Persib Rasa Bayern Munchen 1991/92 - Olah Raga - www.indonesiana.id
x

Gilang Dejan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Olah Raga
  • Pilihan
  • Persib Rasa Bayern Munchen 1991/92

    Dibaca : 257 kali

    Pada musim Bundesliga 1991/92, seluruh fans Wattenscheid, Werder Bremen, Gladbach, Nurnberg, Cologne, dan seyogyanya penikmat sepakbola Jerman bersekutu mendukung Kaiserlautern untuk menjadi jawara. Ketika itu Kaiserlautern kejar-kejaran poin dengan tim besar paling dibenci di Jerman: Bayern Munchen. Sumbu kebencian bukan berasal dari iri hati karena Bayern berlimpah prestasi/terlalu diktator di kompetisi Bundesliga melainkan rasa ketidaksukaan fans tim-tim gurem dengan cara Bayern menggembosi para rivalnya. Acapkali ada pemain menonjol di tim rival atau juga di tim kecil, Ull Moness (manajer Bayern) selalu rela merogoh kocek berapapun untuk talenta-talenta yang dimiliki tim lain di semenanjung Jerman. Dengan cara hedonism itu, tim proletar merasa perlu mendukung tim Kaiserlautern sebagai tim yang bernasib sama ketimbang membiarkan Bayern juara. Di laga pamungkas yang amat menentukan, fans Werder Bremen meminta timnya untuk memberi kemenangan buat Kaiserlautern demi memuluskan misi: menggagalkan para pemain Bayern angkat trofi. Dan semua sesuai skenario, ketika Bayern kalah 2-1 di Wattenscheid, fans Werder Bremen berhamburan ke lapangan merayakan kemenangan Kaiserlautern dengan skor akhir 2-1. Saat itu, seluruh kota Munich menyadari betapa orang-orang membenci klub yang mereka cintai, siapapun itu ‘orang-orang’ disana pastinya yang tengah merayakan kekalahan Bayern. Para fans, pemain, staff pelatih, official,Bayern bergidik, termenung dibawah naungan ketidakadilan. “Seluruh Republik membenci kita!” Kata manajer Bayern. Ull Moness. Apa yang menimpa Munchen 27 tahun silam terjadi di Liga 1 2018, klub Persib Bandung yang tengah berpacu di lajur juara harus menerima kenyataan pahit. Persatuan sepakbola seluruh Indonesia (PSSI) dirasa memperlakukan tim kebanggaan warga Jabar itu secara tak adil, bahkan lebih tak adil dari apa yang pernah menimpa Munchen. Memang sanksi berat yang diterima Persib dan bobotoh imbas dari tragedi meninggalnya Haringga Sirila yang merupakan salah satu Jakmania – mutlak kesalahan bobotoh --, di sekitaran Stadion GBLA, Bandung beberapa waktu silam. Siapapun akan sepakat dengan hukuman berat kepada pelaku/tersangka pengeroyokan, larangan bermain di pulau Jawa, bahkan laga tanpa penonton. Hal tersebut cukup untuk memberi efek jera akan fanatisme buta. Akan tetapi, setelah dikaji terdapat beberapa hukuman yang merugikan yang sama sekali tak ada keterkaitannya dengan peristiwa tersebut. Termasuk larangan bermain yang ditujukan kepada beberapa pilar andalan Persib. Ezechiel (lima pertandingan), Bojan Malisic (empat pertandingan), dan Jonathan Bauman (dua pertandingan). Sebelumnya Patrice Wanggai, Inkyun Oh, Dedi Kusnandar, Febri Hariyadi, Ardi Idrus, dan Ghozali Siregar pun tidak bisa dimainkan dalam beberapa laga krusial, dengan alasan yang berbeda-beda. Interpreter Mario Gomez pun tak luput dari ganjaran sanksi. Fernando Soler tak boleh mendampingi tim hingga akhir musim Liga 1 2018 karena mengintimidasi wasit (saat melawan Persija) dengan kata-kata: “Kalau Persib tidak menang, maka kalian tidak bisa keluar dari stadion”. Akumulasi sanksi yang diperoleh Persib menggambarkan jika PSSI yang notabene delegasi sepakbola Indonesia terlalu sensitif terhadap Persib. Betapa tidak, apa yang dilakukan Bauman dan beberapa rekannya masih dalam batas wajar. Duel, sikutan, dan gerakan-gerakan yang mengakibatkan benturan serta adu fisik hal biasa di sepakbola. Jika pun benar mereka melanggar law of the game semuanya akan terlihat salah dimata publik Persib karena momen dalam menerbitkan sanksi yang dirasa kurang pas. Persib seperti jadi aktor utama ungkapan yang berbunyi: sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kondisi compang-camping menjadi musafir dan tanpa dukungan penonton bukan masalah berarti buat Gomez. Ia tahu bagaimana mempertahankan mental tim. Namun perlu kita ketahui jika duet Bauman-Ezechiel adalah otak tim, dan duet Igbonefo-Bojan adalah jantung tim yang jadi kunci sistem birokrasi pertahanan dan permainan efektif ala Gomez. Belum lagi Soler yang tugasnya sangat vital dalam menerjemahkan intruksi Gomez kepada para pemain. Apa jadinya sebuah tim bermain tanpa otak dan jantung, bahkan tanpa komunikasi yang efektif? Juara atau Degradasi? Ketidakondusifan tim Persib mulai teratasi dengan kembalinya dua pilar andalan yang baru saja pulang membela Timnas, Dedi Kusnandar dan Febri Hariyadi. Tentu saja ini jadi modal berharga menjelang pertandingan melawan Persebaya Surabaya, di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, pada Sabtu (20/10). Disisi berhembusnya kabar baik, Gomez juga harus kehilangan salah satu metronom lini tengahnya, Inkyun Oh, akibat hukuman akumulasi kartu kuning. Otomatis kondisi ini membuat tim Persib bakal tampil dengan full pemain lokal kontra Bajul Ijo. Akan tetapi, seperti biasa Gomez tak terlalu mempersoalkan hal itu. Mengingat stok gelandang di Persib cukup banyak. Ada Kim Kurniawan, Hariono, serta Eka Ramdani. “Masih ada opsi lain. Sebelumnya kami juga telah kehilangan tujuh pemain dan itu bisa diatasi. Di tengah saya bisa andalkan Kim atau Eka. Its ok. Tidak masalah”, ujar pelatih berpaspor Argentina itu seperti dilansir laman resmi klub. Persib mengusung misi wajib menang di pertandingan ini karena PSM Makassar berhasil mengkudeta posisi mereka di puncak klasemen setelah mengalahkan Borneo FC dengan skor 1-2 di Stadion Segiri, Samarinda, pada Jumat (19/10). Namun demikian, Persebaya pun tak ingin merelakan tiga poin cuma-cuma untuk saudaranya (mengacu pada kedekatan Bonek dan Viking). Mereka butuh poin demi menjauh dari zona degradasi, jika kalah atau draw itu berarti sama saja mereka membuat licin jalannya sendiri untuk tergelincir dari Liga 1. Sebagai catatan, tim zona merah seperti PSIS Semarang dan PSMS Medan mulai bangkit. Saat ini tim besutan Djadjang Nurdjaman bertengger di posisi 14 dengan 29 poin dari 25 pertandingan. Hanya berjarak dua poin dengan Perseru Serui dan PSMS Medan yang menghuni rangking 17 dan 18 serta hanya terpaut satu poin saja dengan zona play off degradasi. Namun senasib dengan Persib, Bajul Ijo kehilangan tujuh pemain pilarnya, mayoritas karena terbekap cedera. Empat pemain yang cedera antara lain Robertino Pugliara, David da Silva, Rafa Maitimo, serta Nelson Alom. Sedangkan Fandy Imbiri dan OK John masih harus menjalani hukuman larangan bermain serta Rachmat Irianto yang tengah membela Timnas U-19. Selain aspek teknik, dalam kondisi ini Djanur tahu betul bagaimana mengelola psikis para pemainnya agar lebih baik dan termotivasi untuk menghadapi laga krusial ini. Termasuk dengan menghitung enam poin yang hilang di markas Arema dan di kandang sendiri oleh Borneo FC. Tentu saja zona degradasi dan dua kekalahan tersebut sudah cukup jadi peringatan dini sekaligus pelecut semangat bangkit pasukannya. “Kalau ditanya secara emosional bertemu Persib, ya biasa saja. Sama dengan pertandingan lain”, Djanur membuka percakapan, seperti dilansir laman resmi Persebaya Surabaya. “Tetapi ini tetap spesial bagi Persebaya karena kami butuh kemenangan. Saya ingat waktu menang di Piala Presiden di kandangnya, dengan pemain yang kualitasnya jauh dari Persib. Mudah-mudahan terulang lagi nanti. Hasil yang lalu punya memori tersendiri bagi saya”, tuturnya. Meskipun kedekatan Bonek dan Persib sangat erat, rasa-rasanya dalam kondisi seperti ini Bonek pun tak akan berdoa dan meminta timnya untuk mengalah. Persebaya akan memerankan skenario 27 tahun lalu yang dilakukan Werder Bremen dan sekutunya kepada Bayern Munchen. Bajul ijo tak sendiri, Ia bersama PSM di posisi kedua, Persija Jakarta yang berada diposisi ke-3 klasemen sementara, dan lawan-lawan Persib selanjutnya seperti Bali United, Bhayangkara FC, PSMS, PSIS, Perserui, Persela, Barito Putera.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.