Pilpres, Kepura-puraan dan Keterpaksaan - Analisa - www.indonesiana.id
x

kang Nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Pilpres, Kepura-puraan dan Keterpaksaan

    Dibaca : 2.840 kali

    Pelaksanaan Pilpres 2019 mendatang, sudah mulai terasa gaungnya di seluruh negeri sejak beberapa bulan terahir, baik setelah penetapan nomor urut calon maupun sebelumnya. Gaung dan hingar bingar tentang Pilpres sangat terasa utamanya di dunia alam goib yang disebut dunia maya utamanya di media sosial.

    Dalam konteks ini, harus diakui bahwa media sosial saat ini diajadikan sebagai sarana untuk mempengaruhi orang, caranya sangat beragam, ada yang santun ada pula yang arogan, ada yang rasional ada juga yang irasional. Tak jarang pula terjadi perdebatan, kalau perlu saling memaki di dataran yang tanpa batas seperti di Twiter, Group WA, Instagram, Facebook, media online termasuk juga di blog-blog baik yang pribadi maupun blog  keroyokan.

    Jika kita melihat percaturan politik Pilpres  saat ini, saya melihat ada sisi yang menarik dari hingar bingar Pilpres di medsos --salah satunya-- yakni adanya Kepura-puraan dan Keterpaksaan.

    Contoh paling nyata yang baru baru ini  terjadi pada  sebuah kegiatan yang diadakan para pendukung Capres/Cawapres Jokowi- KH Ma'ruf Amin sebelum pelaksanaan undian nomor urut di KPU.

    Saat itu diadakan hibuan musik husus untuk menyambut pelaksanaan Undian Nomor Urut Capres/Cawapres, pasangan Jokowi-KH Ma'ruf Amin hadir disitu. Video pelaksnaan hiburan itu telah di unggah  -- entah oleh siapa -- di media social. Nampak sekali dalam video hasil rekaman dari sebuah stasiun TV, bagaimana riang gembiranya para pendukung Jokowi.

    Sementara itu Capres Jokowi dan Cawapres KH Ma'rug Amin, berdiri diatas panggung ditemani oleh beberapa elite. Bersamaan dengan itu, seorang penyanyi -perempuan- menunjukkan kepiawaiannya dalam bernyanyi, berjoged dan bergoyang diiringi musik di hadapan orang orang besar ini.

    Jokowi terlihat sumringah bergoyang sambil mengangkat tangannya keatas, KH. Ma'ruf Amin dengan pakain has seorang ulama yang alim, berdiri di sebelahnya, terlihat dengan jelas bagaimana ulama sepuh ini mengangguk anggukkan kepala sambil bertepuk tangan seiring dengan alunan musik dan goyangan penyanyi yang ada di depannya, sesekali berhadap hadapan.  

    Sejujurnya saya tersentak menyaksikan adegan ini, namun saya berpikir baik saja, saya yakin bahwa beliau hanya berpura pura, pura pura enjoy seperti pak Jokowi yang riang gembira. Sebetulnya bisa jadi, dalam hati beliau membaca  Istighfar, mohon ampun kepada Allah atas apa yang ada dalam pandangan matanya  yang tidak biasa di lihat secara langsung dan juga tak pernah beliau lakukan karena biasanya tangan beliau memegang tasbih, bezikir kepada Allah.

    Saya yakin pula, sikap beliau saat itu hanyalah katerpaksaan. Beliau terpaksa melakukan itu karena status barunya, meskipun beliau ulama besar, tapi karena statusnya sekarang adalah calon Wapres, harus mampu men-selaraskan dengan kemauan publik demi untuk menjaga massa.

    Ya harus difahami juga, frame yang dimiliki KH Ma'ruf Amin saat ini  berbeda dengan sebelum menjadi Calon Wapres. Sebelumnya, Almukarrom KH Ma'ruf Amin berada pada pusaran dan posisi kepentingan umat Islam, mengurusi hal hil hul yang berkaitan dengan ummat Islam. Namun sekarang KH Ma'ruf Amin tidak bisa lagi bermain di kotak itu, Almukarrom kini sedang berada pada posisi frame berbentuk roda yang tanpa sudut, berputar menggelinding mengikuti alur as roda yang juga dikendalikan oleh sang pengemudi. Itulah resiko dari sebuah status (Tentang hal ini lihat disini;  https://indonesiana.tempo.co/read/127767/2018/09/22/nasir.kang/karena-status-siapapun-bisa-berubah )

    Meminjam salah satu bait lagu Iwan Iwan Fals, Ini bukan soal pilihan , tapi sekedar mengingatkan soal kepatutan. Menurut saya, yang tidak tahu diri adalah panitia termasuk juga penyanyinya, sudah tahu KH Ma'ruf Amin adalah Ulama besar yang menjadi panutan umat Islam, sepatutnya bisa menghormati ke ulamaan beliau, saya sebagai ummat muslim sekaligus sebagai orang Banten, jujur menyayangkan suguhan penyanyi dangdut yang meliuk liuk dihadapan KH Ma'ruf Amin sehingga hilang sudah kharisma Kiyai yang begitu luhur dan dibanggakan orang Banten, jangan sampai kebanggan itu berubah menjadi tidak bangga lagi ! .

    Salam dari  Banten.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.