Memilih Saham Makin Gampang dengan Fitur-fitur Unggulan - Analisa - www.indonesiana.id
x

Setyo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Memilih Saham Makin Gampang dengan Fitur-fitur Unggulan

    Dibaca : 3.208 kali

    BALIKPAPAN - Fitur-fitur yang akan memudahkan investor saham memperoleh cuan maksimal memang menarik untuk terus dipelajari. Bermaksud meningkatkan pemahaman investor akan hal tersebut, PT Indo Premier Sekuritas, IPOT Balikpapan menggelar training aplikasi IPOTSTOCK di Kantor IndoPremier Balikpapan, Sabtu, 26 Mei 2018.

     

    Representative Officer PT Indo Premier Sekuritas, IPOT Balikpapan, Agung Dirgantoro menjelaskan training ini secara khusus mengajarkan pemanfaatan fitur-fitur yang ada di IPOTSTOCK.

     

    Diketahui, IPOTSTOCK adalah online trading untuk saham dan ETF (Exchange Traded Fund) yang dapat diakses melalui aplikasi maupun web browser.

     

    Platform ini menyediakan kenyamanan nabung saham online dengan teknologi tools untuk mengatur return (imbal hasil) terbaik. Dukungan fitur, tools analisis, distribusi berita dan informasi riset secara berkala dan komprehensif akan memudahkan investor mendapatkan cuan yang maksimal.

     

    Secara khusus saat training ini dijelaskan mengenai IPOT ATM (Auto Trading Machine), sebuah fitur berbasis Robotic Trading pertama di pasar modal indonesia yang dikembangkan oleh IndoPremier Sekuritas bagi nasabahnya. Fitur ini memudahkan nasabah melakukan Automatic Execution (Action) apabila suatu condition atau syarat yang diinput oleh pengguna telah terpenuhi dan dapat diatur masa berlakunya sampai dengan 1 bulan (GTC-Good Till Canceled).

     

    Tak ketinggalan pula, pada kesempatan ini dijelaskan fitur yang dikembangkan IndoPremier, secara khusus bermanfaat untuk memilih beberapa saham yang masuk dalam kriteria tertentu (teknikal dan fundamental) sesuai dengan kemauan investor itu sendiri, bernama IPOT Stock Screener.

     

    Stock Screener memudahkan nasabah Indopremier untuk mencari saham-saham tertentu yang secara teknikal maupun fundamental dapat dibeli atau dijual sesuai dengan tools analisis masing-masing.

     

    Para peserta mengaku menjadi lebih memahami lebih dalam tentang saham untuk dijadikan bisnis jangka panjang dan secara umum lebih mengerti tentang pasar modal.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    2 hari lalu

    Keadilan Agraria dan Peningkatan Produksi Pangan Melalui Konsesi Lahan Pertanian Luasan 10 –80 ha, kepada Badan Usaha Perorangan.

    Dibaca : 130 kali

    Salah satu dari 9 masalah fundamental multi dimensi bangsa Indonesia adalah “masih rendah, terbatas dan timpang pembangunan dan kesejahteraan baik antar lapisan / strata masyarakat maupun antar daerah dan pulau”. Perwujudan sila ke 5 dari Pancasila yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 yakni “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” masih jauh dari harapan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, bertajuk ‘Apa kabar Reforma Perhutanan Sosial’ Selasa 3/4/2018, Dalam paparan berjudul ‘Evolusi Kawasan Hutan, Tora dan Perhutanan Sosial, mengungkapkan: Ketimpangan pemberian lahan dan akses dari sektor kehutanan ini terdata sampai tahun 2017. Perbandingan ketimpangannya? Luas lahan di Indonesia yang yang sudah keluar ijin pengelolaanya adalah 42.253234 ha dari total 125.922.474 KH Indonesia. Dari 42.253.234 ha lahan yang diberikan ke swasta-masyarakat-kepentingan umum, 95,76 %-nya dilelola oleh swasta luas totalnya 40.463.103 ha. Perkembangan Luas Areal Kelapa Sawit, dari data peta RePPProT, pada tahun 1990 luasnya 7.662.100 ha, dari data baru tahun 2015 menjadi 11.260.277 ha, berarti kenaikan rata-rata 142.000 ha/tahun. Tahun 2016 menurun sedikit menjadi 11.201.465 ha. Tahun 2017 terhadap angka 2016 meningkat drastis 25 % lebih, menjadi sebesar 14.048.722 ha. Tahun 2018 naik menjadi 14.327.093 ha, Tahun 2019 naik menjadi 14.677.560 ha. Areal usaha perkebunan kelapa sawit tersebut didominasi oleh hanya puluhan pengusaha besar swasta. Ke depan apa yang bisa dilakukan? untuk mengurangi ketimpangan penguasaan / hak kelola Pengusaha Besar Swasta (PBS) atas tanah kawasan hutan (40.463.103 ha) dan Perkebunan kelapa sawit (14.677.560 ha), totalnya 55.140.663 ha setara 29,5 % luas daratan Idonesia 187.000.000 ha. Penulis menyarankan Solusi pengurangan ketimpangan secara bertahap, namun sekaligus bisa menangani permasalahan besar lain yaitu kemandirian pangan Indonesia yang sangat lemah / rapuh karena terkendala terbatasnya ketersediaan lahan garapan. Pada kesempatan ini diusulkan untuk Ekstensifikasi Pertanian pangan dengan membuka daerah irigasi (DI) Baru dengan Pola Pertanian Pangan UKM. Strateginya membangun Lima Pilar Pertanian Beririgasi Modern di luar P. Jawa meliputi: P1: Penyediaan air irigasi; P2: Pembangunan infrastruktur irigasi baru; P3: Pencetakan sawah baru petakan besar yang sesuai mekanisasi pertanian untuk para UKM dengan konsesi lahan 30-80 ha; P4: Mempersiapkan sistem pengelolaan irigasi; P5: Membangun sistem konsesi UKM pertanian mekanisasi padi komersial terpadu, mulai tanam, panen, sampai siap dipasarkan. Untuk keadilan agraria dan sekaligus penyediaan lahan garapan daerah irigasi baru, juga untuk lahan peternakan dan perikanan terlihat 2 kemungkinan yakni: (i) Mengatur pemberian puluhan ribu konsesi lahan luasan kecil 10 ha untuk peternakan, perikanan, hortikultur (mix farming), serta luas 30 - 80 ha untuk irigasi baru. Sebagai tahap pertama memanfaatkan cadangan areal untuk Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) seluas 4,1 juta ha, diberikan konsesi 30 tahun kepada badan usaha perorangan; dan (ii) Mengubah konsesi sawit lama yang habis masa konsesinya menjadi konsesi 30 tahun UKM sawah beririgasi 30 ha - 80 ha.