Musibah, Dosa Politik, dan Doa - Analisa - www.indonesiana.id
x

SYAHIRUL ALIM

Menulis, Mengajar dan Mengaji
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Musibah, Dosa Politik, dan Doa

    Dibaca : 799 kali

    Disadari maupun tidak, manusia tentu saja mahluk yang tak pernah luput dari musibah, sekecil apapun bentuknya. Musibah merupakan sesuatu hal yang tak pernah kita harapkan bahkan kita benci keberadaannya. Namun demikian, membaca musibah memang tak harus selalu dikaitkan dengan entitas takdir Tuhan yang buruk, tetapi semata-mata erat kaitannya dengan kesalahan dan dosa dari manusia itu sendiri. Secara teologis, Tuhan akan memilih siapa-siapa yang dikehendaki-Nya ditimpakan musibah, besar ataupun kecil ukurannya disesuaikan dengan kapasitas kekuatan manusia itu sendiri. Tak ada satu orangpun yang dibebani musibah, kecuali dirinya dapat memikul penderitaan akibat musibah tersebut.

    Perlu diingat, bahwa setiap musibah apapun yang terjadi, tentu ada pelajaran penting yang dapat diambil oleh setiap orang. Jika seseorang itu sabar menghadapinya, maka dipastikan kebahagiaan yang akan diperoleh, namun sebaliknya, ketidaksabaran justru akan menambah rumit dan berat suatu musibah yang seseorang dapatkan. Disamping itu, bukan tidak mungkin bahwa Tuhan sesungguhnya secara perlahan sedang mengingatkan kita, betapa kotornya jiwa kita ini dan Tuhan berkehendak mencucinya dengan beragam bentuk musibah yang ditimpakan. Musibah tentu saja tak harus menimpa diri sendiri, tetapi mungkin keluarga kita, kawan, kolega, atau pribadi-pribadi yang dekat dengan kita. Mungkin itulah gambaran musibah yang belakangan ini kerap mendatangi kita, hadir diantara orang-orang dekat kita, sebagai bentuk peringatan melalui kode keras Tuhan.

    Hampir setiap orang tahu, bahwa fenomena politik yang belakangan semakin kuat dirasakan, menyimpan dan memelihara dosa-dosa politik yang justru secara sadar terus diperbuat siapapun. Kelompok elit, penguasa, kaum terpelajar, dan masyarakat biasa bahkan yang awam dalam hal politik sekalipun, sulit melepaskan diri mereka dari dosa-dosa politik. Dunia politik semakin sesak oleh dosa-dosa yang telah diperbuat, tak hanya dalam soal korupsi yang jelas-jelas dosa besar, saling mengumbar aib pribadi justru semakin “ngetren” dalam konteks kepolitikan. Saya kira, hal ini juga merupakan suatu musibah politik yang dalam banyak hal justru tak disukai publik, kecuali oleh mereka yang memang berkepentingan secara politik.

    Dalam dunia politik, kita sudah terbiasa melihat bagaimana serentetan aib seseorang dipublikasikan dan kitapun ternyata menjadi penikmat sejati atasnya. Anehnya, ketika ada ungkapan yang semestinya menjadi doa, justru dianggap “pelecehan”. Kurang pantas rasanya, ketika ada seseorang mendoakan orang lain, tetapi dibalas dengan ungkapan nyinyir bahkan dilecehkan. Jadi, ketika ada orang yang mendoakan pihak lain dengan kalimat-kalimat atau perumpamaan-perumpamaan yang indah, lalu tiba-tiba ada seseorang yang mau muntah atas ungkapan doa tersebut, bukankah itu pelecehan atas kebaikan doa? Lebih parah lagi, banyak penikmat dosa politik yang terus menerus bersuka cita, menambah besar saja musibah politik yang saat ini sedang kita hadapi.

    Saya tak sedang berapologi, apakah dosa politik yang dilakukan sebagian besar orang terkait dengan musibah yang belakangan semakin menambah berat saja beban hidup kita. Namun yang pasti, musibah hanya dapat dibaca melalui kacamata teologis, dimana Tuhan memang “memilih” siapa saja yang pantas ditimpakan musibah. Membaca musibah tak harus dianggap sebagai hal yang menyakitkan, penderitaan panjang, ketidakadilan, namun perlu diyakini sebagai bagian pelajaran hidup yang lebih banyak memberikan dampak kesadaran kepada setiap orang. Bahkan, ketika musibah pesawat jatuh-pun harus dilihat sebagai pembangun entitas kesadaran, dimana kita semakin terbiasa melakukan dosa-dosa dan Tuhan berkehendak menghapusnya.

    Itulah sebabnya, ajaran agama sangat menekankan dimensi kesabaran kepada siapapun, terutama kepada mereka yang memang sedang dalam keadaan tertimpa musibah. Sabar merupakan gerbang utama menuju kebahagiaan, karena hanya melalui musibah yang diiringi kesabaran maka kebahagiaan sejati jelas terwujud. Perhatikan, betapa kita seringkali menyaksikan atau mendengar cerita seseorang yang jatuh-bangun meniti hidup dengan beragam musibah atau sesuatu hal yang tidak diharapkan, tetapi kebahagiaan itu hadir setelah dirinya sukses dalam kesabaran menghadapi segala resikonya. Bagaimana dengan musibah politik dimana dosa-dosa politik yang diperbuat terasa menghimpit, bahkan seolah-olah kita sulit keluar dari jeratan dunia politik yang penuh dosa dan kesalahan? Sepertinya tak ada istilah sabar didalamnya, karena yang ada justru kondisi saling mengumpat dan menghujat, wajar jika kemudian musibah mampir bertubi-tubi.

    Hampir tak pernah ditemukan kalimat-kalimat baik yang terangkum dalam doa disaat menghadapi musibah politik, kecuali ungkapan doa yang sedemikian viral di media sosial yang ditujukan kepada beragam musibah yang terjadi. Padahal, kalimat-kalimat baik yang terungkap dalam doa dapat menyatukan setiap perbedaan yang ada, bahkan melepaskan diri dari beragam kepentingan dan tentu saja lupa akan dosa-dosa politik yang kerapkali diperbuat. Padahal, dalam dimensi teologis, hanya doa yang dapat menahan segala macam musibah dan bencana, karena Tuhan tentu saja hanya dapat dipanggil dan “dipaksa” melalui serangkaian doa yang kita panjatkan. Berdoalah, karena tak ada kalimat yang paling indah kecuali doa, disaat kita berada dalam situasi kecamuk politik yang benar-benar membabi-buta.

    Lalu, bagaimana kita dapat secara tulus mengungkapkan doa kepada Tuhan, karena hampir setiap ungkapan yang baik justru dikatkan dengan dosa-dosa politik yang bahkan kita sendiri tak pernah memahaminya? Bukankah yang terjadi di dunia politik seperti itu? Kita seakan dituntut untuk tidak berdoa dan membiarkan kebiasaan dosa-dosa politik terus berjalan, diungkap, dipublikasikan, sebagai bagian dari kesenangan saling membuka aib dan rahasia setiap orang. Dalam dunia politik, borok setiap orang justru sengaja diungkap demi tujuan kebahagiaan memperoleh kekuasaan. Jika kita masih senang dengan segenap dosa-dosa politik, maka Tuhan tentu saja terus mengingatkan kita, dengan cara mencuci jiwa-jiwa kita yang kotor yang secara perlahan dibersihkan Tuhan melalui serangkaian musibah yang diturunkan. Musibah tak akan berhenti, sebelum jiwa kita bersih dan suci, karena itulah cara Tuhan yang kadang menjadi misteri dan justru kita senang membiarkannya.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.