Mengalami Gempa Donggala di Samarinda

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Gempa Donggala, bahkan dialami dari tempat yang berjarak 500an kilometer dari pusat gempa, membuat saya tersadar pentingnya pendidikan kebencanaan.

Tak Bisa Beristirahat

Sore itu baru saja saya menutup komputer setelah melakukan sebuah skype call, untuk memberikan pandangan saya tentang perkembangan CSR di kawasan Asia. Saya lalu berbaring lantaran kelelahan setelah tiga hari berturut hanya tidur masing-masing kurang dari empat jam.  Ternyata saya tak diizinkan alam untuk terlelap sebagaimana yang saya butuhkan.

 

Kamar saya di lantai 10 Aston Samarinda terasa bergoyang keras.  Saya merasakan itu adalah gempa, tapi langsung menyangkal dengan pengetahuan umum yang selama ini saya percaya: tak ada gempa di Kalimantan.  Tetapi penyangkalan itu tampaknya tidak bisa saya pertahankan.  Perasaan goyangan Bumi sedemikian jelas.

 

Sebagai orang yang ketika masa bersekolah SMA ada di tempat rawan gempa, saya kemudian melihat ke seluruh kamar, tapi segera menyadari tak ada yang tergantung sebagai penanda yang bisa segera dilihat.  Setengah berlari saya kemudian melongok ke arah kamar mandi, di tempat satu-satunya yang saya bisa melihat apakah memang ada goyangan.  Pintu kamar mandi saya buka, dan benar saja pintu itu terayun terus, semakin lama semakin lebar simpangannya.

 

Saya kemudian membuka pintu, dan berteriak ke kamar sebelah, di mana rekan saya berada.  Teriakan saya terdengar sepanjang gang di lantai itu.  “Gempa, keluar kamar, turun!”  Begitu teriakan saya setelah bersama rekan itu.  Saya berlari menuju pintu ke arah tangga darurat.  Di sebelah kanan, mata saya melihat tiga orang yang memencet tombol lift untuk turun.  Saya lalu berteriak “Jangan pakai lift, turun lewat tangga,” sambil terus berlari.

 

Di ujung gang saya baru sadar bahwa saya tak menggunakan alas kaki.  Saya juga tak membawa kedua telepon selular saya yang sedang ditancapkan ke sumber listrik.  Saya hanya ingat keluar kamar sambil mencabut kunci elektronik, menutup kamar, dan berteriak supaya orang-orang keluar dari kamar masing-masing.

 

Saya lalu turun bersama rekan itu.  Tangga masih sepi, kami bisa turun dengan cepat.  Di depan saya ada seorang perempuan, di depannya ada 3 anak-anak.  Sambil terus merasakan goyangan yang cukup keras, saya berteriak, “Turun terus, hati-hati, berpengangan.”  Tangga segera dipenuhi oleh makin banyak orang yang dari lantai lainnya.  Mungkin di lantai 7 kecepatan mulai berkurang, walau masih bisa berjalan cepat. 

 

Di lantai 4 perjalanan melambat.  Tangga darurat sudah disesaki orang.  Semuanya terdiam, merasakan goyangan yang masih terasa.  Di beberapa lantai di atas posisi saya terdengar orang mengucap istighfar.  Perasaan takut dan panik jelas menyesaki udara ruangan sempit itu, membuat perjalanan terasa begitu lama.

 

Akhirnya, sampailah di ujung anak tangga.  Pintu yang saya lihat di ujung itu terbuka, menebarkan sinar yang mengakhiri perasaan sesak sepanjang jalan turun itu.  Belok ke kanan, saya sadar bahwa belum bisa menarik nafas lega.  Sinar itu berasal dari lampu yang kuat, sementara ruang terbuka masihlah berjarak beberapa puluh meter lagi.  Kaki telanjang saya terus bergerak, kali ini dengan berlari.            

 

Ketika tiba di assembly point, saya baru bersama dengan kurang dari 10 orang.  Kalau peserta lokakarya yang saya fasilitasi saja ada 100an orang, dan mereka sebagian besarnya masih ada di lantai 17 hotel itu; dan saya ingat hotel ini cukup banyak yang mondar-mandir di lobi, sudah seharusnya ratusan orang yang bakal berkumpul di situ.  Kecuali, kalau mereka turun dari pintu lain yang saya tak lihat, menuju assembly point yang lain.

 

Tiga tiang bendera yang ada di assembly point di mana saya berada masih bergerak-gerak, namun tampak tak begitu kuat lagi.  Memang, guncangan itu terasa jauh lebih kuat di atas, dan semakin lemah ketika kita ada di bawah.  Dalam bilangan detik sudah ada puluhan orang yang berkumpul, dan dua menit kemudian, jelas terlihat lebih dari seratus orang yang ada di situ.

 

Jalanan terdengar sangat ribut dengan klakson yang memekakkan telinga.  Dan jelas tampak segera menjadi macet.  Saya menduga, sebetulnya mereka tak begitu merasakan gempa, namun kemudian melihat para penghuni hotel, dan pengunjung mal yang berhamburan keluar, mereka kemudian melambatkan kendaraan—hal yang biasa saya lihat ketika ada kecelakaan di jalan.

 

 

Kekacauan Informasi

Saya yang tak membawa ponsel kemudian meminta rekan saya untuk memeriksa dunia maya untuk mendapatkan informasi soal gempa.  Dalam beberapa saat, kami sudah tahu bahwa gempa besar, 7,7 Skala Richter terjadi di Donggala, sebelah utara Palu.  Kota Samarinda, yang memiliki lintang utara yang hampir sama dengan Donggala, dipisahkan oleh Selat Makasar selebar 500an kilometer, merasakan getaran yang kuat, yang cukup menghamburkan orang-orang yang berada di gedung-gedung tinggi.

 

Dari informasi itu juga kami tahu bahwa gempa tersebut membawa dampak ikutan yang tak bisa diremehkan, yaitu potensi tsunami. Beberapa puluh menit di assembly point itu, tak ada keterangan yang jelas sama sekali dari pihak hotel.  Lalu, saya mendengar beberapa petugasnya menyatakan bahwa kami sudah bisa kembali.  Yang saya amati, bahkan sebelum pengumuman itu sudah banyak pengunjung yang memilih untuk kembali ke lobi hotel, mungkin lantaran pegal menunggu sambil berdiri.

 

Saya beranjak menuju lobi hanya ketika sudah dinyatakan aman oleh petugas.  Tapi, di lobi itu saya mendapati lift belum bisa dipergunakan.  Saya lalu bertanya berapa lama lagi hingga lift bisa dipergunakan kepada petugas front office.  Mereka menjawab belum tahu.  Dan beberapa detik kemudian, terdengar pengumuman di lobi bahwa kami semua harus bergerak ke assembly point ‘sesuai arahan petugas’.     

 

Di titik itu saya sadar bahwa sebetulnya belum ada satu kata sepakat di antara petugas hotel.  Tapi mereka yang sudah masuk ke lobi tampak enggan untuk mematuhi suara yang terdengar dari pengeras suara itu.  Semuanya tetap ada di lobi, dan makin banyak yang masuk ke lobi.  Suasana mulai kacau ketika orang-orang berkumpul di depan lift, memencet-mencet tombolnya hanya untuk mendapati bahwa lift belum bisa dipergunakan.  Tentu, belum bisa dipergunakan, karena pengumuman untuk kami semua keluar dari hotel masih terus terdengar.

 

Di luar lobi, saya menyampaikan kepada seorang petugas bahwa informasi kami sudah boleh kembali ke lobi tidaklah bisa diberikan, karena jelas-jelas di lobi kami mendengar bahwa keadaan belum bisa dinyatakan aman.  Kami bahkan diperintahkan untuk keluar lagi.  Petugas itu tampak kebingungan, dan dengan ekspresi “saya memang bingung” dia bilang bahwa dalam kondisi seperti ini memang informasi simpang siur.

 

Saya lalu bilang bahwa dalam situasi yang demikian, seharusnya ada otoritas yang bisa mengambil keputusan, sehingga suara dari pihak hotel menjadi tunggal; bukannya malah masing-masing pihak menginterpretasikan kondisinya sesuai dengan apa yang dipahami sendiri-sendiri. Kalau di assembly point kami dipersilakan masuk, tetapi di lobi kami diminta keluar, tentu saja kami bingung.

 

Kala itu matahari sudah masuk ke peraduan. Langit Samarinda sudah gelap, dan lobi penuh sesak dengan orang-orang yang tak mau kembali ke assembly point, tapi juga tak bisa naik ke kamar masing-masing.  Saya lalu mengajak rekan-rekan untuk tidak menunggu kembali ke kamar.  Kami bisa langsung keluar untuk makan malam sesuai dengan ide semula, hanya tertunda beberapa puluh menit.  Seorang rekan bilang, “Tapi Mas Jalal nggak pake sandal?”  Jawaban saya singkat, “Memangnya kenapa?”  Dan kamipun naik ke mobil jemputan.

 

Begitu sampai di restoran Oceans, kami memesan makanan dan minuman, lalu kembali mendiskusikan tentang gempa.  Saya bilang saya ingat bahwa safety briefing yang diberikan untuk acara kami tidaklah memadai.  Sang petugas tidak dengan jelas menyebutkan arah tangga darurat.  Hanya menyebutkan bahwa ada tangga darurat di lantai 17.  Ketika gempa terjadi, alarm juga tidak berbunyi cukup cepat, lantaran saya ingat alarm itu berbunyi ketika sudah turun beberapa lantai.  Dan kekacauan informasi di assembly point dan lobi itu jelas menunjukkan ketidaksiapan. Hotel dalam jaringan sekelas Aston seharusnya tidaklah begitu.   

 

Obrolan terputus lantaran salah seorang di antara kami mulai menunjukkan video tentang tsunami yang menerjang pantai barat Sulawesi.  Informasi yang dia dapat menyatakan bahwa itu terjadi di Mamuju.  Saat itu saya teringat bahwa beberapa bulan lalu, saya membantu sebuah perusahaan yang punya program CSR pendidikan dan kesehatan di sana.  Perusahaan itu dengan telaten membangun 9 PAUD sekaligus tempat pelayanan kesehatan di sana, dengan kerjasama yang sangat baik dengan beragam pihak yang juga memiliki kepedulian yang tinggi.  Tak tega saya membayangkan wajah anak-anak ceria bersekolah di PAUD-PAUD teladan itu bakal menjadi suram kalau Mamuju dihajar tsunami.  Mereka bahkan mungkin bisa menjadi korban terjangan arus itu, lantaran beberapa PAUD memang melayani mereka yang tinggal di dekat pantai.

 

Saya mencoba menepis bayangan itu dengan meminta rekan-rekan mencari tahu apakah benar bahwa itu terjadi di Mamuju, atau bahkan apakah benar video itu terkait dengan gempa yang barusan kami semua rasakan.  Sudah terlampau banyak berita palsu yang beredar di negeri ini, sehingga saya berusaha untuk tidak pernah langsung percaya.  Beberapa puluh menit berlalu, hingga hidangan penutup tersaji—yaitu durian yang didatangkan dari lapak di sekitar Islamic Center Samarinda yang terkenal itu—tak ada bisa memastikan kebenaran kejadian dan lokasinya.

 

Goncangan Kedua dan Kesiapan Menghadapi Bencana

Beberapa obrolan non-gempa dalam perjalanan kembali ke hotel membuat saya lupa sementara soal yang mengerikan ini.  Tiba di lobi, rasa kantuk menyerang hebat.  Dengan gontai saya menuju lift yang syukurnya sudah berfungsi, langsung masuk ke kamar, dan memeriksa kedua ponsel saya.  Ada lebih dari 100 pesan WhatsApp yang saya terima, termasuk dari istri saya.  Langsung saya menelepon dia, untuk menceritakan sepotong kisah ini.  Beberapa pesan juga saya jawab setelahnya. 

 

Kemudian, saya merasa perlu bersiap kalau-kalau ada gempa susulan.  Saya letakkan sepatu saya persis di sebelah pintu keluar, lalu saya kembali berbaring.  Saya tak akan sanggup untuk mandi sebelum tidur, jadi saya mulai bergerak ke kamar mandi untuk menggosok gigi saja.  Belum sampai masuk ke kamar mandi, goyangan saya rasakan lagi, dan persis saya lihat pintu kamar mandi juga bergoyang.  Saya berteriak kembali ke rekan saya di sebelah kamar, sambil membawa kedua ponsel saya, dan langsung memasukkan kaki ke dalam sepatu yang sudah saya siapkan.

 

Berlari bersama rekan saya melewati lorong menuju tangga darurat, saya menyadari bahwa kali ini bahkan lebih sunyi lagi.  Hingga lantai terbawah saya hanya turun bersama dengan empat orang.  Ketika tiba di assembly point, saya adalah orang ketiga yang sampai.  Mungkin lantaran goncangannya tak semenakutkan ketika sore harinya, maka orang-orang lebih santai?  Butuh waktu lebih lama juga untuk orang-orang berkumpul.  Mendongak ke atas, saya melihat beberapa orang melongok dari jendela kamarnya.  Mungkin mereka memutuskan tak turun lantaran goncangan tak terasa lagi.

 

Ketika akhirnya puluhan orang berkumpul di assembly point itu, petugas hotel kali ini tampak lebih siap.  Mereka bilang perlu menunggu pengumuman untuk bisa naik kembali—walaupun saya tak tahu apakah mereka memerintahkan evakuasi seluruh penghuni kamar yang saya sempat lihat masih ada di kamarnya ketika kami sudah berkumpul di bawah.  Beberapa menit kemudian, petugas membawakan kursi, untuk mereka yang kelelahan.  Air minum pun dibagikan segera setelahnya.  Kali ini petugas lebih sigap, dan koordinasi informasinya jauh lebih baik.

 

Di sisi lain, yang saya perhatikan dari situasi itu adalah banyak sekali orang, yang berada bersama saya di assembly point di sore maupun malam hari, yang berbicang-bincang dengan informasi yang sumir atau bahkan jelas-jelas tidak tepat.  Saya hanya diam.  Pengetahuan kita mengenai gempa, tsunami, dan kebencanaan secara umum sangatlah minim.  Dan hal ini menjadi sangat menyedihkan lantaran kita, warga Indonesia, hidup di daerah rawan bencana.  Saat itu, saya sudah membaca banyak sekali informasi dari media massa dalam dan luar negeri soal bencana ini.  Tsunami sudah dipastikan terjadi, dan saya makin sedih lantaran membayangkan jumlah korban bakal mencapai ribuan.

 

Tiba di kamar lagi, menjelang tengah malam, saya menyiapkan barang-barang paling penting untuk tinggal saya angkut kalau harus menjalani evakuasi.  Saya ingin segera tertidur, namun benak saya masih sibuk memikirkan kejadian sepanjang sore hingga tengah malam itu dengan segala konsekuensinya. 

 

Ingatan saya terakhir mungkin tentang bagaimana sahabat saya, Pendeta Victor Rembeth, beberapa hari lalu menjelaskan tentang ide peningkatan kapasitas orang Indonesia atas kebencanaan bisa dilakukan lewat materi-materi yang terstruktur dan disediakan secara daring (online).  Dia bilang, sebagian besar materi pendidikan kebencanaan bisa disajikan seperti itu; dan ada materi-materi keterampilan yang harus diberikan secara luring (offline).  Agaknya, saya perlu menemuinya segera setelah tiba di Jakarta. Idenya itu perlu segera diwujudkan, agar kita semua bisa bersiap menghadapi apa yang memang menjadi keniscayaan hidup di negeri ini.

 

 

Penerbangan GA575 Samarinda – Jakarta, 29 September 2018.            

[Sumber foto: https://nasional.tempo.co/read/1131427/basarnas-jokowi-akan-pimpin-apel-besar-gempa-dan-tsunami-palu] 

Bagikan Artikel Ini
img-content
Jalal

Keberlanjutan; Ekonomi Hijau; CSR; Bisnis Sosial; Pengembangan Masyarakat

0 Pengikut

img-content

Wicked: Babak Ketiga dari Babad John Wick

Sabtu, 18 Mei 2019 15:15 WIB
img-content

Menebak Hasil Pilpres 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
Lihat semua