Karena Status, Siapapun Bisa Berubah - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

kang Nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Karena Status, Siapapun Bisa Berubah

    Dibaca : 2.675 kali

    Waktu kuliah dulu, ndasku mumet mendapat materi kuliah soal Perilaku dan Sikap.

    Sebagaimana sudah diartikan dengan baku bahwa;

    Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain : berjalan, berbicara, menangis, tertawa, bekerja, kuliah, menulis, membaca, dan sebagainya.

    Sedangkan  yang disebut Sikap merupakan sesuatu ukuran tingkat kesukaan seseorang terhadap perilaku tertentu.

    Jadi, Sikap adalah pernyataan evaluatif terhadap objek, orang atau peristiwa.

    Dosen saya bilang, atas dasar pengertian diatas, Perilaku dan Sikap bisa berubah menurut  sikon.

    Sekarang saya ngga mumet lagi, apa sebab?,

    Ya karena saya  sudah mendapat pencerahan  melalui dongeng kebinatangan. Dongeng itu menurut saya  mudah dicerna , logis, sehingga bisa diterima dengan nalar di banding dengan pencerahan Farhat Abas soal Surga Neraka.

    Seperti sudah sama sama di  ketahui, Farhat Abas -- pengacara yang sekarang Jomblo akibat ditinggalkan para istrinya--, sebagai juru bicara Tim Pemenangan Jokowi, bahkan mengklaim diri sebagai Jubir Indonesia, justru membuat orang keki, bahkan ada yang marah pula.

    Apa sebab?, karena pencerahannya didasarkan atas subyektifitas pribadi yang melihat bahwa dirinya atau kelompoknya lebih baik dari yang lain. Farhat tidak sadar bahwa sikap mengagungkan diri sendiri atau kelompoknya dan selalu merendahkan orang lain itu pernah dilakukan oleh Setan saat disuruh tunduk kepada Adam. Setan tidak mau tunduk karena menganggap dirinya lebih unggul lantaran dibuat dari api, sedangkan Adam dibuat dari tanah.Perilaku Setan yang sombong itulah yang membuahkan hasil hukuman yaitu dikeluarkan dari Surga.

    Demikian juga dengan Farhat, karena saking sombongnya,  ia mengatakan bahwa “Yang pilih Jokowi masuk Surga, yang tidak pilih Jokowi masuk Neraka”. Oleh karena ucapan itulah ahirnya Farhat di tarik sebagai juru bicara Tim Pemenangan Jokowi alias di Pecat. 

    Saya melihatnya,  sikap dan prilaku Farhat ini  tidak mencerminkan sebagai orang yang bersahaja, bahkan mungkin tidak sesuai dengan garis garis etika yang sudah ditentukan oleh Timnya sendiri, bisa jadi karena pemahaman keagamaan Farhat yang rendah alias dibawah standar.

    Lantas bagaimana dengan dongeng kebinatangan itu?.

    Tersebutlah di Negeri binatang, terjadi hajat besar-besaran, gaungnya tersebar diseluruh negeri binatang  yakni adanya Perkawinan antara Singa Jantan dan Singa betina yang akan menjadi pasangan suami istri. Dalam dunia binatang, Singa sudah terkenal dengan julukan sebagai si Raja Hutan.

    Singa kemudian mengumumkan tentang   peraturan terkait pelaksanaan perkawinan itu. Isi peraturannya yakni pada saat pelaksanaan Perkawinan, para binatang dilarang duduk atau berdiri melebihi batas yang sudah ditentukan, alasannya supaya lebih hidmat, rukun, damai dan harmoni sesama binatang atau dalam bahasa politik kebinatangan semua sama dan sederajat dalam melihat pelaksanaan perkawinan itu.  

    Semua binatang tentu saja takut atas titah si Raja hutan, tersebab takutnya itulah kemudian para binatang, baik yang berstatus sebagai kaki tangan Singa maupun yang hanya binatang biasa, manut dawuh atas peraturan itu

    “ La wong yang bikin  Raja Hutan kok”, kata bebek saat ditanya Kucing kenapa semua duduk bertafakkur tidak ada yang berani melewati batas yang sudah di tentukan.

    “Alaah ngapain takut bek, saya mah ngga dikasih makan Singa ini, kalau kamu sih wajar  karena memang sukanya ngebebek”, jawab Kucing.

    Tak lama setelah itu, tiba-tiba Kucing melompat ke depan Singa yang sudah siap siap melaksanakan prosesi perkawinan. Tentu saja semua binatang yang hadir kaget bukan kepalang. Beberapa binatang yang bertugas dalam bidang pengamanan berusaha mencegah kucing.

    Salah satu binatang yang ikut mencegah kucing adalah Kadal. Kadal yang sukanya ngadalin binatang lain memang ditugaskan untuk menangkal hal hil hul yang dianggap bisa mengganggu pelaksanaan perkawinan. Dipilihnya kadal yang dulunya sering melecehkan Singa, adalah untuk dimanfaatkan tenaganya sebagai ahli yang utama lantaran kemampuan berkomunikasinya dianggap cocok untuk memporak porandakan omongan binatang lain yang tidak sealur dengan Singa.

    “ Hai kucing, apa maksud ente melanggar aturan dalam pernikahan ini”, Kadal menghampiri Kucing. Kucing faham betul perilaku kadal yang suka menjilat Singa dan paling senang ngadalin binatang lain.  

    “Oalah daaaaaaaal, ente  ngga bakal saya kasih tau, udah sono bilang sama Singa, saya mau memberitahukan sesuatu yang sangat penting”, jawab Kucing.

    “Kasih tau juga, binatang lain ngga perlu mendengar, makanya saya akan berbisik saja”, lanjut Kucing.

    Kadal diam sebentar sambil berpikir.

    “Wah mungkin ada sesuatu yang gawat”, gumam Kadal dalam hati seraya menuruti kemauan Kucing.

    Setelah kadal lapor ke Singa, Kucing dipersilahkan untuk menghadap Singa.

    “Ada hal penting apakah kiranya sahabat hingga kamu mau membisiki sesuatu kepada saya Cing”. Sapa Singa berlaga akrab

    Kucing hanya tersenyum sambil mendekatkan mulutnya ke dekat telinga Singa dengan maksud membisikkan sesuatu. Namun tiba tiba Singa menggelengkan kepalanya berkali kali seperti sedang kegelian,

    “Sialan kamu ini”, Singa menghardik     

     “Emang kenapa ?”, tanya kucing kaget.

    “Itu kumis kamu masuk kedalam telinga saya, geli tau”.

    “Ha ha ha, maaf belum saya cukur”, jawab kucing sambil mendekatkan kembali mulutnya ke dekat telinga Singa lantas membisikkan sesuatu.

    “Begini ya sahabat, waspada dengan pernikahan ini”, bisik kucing.

    “Haaah, maksud kamu apa”, kata Singa.

    “Huss, jangan kuat kuat ngomongnya, nanti terdengar binatang lain”, kata Kucing

    “Oh, ya, coba apa”

    “Begini, hati hati dengan pernikahan ini, saya juga dulunya Singa, tapi setelah menikah, saya berubah seperti ini, baik fisik, penampilan, sikap maupun prilaku saya”, bisik Kucing kemudian serius.

    Singa yang juga terkenal dengan otaknya yang encer, mudah faham dengan maksud Kucing, bahwa dengan  adanya perubahan status, bisa jadi akan merubah sikap dan perilaku, Kucingpun manggut manggut, dan Perkawinan berlanjut meriah.

    Cerita soal Singa sudah selesai, tapi makna dari cerita itu yang harus di resapi.

    Pernikahan hanyalah sebagai suatu simpul tentang situasi dan kondisi,. Bisa jadi dengan adanya istri, Singa yang tadinya kelihatan pemberani, berubah menjadi penakut karena memang takut dengan istri.

    Logikanya, dengan adanya status baru, jika ini dikaitkan dengan kehidupan social, yang namanya status baik itu Jabatan, pangkat akan berpotensi merubah sikap dan perilaku seseorang.

    Orang yang tadinya ramah bisa jadi songong.

    Orang yang tadinya alim, bisa jadi alimput alias alimnya nyumput nyumput

    Orang yang tadinya galak bisa jadi penurut.

    Orang yang tadinya suka memberi nasihat, bisa jadi lupa nasihatnya.

    Orang yang tadinya blab la bla, berubah jadi bli bli bli.

    Dan itu berlaku kepada siapapun, dari golongan dan stratifikasi social manapun terutama bagi yang senangnya  mengejar keduniawian

    Catatan:

    (Cerita Singa saya sarikan dari Pencerahan Aa Gym setelah saya olah memakai narasi yang berbeda).


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.