Virus Kebencian, Sales Panci, dan Jargon Politik - Analisa - www.indonesiana.id
x

SYAHIRUL ALIM

Menulis, Mengajar dan Mengaji
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Virus Kebencian, Sales Panci, dan Jargon Politik

    Dibaca : 367 kali

    Mencuatnya beragam kasus yang berawal dari kebencian, semakin menunjukkan betapa lalu-lintas kedamaian yang semestinya lancar dan nyaman semakin tersendat. Bagaimana tidak, kebencian dan sakit hati dapat saja menjadi pemicu runtuhnya ikatan-ikatan solidaritas sosial yang telah sekian lama terjaga. Kasus seorang mantan sales panci misalnya, seakan memberi pelajaran penting soal dampak kebencian yang tak hanya merugikan teman sepekerjaannya karena difitnah, tetapi juga meresahkan dan mengganggu banyak orang. Ungkapan kebencian yang belakangan kian marak, juga menambah segmentasi sosial, sebagai “barisan sakit hati” yang selalu melihat sisi negatif dari siapapun yang tidak disukainya.

    Sulit untuk tidak mengatakan, benci dan cinta seperti dua sisi mata pisau yang saling berdekatan, tetapi keduanya saling berlawanan. Ketika seseorang mencintai, bisa jadi akan menutup seluruh keburukan dari hal yang ia cintai, begitupun sebaliknya, membenci sesuatu tentu saja menutup apa saja yang membuat anda sendiri jatuh cinta kepadanya. Dua sisi yang saling berlawanan, sehingga sangat tipis sekali jaraknya mengakibatkan cinta dan benci kadang selalu datang secara bersamaan. Anda mungkin saja memandang sesuatu yang disukai atau sesuai dengan selera yang diinginkan, lantas dengan mudahnya anda mencintai. Sebaliknya, apa yang anda pandang sebagai sesuatu yang tidak disukai, maka virus kebencian senantiasa menyertai, bahkan seringkali tak ada celah untuk melihat sisi kebaikan lainnya melalui pandangan cinta.

    Ibarat lalu-lintas kendaraan di jalan raya, virus kebencian seperti penghalang di tengah jalan yang kemudian membuat seluruh laju kendaraan terhenti, macet disana-sini! Mereka yang menebar virus kebencian, tentu saja menghambat laju jalan kedamaian yang sejauh ini justru sangat diharapkan. Diakui maupun tidak, soal politik ternyata penyumbang paling besar dalam hal tumbuh suburnya kebencian di tengah masyarakat. Kita tentu masih ingat, betapa kasus-kasus ujaran kebencian berada pada level yang sangat mengkhawatirkan dibanding kasus-kasus kriminal lainnya. Virus kebencian menjalar cepat, mengikuti setiap sel darah dan bahkan meracuni otak kita sendiri dan itulah fenomena yang seringkali kita saksikan sehari-hari.

    Jika politik menjadi penyumbang virus kebencian nomor satu, maka peringkat keduanya adalah kebencian terhadap salah satu agama. Entah, kenapa ada orang yang begitu membenci agama, lalu agama diolok-olok padahal dirinya sendiri mengaku beragama. Apa yang salah dari agama? Kenapa harus agama yang dibenci dan menjadi bahan olok-olok? Ajaran agama sejatinya mengajarkan kasih sayang, kedamaian, mengajak kepada kebaikan dan mencegah tindakan buruk, lalu dimananya yang salah? Itulah persepsi pribadi yang terjangkiti virus kebencian, yang seringkali hitam-putih dalam memandang banyak hal. Virus kebencian ternyata sanggup menutup kejernihan akal, membuntukan rasa, bahkan menutup segenap aliran darah menuju muara kasih sayang.  

    Saya tak habis pikir, kenapa harus agama yang menjadi sasaran kebencian? Padahal tak ada satupun agama yang mengajarkan kebencian, kecuali kasih sayang. Munculnya video di salah satu akun populer media sosial yang memasak daging babi dan kurma, sepertinya memang sedang mengumbar kebencian kepada agama. Lalu, cukupkah dengan meminta maaf? Lalu selesai semua urusan? Ya, saking mudahnya menjadi pembenci karena virus kebencian telah menutup akal sehatnya, lalu secara sadar meminta maaf karena khilaf. Kekhilafan memang erat dengan kondisi dimana hati yang tertutupi rasa kebencian, sehingga tak ada sama sekali rasa cinta untuk mendamaikan dan menyalurkan rasa kasih sayang.

    Begitu tipisnya antara nilai cinta dan benci, sehingga hampir tak dapat dibedakan kapan kita dalam kondisi mencinta dan membenci. Ada sementara politikus yang giat menyuarakan narasi kemiskinan, kebobrokan, atau kemunduran suatu masyarakat dengan alasan bahwa mereka sangat mencintai masyarakatnya. Tetapi disisi lain, justru sedang menebarkan virus kebencian kepada pihak-pihak kompetitor lainnya. Hebatnya, disisi lain, pihak yang disasar malah melakukan pembalasan dengan jargon-jargon politik yang tak kalah rendahnya karena sama menebar virus kebencian kepada khalayak. Jargon-jargon politik itu muncul dalam suasana bermotif kebencian, jauh dari nilai-nilai kedamaian dan kasih sayang.

    Tengoklah media sosial atau media-media konvensional lainnya yang hampir sulit dikatakan mengacu pada nilai-nilai objektivitas sebagai media pemberi informasi kepada masyarakat. Yang didapatkan, betapa mereka telah menebarkan virus-virus kebencian karena ketidaksukaan mereka kepada salah satu pihak, lalu secara buta karena mencintai pihak lain, menonjolkan secara tidak berimbang kebaikannya. Para politisi berlomba-lomba membuat jargon politik yang saling sindir, saling nyinyir, dan saling plintir. Masyarakatpun ikut-ikutan terbawa arus menjadi penyebar virus kebencian, sehingga hampir-hampir lalu lintas kedamaian dan kenyamanan di seantero negeri ini tak pernah mulus laju perjalanannya. Padahal, sungguh tak ada ruginya menebarkan kasih sayang, cinta, dan kedamaian, karena efek vibrasinya dapat mendorong orang lain melakukan hal yang sama.

    Mereka yang terpapar virus kebencian tentu saja hampir seluruh segmentasi masyarakat, tak peduli elit, tokoh masyarakat, tokoh agama, penguasa, pegiat media, bahkan hingga sales panci tiba-tiba menjadi pribadi pembenci. Tak peduli orang pintar atau ahli agama, mereka yang dipercayakan menjadi pemimpin-pun tak kalah hebatnya terpapar virus kebencian yang sedemikian menjalar. Yang paling memilukan, ketika ada ungkapan “Tuhan masih menyayangi keluarga saya yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat”, justru dibalas dengan ungkapan kebencian dengan menyebut, “gue paling benci ungkapan ini, seakan-akan Tuhan tidak sayang kepada mereka yang terdampak musibah”. Betapa virus kebencian ini tak sekadar menjadi fakta dalam dunia politik, tetapi dalam suatu musibah-pun ia kerap menutup kendali akal sehat seseorang.

    Wajar memang, karena begitu luasnya paparan virus kebencian yang menulari masyarakat, maka proses ke arah perdamaian menjadi semakin sulit. Masyarakat akan terkotak-kotak menjadi agen-agen penebar virus kebencian yang memacetkan seluruh lalu lintas keadaban dan kedamaian. Betapa sulitnya kita menjadi pribadi yang senantiasa memandang setiap masalah dengan pertimbangan kekuatan akal sehat, yang ada justru perasaan yang semakin menguat mengalahkan apapun termasuk perasaan cinta yang memang telah mulai berkarat.

    Kita seakan tak ada pilihan, hanya rasa cinta dan benci yang terlampau berlebih, sehingga wajar jika akal sehat kita memang telah tertutup rapat-rapat. Saya jadi teringat sebuah pepatah lama, “Manis jangan lekas dilulur, pahit jangan lekas diluahkan, gumam-gumamlah dahulu”. Pepatah ini tentu saja memberikan pelajaran, anda jangan terlampau mencintai atau membenci, sewajarnya saja, dan yang terpenting gunakanlah akal sehat sebagai pertimbangan dalam menyelesaikan banyak hal, bukan perasaan yang lambat laun mendorong anda lebih jauh tersesat. Jadi, selamatkan generasi kita dari penyebaran virus kebencian, karena bagaimanapun kita tentu saja lebih menyukai perdamaian dimana lalu lintas keadaban dan kedamaian tentu akan berjalan mulus.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.




    Oleh: honing

    11 jam lalu

    Terlalu Sulit Menjadi Perempuan

    Dibaca : 69 kali

    Seorang pemikir perancis bernama Jacques Rousseau pernah berkata: “Manusia dilahirkan bebas, namun dimana-mana, ia dipenjara.” Kira-kira begitulah nasib perempuan. Ia dilahirkan bebas, namun dimana-mana, ia dipenjara. Di penjara oleh apa? dipenjara oleh sistem kolot yg ingin mendominasi. Jadi musuh utama perempuan adalah mental patriarki. Apa itu mental patriarki? mental patriarki adalah mental yang menindas perempuan dengan menggunakan ajaran-ajaran tradisional yang ditafsirkan secara bodoh dan serampangan. Mental ini seringkali dibiarkan dan akhirnya semacam menjadi sistem sosial yang di legalkan. Dalam kebudayaan kita, sistem ini begitu halus sehingga sebagian perempuan pun tidak merasakannnya. Jadi untuk menjelaskan hal ini, saya punya satu contoh cerita dalam keluarga saya. Ceritanya begini: Saya punya seorang sepupu (laki-laki) yang seusai tamat SMA, ia kembali ke kampung. Disana ia menikah dengan seorang perempuan yg ia kenal saat berkunjung ke sebuah kecamatan. Keluarga akhirnya berkumpul untuk melangsungkan acara adat (Masok minta). Setelah itu mereka akhirnya dikarunia 3 orang anak. Dalam beberapa tahun, keluarga kecil mereka baik-baik saja. Hanya saja, semua berubah saat sepupu saya mulai bekerja di kantor koperasi. Ia sering kali keluar ke beberapa kecamatan untuk menagih utang. Karna pekerjaan inilah, saudara saya akhirnya bertemu dan berkenalan dengan perempuan lain. Setelah berkenalan, kehidupan keluarga mereka berubah. Sepupu saya sering marah-marah dan memukul istrinya. Ia pun menyuruh istrinya untuk meninggalkan rumah mereka. Beberapa bulan kemudian, sepupu saya mulai membawa perempuan yang ia kenal ke rumah mereka. Ia kenalkan perempuan baru ini kepada ayah dan ibunya. Istri sah-nya yang memiliki 3 orang anak ini hanya bisa menangis. ia tidak tau harus mengadu kemana. Ia pun malu dan bingung karna sudah diusir oleh suaminya. Jika ia memilih untuk tetap bertahan, ia sudah tidak dianggap lagi. Sedangkan kalau dia memilih untuk meninggalkan suaminya, bagaimana dengan tiga orang buah hatinya. Oh iya, dalam bahasa daerah kita (bahasa dawan) , diceraikan biasa disebut dengan mpoli. Mpoli artinya diceraikan/dibuang/ditinggalkan. Sungguh, ini adalah sebuah kata yang justru semakin mendiskrimanasi seorang perempuan. Lanjut soal cerita diatas. Singkat cerita, istri sah dari sepupu saya ini akhirnya memilih meninggalkan suaminya. Ia membawa tiga orang anaknya kembali ke orang tuanya. Sesampainya dikeluarganya, 3 orang anaknya ia titipkan kepada kedua orang tuanya, lalu beberapa bulan kemudian ia memilih menjadi TKW di Malaysia. Cerita ini adalah kisah nyata yang terjadi sekitar 5 tahun lalu. Dalm tulisan ini, saya hanya mau mengajak kita untuk coba memikirkan masalah-masalah seperti ini dari sudut pandang perempuan. Coba bayangkan, sudah punya 3 orang anak lalu suaminya memilih bersama perempuan lain. Pertanyaan yang muncul setelah ini adalah bagaimana nasip 3 orang anak tersebut yg akan tumbuh dan besar tanpa kasih sayang orang tua? lalu coba kita pikirkan perasaan seorang perempuan yang diceraikan dan diperlakukan seolah tidak berharga. Bayangkan, laki-laki yang adalah sepupu saya, membawa perempuan lain ke rumah mereka. Kebetulan selama ini mereka tinggal dirumah tua atau tinggal bersama orang tua laki-laki. Salah satu hal yang membuat saya tidak bisa bayangkan adalah saat diceraikan, diusir dari rumah, bagaimana perasaan perempuan tersebut? Ia harus malu pada keluarga laki-laki, juga malu pada orang kampung yang sudah mengnggap rendah perempuan yang telah di ceraikan. Dalam kondisi seperti itu, tentunya perempuan akan depresi, dan sangat rentan pada banyak masalah-masalah sosial lainnya. Cerita seperti yang terjadi diatas sangatlah banyak dalam kehidupan kita. Sayangnya, dalam masalah-masalah seperti itu sudah dianggap biasa dalam kebudayaan kita. Dalam banyak kasus, laki-laki bahkan tidak pernah disalahkan. Yang sering terjadi adalah perempuan yang dianggap tidak mampu memuaskan suami, tidak becus urus keluarga dan lain-lain. Cerita diatas hanya salah satu contoh saja bahwa dalam kebudayaan kita, masih tersembunyi sistem patriarki yang membuat posisi perempuan selalu berada dibawah. Untuk itu, kita perlu dengan jeli untuk mendeteksi hal-hal dalam kebudayaan kita, agar hal-hal seperti diatas bisa kita tolak dan kalau bisa kita hilangkan sistem patriarki ini. Untuk melawan hal itu, perempuanlah yang harus berani untuk bersuara dan melawan. Perempuan harus betul-betul mampu melihat setiap masalah yang terjadi dgn jernih. Ini penting agar tidak malah menyalahkan perempuan dengan cepat-cepat mendukung posisi laki-laki. Banyak berita yang kalau kita baca di berbagai media. Perempuan hanya disuruh mengurus anak dan masalah-masalah rumah tangga lainnya, sedangkan laki-laki bebas bepergian kemana pun. Saat anak kekurangan susu, laki-laki masih terus santai dengan menarik rokok tanpa henti. Jika ada masalah dalam rumah tangga, perempuanlah yang akhirnya dikorbankan. Kalau perempuan dikorbankan, makan anak juga ikut dikorbankan. Selanjutnya, kita perlu menghilangkan sistem patriarki ini dengan mendidik anak laki-laki dan perempuan tanpa membeda-bedakan. Jangan menanam sistem patriarki pada anak laki-laki dengan membiarlan memukul saudara perempuannya, karna kalau tidak, ini akan terus terbawa sampai kelak ia berumah tangga. Kita semua memasuki gerbang kehidupan melalui perempuan. Sebagian besar manusia menjadi penghuni rahim perempuan selama sembilan bulan. Disanalah kehidupan tercipta. Ketika pertama kali menginjak dunia, kita juga dibimbing oleh perempuan. Cara-cara hidup dunia juga pertama kali diajarkan oleh perempuan. Perempuanlah yang sesungguhnya menjadi tulang punggung keluarga. Tanpa kasih sayang perempuan, keluarga akan tersesat di jalan. Sayangnya, hampir di seluruh penjuru dunia, perempuan dipenjara. Budayalah yang memenjarakannya. Masyarakat menjajahnya. Perempuan memberi, namun ia tak pernah sungguh dihargai. Dia tak boleh belajar. Kecerdasan dianggap sebagai sumber pemberontakan yang menganggu harmoni masyarakat. Dia bahkan tak boleh bekerja. Seumur hidupnya, semua keputusannya didikte oleh lingkungan sosialnya, terutama para laki-laki. Sebagai ibu dari kehidupan, perempuan harus keluar dari penindasan ini. Ia mesti sadar, bahwa peran sosial yang ia jalani bukanlah sebuah kemutlakan. Berbagai pilihan ada di tangannya. Kaum perempuan perlu sadar bahwa kehidupan bertopang di bahu mereka. Mereka mesti bangkit dari perasaan tak berdaya yang ditimpakan oleh masyarakat. Namun, ini semua tergantung dari perempuan itu sendiri. Bisa dibilang, kunci perubahan sosial ada di dalam cara perempuan memandang dunianya. Menjadi perempuan berarti menjadi perawat kehidupan. Menjadi perempuan juga berarti hidup dalam dilema. Ia dipuja dan dibutuhkan, namun dijajah sepanjang jalan kenangan. Sudah waktunya, dilema ini diakhiri. Kita perlu mendorong pembebasan kaum perempuan. Sekarang.


    Oleh: honing

    13 jam lalu

    Perbedaan Identitas kok Jadi masalah?

    Dibaca : 97 kali

    Terlalu banyak konflik di Indonesia terjadi karena perbedaan identitas. Perbedaan ras, suku, agama, sampai dengan pemikiran hampir setiap hari kita saksikan di berbagai media. Perbedaan ini seringkali dijadikan sebagai pembenaran untuk memupuk dendam, saling hujat, hingga saling menaklukan. Lingkaran kebencian dan dendam pun seakan berputar pada masalah identitas semacam ini. Sayangnya, kita tak pernah belajar dari berbagai konflik yang diakibatkan dari kesalahpahaman kita akan identitas ini. Kita punya setumpuk pengalaman akibat perbedaan identitas, mulai dari deskriminasi mayoritas terhadap minoritas, perpisahan sepasang kekasih akibat berbeda suku, hingga tawuran antar pelajar yang adalah contoh kongkrit dari kesalahpahaman kita akan identitas. Lantas apa itu identitas? dan kenapa perbedaan identitas selalu menjadi masalah? Identitas itu adalah label sosial yang ditempelkan kepada kita. Label itu ditempelkan kepada kita, karena kita menjadi bagian dari suatu kelompok atau komunitas tertentu. Nah, didunia ini ada beragam bentuk identitas atau label yang berpijak pada kelompok tertentu, mulai dari organisasi, ras, agama, suku, negara, hingga gender. Lalu dari mana kita menerima label-label itu? Kita menerima label atau identitas itu dari tempat, keluarga atau komunitas dimana kita dilahirkan. Kita menerima label atau identitas ini sejak lahir tanpa diberi pilihan. Identitas itu pun bisa berubah kapan saja, jika diinginkan. Bahkan identitas diri sendiri seperti nama pun bisa kita ubah kapan saja. Bisa kita buatkan julukan, samaran dan sebagainya. Sekali lagi, semua itu dimungkinkan, jika kita mau. Hal itu sama dengan berbagai identitas lainnya, salah sagunya adalah agama. Siapapun bisa masuk ke agama tertentu, dan juga bisa keluar atau berpindah ke agama yang lain, jika diinginkan. Perubahan keyakinan atau agama itu sejatinya adalah suatu hal yang lumbrah dalam proses kehidupan ini. Bukankah kita semua sepakat bahwa dalam hidup ini semuanya berubah? bahkan kata orang, yang tak berubah hanyalah perubahan itu sendiri. Masalahnya adalah, kita sering menyamakan dan melekatkan diri kita pada identitas sosial yang kita punya. Akhirnya banyak konflik terjadi akibat dari orang menyamakan dirinya dengan identitasnya. Kemelekatan akan identitas atau label ini menjangkit banyak kalangan tanpa kenal usia dan jabatan. Contoh dari kemelekatan seperti ini bisa kita temukan dimana saja. Banyak pembela agama yang berlagak melebihi Tuhan adalah hasil dari kesalahan mereka dalam memahami identitas. Mereka akhirnya begitu cepat tersinggung hanya karna menganggap agama sebagai diri mereka sendiri. Bahkan tak sesekali menafsirkan dan bertindak melebihi Tuhan itu sendiri. Para plitisi bermental feodal yang suka membangun politik dinasti adalah contoh lain dari kesalahan memahami identitas. Mereka menyamakan jabatan dengan dirinya, atau keluarganya sendiri. Akibatnya, saat kita mengkritisi posisinya sebagai kepala daerah, ia sangat mudah tersinggung karena merasa kita sedang menghina dirinya. Contoh lain dari kemelekatan seperti ini juga bisa kita temukan dalam hubungan (pacaran) kawan-kawan muda. Banyak yang saat masih berpacaran, sudah cepat-cepat menyamakan dan menganggap bahwa kekasihnya adalah miliknya. Padahal dalam hubungan berpacaran, semua bisa berubah kapan saja. Akhirnya, saat kekasihnya memutuskan hubungan atau berselingkuh, ia mengalami depresi yang sangat berat hingga bunuh diri hanya akibat dari kemelekatan semacam ini. Kemelekatan pada identitas atau label ini juga seringkali membuat kita sangat sensitif. Ketika salah satu label yang kita pegang itu dikritik, kita pun merasa terhina. Saat ada salah satu anggota dari komunitas (agama) kita berpindah keyakinan, kita pun menghujat karena merasa identitas kita tak dijaga atau tak diistimewakan. Tapi pada saat anggota dari komunitas yang lain masuk ke komunitas kita, kita justru merasa bangga. Tahun lalu, dalam sebuah seminar disalah satu kampus swasta di Surabaya. Salah seorang Dosen filsafat asal Surabaya, Rizal A Watimena, pernah berkata bahwa identitas itu punya dua karakter dasar, yakni kesementaraan dan kerapuhan. Orang yang melekatkan dirinya pada identitasnya, sama dengan ia melekatkan dirinya pada sesuatu yang sementara dan rapuh. Saya sepakat dengan beliau, identitas itu sementara dan rapuh, karena ia bisa berubah kapan saja. Konsep-konsep identitas, seperti ras, suku, agama, profesi dan aliran pemikiran, adalah ciptaan dari pikiran manusia. Karena ia adalah hasil ciptaan dari pikiran manusia, maka ia pun bisa kita ubah kapan saja, jika diinginkan. Orang bisa menjadi bagian dari suatu ras, suku atau agama tertentu, tetapi ia juga bisa melepaskan diri dari semua label atau identitas tersebut, kalau ia mau. Semua ini penting untuk dipahami. Ini bukan berarti kita tidak membutuhkan label atau identitas dalam hidup. Tapi kita menjaga jarak dari identitas itu sendiri agar kita tidak terjebak dalam lingkaran kebencian, saling hujat, memuja fanatisme buta, atau jatuh pada diskriminasi yang justru kita langgengkan sendiri. Sudah saatnya kita sadar dan belajar bahwa banyak konflik di Indonesia ini terjadi bukan karna perbedaan identitas, tapi karna banyak orang salah memahami perbedaan identitas. Hanya dengan menyadari hal ini, kita bisa dan mampu melihat setiap perbedaan dan pilihan identitas setiap orang bukan sebagai neraka, tapi sebagai kekayaan yang lahir warna-warni surga kehidupan itu sendiri. Salam



    Oleh: honing

    11 jam lalu

    Mendesain Sektor Pendidikan dan Pariwisata di Kabupaten TTS

    Dibaca : 56 kali

    Sebagian pemangku kebijakan didaerah memang masih ada yang beranggapan bahwa dengan menarik investor untuk mengelola sumber daya alam didaerah kita, maka seluruh permasalahan di kabupaten Timor Tengah Selatan akan terselesaikan. Pertumbuhan ekonomi akan meningkat, kemiskinan berkurang dan masyarakat akan sejahtera. Pertanyaannya apakah sesederhana itu? Menurut saya tidak. Pergerakan capital ke suatu daerah tanpa diikuti dgn pergerakan sumber daya manusia yang handal tidak akan menciptakan dampak ekonomi yang luas. Ini mungkin tepatnya seperti apa yang sedang terjadi saat ini. Saat pemerintah pusat mengalokasiskan dana ke daerah-daerah tertinggal atau menggelontorkan dana kesetiap desa, tapi tidak memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Dana-dana yang digelontorkan itu seharusnya dimaknai sebagai stimulus saja. tidak lebih. Lalu, harus dimulai dari mana? Menurut saya, daerah kita akan semakin membaik jika kita memperkuat sumber daya manusia. Untuk meningkatkan sumber daya manusia Timor Tengah Selatan (TTS) yang handal bisa kita lakukan dengan jalan menjadikan Kota Soe sebagai kota pendidikan. Dimana ini nantinya akan menghasilkan efek ganda yang akan membawa perubahan mendasar pada sektor ekonomi yang juga berdampak pada peningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Kita seharusnya tidak perlu malu-malu untuk belajar dari kota malang sebagai contoh. Mari coba dihitung, seandainya saat ini ada 300 anak TTS yang sedang menempuh pendidikan kota malang. Jika biaya hidup mereka (uang kos + makan minum) dalam sebulan adalah 1juta, maka setiap bulannnya uang dari kabupaten TTS yang seharusnya berputar di TTS harus keluar dan berputar di kota malang mencapai 300 juta (300 mahasiswa x 1juta). Ini mungkin salah satu contoh sederhana saja, bahwa kita sebetulnya juga ikut membangun kota Malang dan kota-kota lainnya. Nah, mari kita hitung ada berapa ribu mahasiswa TTS yang tersebar di Jogja, Salatiga, Malang, Surabaya, Kupang, Kediri dan lain-lain. Coba bayangkan, ada berapa banyak uang yang keluar dari daerah kita dalam setiap bulannya? Selain menata sektor pendidikan, Para pemangku kebijakan juga tidak perlu kaku untuk menata sektor pariwisata di Timor Tengah Selatan dengan memberi julukan bagi daerah ini. Seperti halnya Jogja dengan julukan kota pelajar, atau Malang dengan julukan kota pendidikan. Hanya dengan julukan seperti itu, sudah membuat jutaan orang datang ke kota-kota ini, dan ikut membangun kota ini tanpa disadari. Lalu bagaimana dengan daerah kita? Apakah kita masih ingin terus bertahan dengan julukan kota dingin? Selanjutnya, saya percaya bahwa kalau SDM yang handal ini kemudian hadir bersamaan dengan pergerakan modal, pasti akan mendorong kemajuan ekonomi didaerah kita. Jika langkah ini sudah kita lakukan, maka selanjutnya tugas kita adalah terus menerus memastikan agar SDM tersebut kemudian juga mengakumulasi capital, sehingga menciptakan inovasi dan mencetak SDM yang lebih handal. Hal ini penting, supaya dalam konteks pergerakan capital dan SDM itu harus mampu mendorong terciptanya pusat penelitian, fasilitas sosial dan pendidikan yang lebih baik secara berkala. Sekali lagi, coba bayangkan jika daerah kita ini dijadikan sebagai salah satu kota pendidikan, lalu dengan adanya sekolah dan kampus-kampus ini, para pengajarnya mendapatkan bea siswa keluar negri. Pastinya, kampus-kampus dan sekolah ini akan menjadi sumber penyebaran pengetahuan, dan tentunya akan terus menciptakan SDM yang handal. Belum berhenti disitu, dengan adanya kampus-kampus dan sekolah ini, tentunya akan ada pusat-pusat penelitian, dan dengan fasilitas yang ada maka sudah pasti akan menjadi corong inovasi dan teknologi yang selanjutnya akan kita gunakan untuk membangun daerah kita. Jika hal ini ditangkap oleh para pemangku kebijakan dan dengan pelan-pelan menata kembali birokrasi, menyediakan regulasi yang mendukung dan memfasilitasi masyarakat lokal, maka kedepan daerah kita akan memiliki aset baru yaitu berupa generasi dan tenaga kerja yang handal, yang kemudian akan menciptakan nilai ekonomi baru. Lalu pertumbuhan ini tentu akan menarik tenaga kerja handal di daerah lain untuk masuk ke wilayah ini dan menciptakan pertumbuhan lagi. Ini pasti akan berlangsung terus sehingga menjadi sebuah siklus yang berulang. Memang tugas para pemangku kebijakan di daerah kita ini kedepan haruslah benar-benar melihat kebutuhan daerah dalam jangka panjang, lalu membuat skala prioritasnya sambil pelan-pelan bergerak menuju apa yang sudah direncanakan dan apa yang ingin dituju. Menata tempat wisata di TTS Disamping fokus untuk menata dan memperbaiki pendidikan di TTS yang berfokus pada kualitas. Pemerintah juga perlu pelan-pelan memoles beragam wisata yang ada di TTS agar terintegrasi dengan aktivitas masyarakat, dan juga mampu menghasilkan efek ganda pada sektor ekonomi sehingga dapat meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Beragam potensi wisata yang ada di TTS juga perlu dikaji dan di rencanakan dengan matang supaya tidak mengesampingkan masyrakat yang ada disekitar tempat-tempat wisata. Disamping itu, setiap bangunan kantor pemerintah, rumah warga, vila dan lain-lain disekitar tempat wisata perlu untuk dikawinkan dengan motif dan corak lokal yang ada di TTS. Hal ini penting agar ciri khas dari daerah kita benar-benar menyatu dengan bangunan dan budaya yang kita punya. Khusus untuk pembangunan vila di sekitar tempat wisata, menurut saya perlu untuk dibatasi agar dampak langsung dari tempat-tempat wisata ini tidak hanya nikmati oleh sekelompok orang saja yang mempunyai modal. Jadi, yang perlu diperkuat oleh pemerintah adalah rumah-rumah warga yang ada disekitar tempat wisata. Setiap rumah yang ada disekitar tempat wisata, minimal ada satu kamar yang harus diperbaiki untuk disewakan. Hal ini penting agar masyarakat tidak hanya menjadi penonton disekitar tempat wisata. Disamping itu, makanan-makan lokal, kerajinan tangan dan lain-lain juga bisa langsung dijual kepada para pengunjung disekitar tempat wisata yang ada. Terkahir, tidak berlebihan jika saya beranggapan bahwa tugas pemerintah daerah ini haruslah seperti memoles Nona Timor. Tidak perlu mengumbarnya, tapi memolesnya pelan-pelan, memberikan pendidikan, mengajarkan budaya halus dan memasak, sehingga kelak ia bisa memenangkan hati seorang pria yang baik dan bertanggung jawab. Dan untuk memulai hal ini, para pemangku kebijakan haruslah benar-benar memiliki komitmen yang kuat, dengan hadir untuk memberikan stimulus terlebih dahulu.