikasi secara utuh. Intonasi, irama ucapan, gerak anggota tubuh, maupun raut wajah jelas tidak terungkapkan. Emoticon, betapapun, tidak sepenuhnya andal untuk mewakili suasana hati orang yang menyampaikan pesan. Seseorang bisa saja mengirim emoticon ‘tersenyum’ padahal ia memijit tombom hapenya sembari ngedumel.

    Secangkir kopi hangat, karena itu, merupakan jalan keluar yang lebih bagus dibandingkan dengan berbalas cuitan di twitter. Kehangatan kopi dan aromanya yang khas berkontribusi dalam meredakan ketegangan. Kopi bukanlah alkohol yang justru melencengkan pikiran dan kesadaran peminumnya.

    Di tengah udara yang cukup dingin, kopi hangat adalah pilihan yang tepat sebagai teman untuk membicarakan hal-hal yang telah menimbulkan kesimpangsiuran maupun mengeruhkan hubungan. Ngobrol tatap muka dengan ditemani kopi hangat berpotensi menjernihkan persoalan yang dari jauh terlihat begitu rumit. Kopi adalah pilihan yang tepat untuk ngobrol tentang hal-hal yang belum disepakati. Walaupun bila setelah menghabiskan dua-tiga cangkir kopi, perbedaan belum juga dapat diatasi, setidaknya kesepakatan untuk saling menghargai pandangan masing-masing bisa dicapai.

    Secangkir kopi hangat memang bukan obat, melainkan stimulan yang mampu mendorong sosok-sosok kreatif untuk melahirkan sesuatu yang bernas. Minum kopi bersama teman layaknya menangkap kebahagiaan dan menyimpannya dalam sebuah cangkir. Memang, tak semua kopi akan terasa enak disesap—tergantung jenisnya, mengolahnya, menyeduhnya, maupun menyajikannnya. Namun, seperti kata sinematograf David Lynch, “Kopi buruk sekalipun masih lebih baik ketimbang tidak ada kopi sama sekali.”

    Maka, dalam konteks Tahun Politik yang mulai menghangat ini, secangkir kopi hangat niscaya dapat jadi pilihan yang bagus untuk meredakan ketegangan di antara politikus. Tak perlulah memanas-manasi warga masyarakat dengan mengumbar cuitan di twitter maupun di media sosial lain. Baiknya mah, Tahun Politik diikhtiarkan agar berjalan lancar tanpa ketegangan berlebihan seperti sudah kita ambil pelajarannya dari pilpres dan pilkada yang lalu. Rencana Deddy Mizwar dan HNW untuk ngopi bareng sudah menunjukkan bahwa kemauan menahan diri untuk menang sendiri sungguh diperlukan sebagai bagian dari proses pendewasaan dalam berpolitik. **



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.