Mang Sarmidin dan BPJS - Analisa - www.indonesiana.id
x

kang Nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mang Sarmidin dan BPJS

    Dibaca : 1.722 kali

     
     

    Mang Sarmidin,  datang ke rumah saya lagi, ngajak ngobrol masalah BPJS, katanya ia baru saja pulang dari kantor BPJS, bayar iuran bulanan.

    "Di Aji, saya ini sejak pertama ikut BPJS, tiap bulan bayar terus", Mang Sarmidin mengawali obrolan dengan memanggil saya Di aji.

    "La iya harus bayar atuh, kan sudah kwajiban kalau ikut sebagai peserta", saya menimpli.

    "Tapi saya belum pernah berobat karena ngga pernah sakit", ujar Mang Sarmidin

    "Aiiih ngga boleh begitu Mang, pamali, kita itu harus bersyukur, dikasih sehat oleh Allah", kata saya setengah nasihat.

    "Bukan gitu di aji, itu Sarkawi baru pulang dari rumah sakit, baru bulan kemarin ikut BPJS,  terus biayanya Jutaan katanya ditanggung BPJS", keluh Mang Sarmidin

    "La terus apa masalahnya",tanya saya.

    " Masalahnya, kemarin si Kemetok cerita ke saya, katanya uang pengobatan BPJS itu diambil dari iuran peserta ya", kata mang sarmidin setengah bertanya

    "Ya emang begitu", tegas saya.

    "Waduh duh duuuuh, berarti bukan uang pemerintah  ya".

    Mang Sarmidin yang kerjanya ternak kambing  rupanya baru tahu soal itu.

    "Kalau begitu tidak adil dong, berarti biaya pengobatan si Sarkawi pakai uang kita kita yang ngga sakit dong", gerutu Mang Sarmidin.

    "ya sudahlah Mang, ikuti saja program itu, kan hitung hitung ikut meringankan pemerintah"

    "Oh jadi ikut meringankan Pak Presiden juga ya".

    "PAS", Jawab saya.

    "Berarti saya telah menolong pak Presiden  ya di aji"

    "PAS", lanjut saya lagi.

    "Mang Sarmidin termasuk rakyat yang hebat, sudah ikut meringankan beban negara", sedikit saya memuji

    "Di aji nih gimana sih, harusnya juga pak presiden yang nolong saya, saya kan rakyat kecil". timpal Mang Sarmidin,

    "Maksudnya gimana Mang", pancing saya.

     " Ya rakyat harusnya ngga usah di minta iuran tiap bulan, tuh kaya di  Malaysia, rakyat tidak diminta iuran, tapi kalau rakyat ada yang sakit dan berobat,  katanya bebas biaya"

    "Tau dari mana Mang Sarmidin-nya"

    "La itu si Rofi baru pulang dari TKI, cerita begitu".

    "Ooh ya mungkin, Malaysia kan sudah makmur ", kata saya meyakinkan.

     "La kita di Indonesia ini, sedang giat membangun, tapi dananya ngga kaya Malaysia"

    "Masa sih", potong Mang Sarmidin

    "Iya, Indonesia ini hutangnya ngga bisa dihitung Mang Sarmidin dan ngga bakal kebayar dua turunan Mang Sarmidin, makanya kita harus maklum kalau dana BPJS Ketenagakerjaan yang puluhan trilyun, yang seharusnya buat bayar tenaga kerja yang sakit, katanya  juga di pakai untuk membangun infrastruktur". kata saya meyakinkan Mang  Sarmidin.

    "Waduh, trilyun itu berapa"

    "Satu trilyun itu, satu milyar milyar", kata saya, sementara Mang Sarmidin hanya manggut manggut mendengar satu milyar milyar

    "Ooooooooh , ya sudah kalau begitu", jawab Mang Sarmidin mengahiri obrolan


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.