Mencari Akar Kemuduran Al-Khairiyah Citangkil (1) - Analisa - www.indonesiana.id
x

kang Nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mencari Akar Kemuduran Al-Khairiyah Citangkil (1)

    Dibaca : 2.976 kali

    Ketika matahari mulai menampakkan wajahnya diufuk Timur, barisan siswi berkerudung putih, kadang berbarengan dengan siswa berpeci lusuh  berkain sarung, berjalan (kaki) menyusuri rel kereta api dan jalan kampung. Mereka adalah para siswi/siswa atau santri/santriwati yang hendak sekolah ke Madrasah Al-Khairiyah Citangkil.

    Pemandangan seperti ini  tak akan ditemui jaman sekarang lantaran  itu terjadi antara tahun enam puluhan  hingga tujuh puluhan silam saat Madrasah Al-Khairiyah sedang mengalami masa keemasan alias masa kejayaan.  Al-Khairiayah merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Islam yang menurut Zamksyari Dhofier merupakan salah satu Pusat Pesantren di Jawa pada abad 20.

    Al-Khairiayah  didirikan KH (Ki) Syam’un pada tahun 2016 di Kampung Citangkil Cilegon, pada awalnya berbentuk Pesantren yang pengajarannya masih menggunakan sitsem sorogan sebagai ciri has pendidikan tradisional, namanya Pesantren Citangkil.   Pada 5 Mei 1925,  berubah menjadi model pendidikan  modern  dengan sistem Madrasah, namanya-pun berubah menjadi Madrasah Al-Khairiyah. Al-Khairiyah Citangkil mencapai puncaknya hingga pertengahan tahun tujuh puluhan, adapun setelah itu, bisa dibilang Al-Khairiyah Citangkil  mengalami kemunduran.

    Ki Syam’un adalah cucu dari tokoh pemberontakan yang terkenal di Banten pada abad 19 yakni Pemberontakan Geger Cilegon atau Pemberontakan Petani Banten 1888 yakni Ki Wasid sebagaimana telah dibukukan oleh Sartono Kartodirjo. Ia bukan hanya seorang Ulama, tapi juga seorang militer  sekaligus Bupati.

    Karir militernya dimulai pada zaman jepang ia adalah Dai Dan Tyo PETA, setelah merdeka, ia sebagai Komandan TKR kemudian menjadi Komandan Divisi 1 Siliwangi dengan pangkat Kolonel. Berbarengan dengan itu, diangkat menjadi Bupati Serang dan tercatat sebagai Bupati Serang yang pertama pasca Kemerdekaan menggantikan Bupati Hilman Jayadiningrat yang didaulat rakyat. Ki Syam’un   meninggal dunia pada saat gerilya menghadapi Agresi Belanda pada tahun 1948, karena jasa jasanya diberikan pangkat anumerta Birigadir Jendral dimakamkan di kampung Kamasan Kab.Serang.

    Dalam konteks sosiologis, kejayaan Al-Khairiyah dipengaruhi oleh adanya peran sentral dari para pengasuh yang disebut Kyai. Kyai atau dalam bahasa yang lebih umum disebut ulama, mempunyai peran setrategis dalam pengembangan Pendidikan Islam baik yang tradisional maupun yang modern.

    Seperti ditulis oleh Zamaksyari Dhofier, kedudukan Kyai dalam struktur masyarakat dianggap punya status yang tinggi, bahkan oleh banyak kalangan Kyai dipandang sebagai simbul prestise social. Dalam konteks relasi sosial, Kyai punya jaringan atau hubungan yang amat luas, tidak terbatas pada geografis dimana kyai itu bertempat tinggal.  Relasi seperti ini bisa dilacak dari adanya hubungan yang sangat erat (nasab). Nasab bisa karena factor hubungan keilmuan maupun geneologis.

    Hubungan keilmuan, sebagaimana saya maksud adalah dipengaruhi oleh satu nasab yang sama dalam mempelajari Ilmu Agama, misalnya beberapa kyai dalam mempelajari Ilmu Agama, berguru kepada seorang Ulama yang  sama. Jika ini yang terjadi, meski kyai itu tersebar di beberapa daerah, tetap mempunyai hubungan yang erat dan dijadikan sebagai silsilah keguruan hingga turun temurun kepada murid murid dari para kyai itu.

    Adapun  hubungan geneologis bisa karena  keturunan langsung atau karena hubungan kekerabatan. Hubungan kekerabatan  terjadi manakala seorang kiyai kemudian berbesan dengan Kyai yang lain, baik didaerahnya sendiri maupun dengan kyai yang diluar daerah. Hubungan geneologis ini, bisa juga karena factor guru dan murid, tidak sedikit seorang murid kemudian dijadikan menantu oleh gurunya.

    Adanya relasi dalam konteks kepemimpinan Kyai, telah menunjukkan sebuah model kepempinan yang disebut  kepemimpinan Kharismatik. Seorang guru ditempatkan sebagai seorang yang punya kharisma, bahkan bisa dianggap sebagai seorang wali yang punya kekuatan lebih  bukan hanya  penguasaan ilmu agamanya tapi juga berkaitan dengan karomah, oleh karena itu, seorang murid atau masyarakat akan selalu taat dan tunduk terhadap ajaran yang diberikan oleh gurunya ( Kyai).

    Harus diingat bahwa Madrasah Al-Khairiyah bisa berkembang dan mempunyai cabang Madrasah dihampir seluruh penjuru Banten bahkan hingga ke Jakarta dan Lampung  dipengaruhi oleh factor nasab tadi, baik yang berkaitan dengan nasab keilmuan maupun geneologis.

    Faktor nasab keilmuan bisa dirunut dan diawali adanya kharisma Ki Syam’un yang banyak mempunyai murid yang taat dan selalu tunduk kepada Ki.Syam’un. Murid murid Ki Syam’un inilah yang kemudian menjadi pengasuh atau guru di Al-Khairiyah Citangkil setelah Ki Syam’un meninggal dunia. Bukan hanya itu, murid murid Al-Khairiyah baik yang berguru langsung dengan Ki Syam’un atau yang berguru kepada murid murid Ki Syam’un, ketika sudah menamatkan pendidikannya di Al-Khairiyah, mereka pulang kampung dan mendirikan Madrasah dengan nama yang sama yakni Al-Khairiyah.

    Dari nasab geneologis, bisa dilihat misalnya, Kyai Ali Jaya sebagai salah satu murid utama Ki Syam’un, kemudian mengambil menantu salah seorang putra Ki Syam’un yakni H. Fatullah Syam’un. Prof. Sadeli Hasan, yang merupakan murid Ki Syam’un mempunyai murid bernama Wahab Afif, orangnya cerdas dalam penguasaan ilmu agama hingga ahirnya kuliah di Al-Azhar Cairo serta memperoleh gelar Profesor  diambil menantu oleh Prof. Sadeli Hasan.

    Sungguh sangat disayangkan, Lembaga Pendidikan Islam yang dulu bernama Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil dan telah melahirkan tokoh Islam terkemuka di Banten  seperti  KH. Alijaya, KH Abu Bakar, KH. Syibromelisi, KH Juhri, KH Kurtubi Jannah serta para  intelektual/cendikiawan Islam  seperti Prof. Sadeli Hasan, Prof Wahab Afif, Prof. Amin Suma, Prof, Syibli S, Prof. A.Thihami, Prof. Fauzul Imam dan lainnya, bahkan  telah melahirkan seorang Pahlawan Nasional  Ki Fatah Hasan, harus mengalami kemunduran.

    Kita tahu bahwa setelah  Ki Syam’un meninggal dunia pada tahun 1948, penyelenggaraan pendidikan di Al-Khairiyah praktis diasuh dan dijalankan oleh para Kyai,  rata rata adalah murid Ki Syam’un. Seiring dengan perkembangan zaman, untuk menyelenggarakan pendidikan, secara kelembagaan di buat struktur kepengurusan yang di sebut Pengurus Besar (PB) Al-Khairiyah. Pada Kongres/Muktamar Perguruan Islam Alhairiyah tahun 1955 untuk pertama kalinya terpilih sebagai Ketua PB Al-Khairiyah adalah Prof.Sadeli Hasan,  adapun Madrasah madrasah Al-Kairiyah diluar Citangkil disebut Cabang.

    Diakui atau tidak, ini merupakan sebuah fakta sejarah yang harus dicatat. Sejarah harus ditempatkan pada posisi yang objektif dan tidak harus ditutup-tutupi agar  para alumni atau murid murid generasi sekarang mengetahui apa  sebenarnya yang terjadi dalam proses perjalanan Al-Khairiyah hingga Madrasah Al-Kairiyah berada dipersimpangan jalan.

    Sebagai alumni Al-Khairiyah, saya mencatat bahwa bibit dari keterpurukan Al-Khairiyah  Citangkil dalam pengembangan pendidikan, dipicu oleh adanya ambisi negara yang ingin memperkuat ekonomi dengan mencabut akar budaya yang sudah mengakar, beberapa kampung yang ada di Cilegon termasuk Pusat Pendidikan Perguruan Islam Al-Khairiyah Citangkil yang saat itu sedang mengalami kejayaan, harus direlokasi untuk kepentingan Pabrik Baja PT Krakatau Steel pada era tujuh puluhan.

    Dengan adanya pembebasan lahan dan Komplek Pesantren Al-Khairiyah Citangkil, PT Krakatau Steel sanggup mengganti semua asset Al-Khairiyah. Tahap selanjutnya dilaksanakan  pembangunan  komplek atau biasa disebut Kampus Al-Khairiyah yang terletak di Tegal Cabe Desa Ramanuju berdasarkan SK Gubernur Jawa Barat  No. 336/A I/2/SK/1973. Pembangunan Kampus ini dimulai sekitar bulan Mei 1975 dan selesai pada tahun 1977 walaupun sebelumnya sempat terhenti pembangunan selama 1 tahun lantaran ada kendala administrasi.

    Berbarengan dengan itu, ahli waris Ki Syam’un yakni KH.Rahmat Allah, H.Fatullah Syam’un, H. Qosid dan H.Abdul Karim  mendirikan Yayasan yang bernama Yayasan Ki Haji Syam’un . Yayasan ini dibuat di hadapan Notaris TP Hutapea di Jakarta pada tahun 1975. Tujuan dari Yayasan ini sebagaimana disebutkan dalam pasal 6 Akte Notaris diatas adalah untuk menyelenggarakan Kepengurusan Sekolah-Pesantren Pusat Al-Khairiyah Citangkil. Adapun untuk pertamakalinya pengurus Yayasan ini adalah KH. Rahmat Allah sebagai Ketua, KH Fatullah Syam’un Sekretaris, sementara H. Qosid Suam’un dan H.Abdulkarim sebagai pembantu.

    Dalam akte pendirian Yayasan itu, disebutkan juga soal harta milik Yayasan yakni Sebidang tanah tegalan berupa tanahwakaf  yang terletak di Desa  Kamasan serta 6 (enam) gedung sekolah, asrama yang terletak di Kampung Citangkil  dengan luas tanah kurang lebih 2 hektar.

     

    (Bersambung).

    Penulis;

     

    -Alumni Madrasah Ibtidaiyah Al-Khairiyah Gerem 1973

    -Alumni Madrasah Tsanawiyah Al-Khairiyah Gerem Tahun 1975


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.