Virus Kebencian, Sales Panci, dan Jargon Politik - Analisa - www.indonesiana.id
x

SYAHIRUL ALIM

Menulis, Mengajar dan Mengaji
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Virus Kebencian, Sales Panci, dan Jargon Politik

    Dibaca : 406 kali

    Mencuatnya beragam kasus yang berawal dari kebencian, semakin menunjukkan betapa lalu-lintas kedamaian yang semestinya lancar dan nyaman semakin tersendat. Bagaimana tidak, kebencian dan sakit hati dapat saja menjadi pemicu runtuhnya ikatan-ikatan solidaritas sosial yang telah sekian lama terjaga. Kasus seorang mantan sales panci misalnya, seakan memberi pelajaran penting soal dampak kebencian yang tak hanya merugikan teman sepekerjaannya karena difitnah, tetapi juga meresahkan dan mengganggu banyak orang. Ungkapan kebencian yang belakangan kian marak, juga menambah segmentasi sosial, sebagai “barisan sakit hati” yang selalu melihat sisi negatif dari siapapun yang tidak disukainya.

    Sulit untuk tidak mengatakan, benci dan cinta seperti dua sisi mata pisau yang saling berdekatan, tetapi keduanya saling berlawanan. Ketika seseorang mencintai, bisa jadi akan menutup seluruh keburukan dari hal yang ia cintai, begitupun sebaliknya, membenci sesuatu tentu saja menutup apa saja yang membuat anda sendiri jatuh cinta kepadanya. Dua sisi yang saling berlawanan, sehingga sangat tipis sekali jaraknya mengakibatkan cinta dan benci kadang selalu datang secara bersamaan. Anda mungkin saja memandang sesuatu yang disukai atau sesuai dengan selera yang diinginkan, lantas dengan mudahnya anda mencintai. Sebaliknya, apa yang anda pandang sebagai sesuatu yang tidak disukai, maka virus kebencian senantiasa menyertai, bahkan seringkali tak ada celah untuk melihat sisi kebaikan lainnya melalui pandangan cinta.

    Ibarat lalu-lintas kendaraan di jalan raya, virus kebencian seperti penghalang di tengah jalan yang kemudian membuat seluruh laju kendaraan terhenti, macet disana-sini! Mereka yang menebar virus kebencian, tentu saja menghambat laju jalan kedamaian yang sejauh ini justru sangat diharapkan. Diakui maupun tidak, soal politik ternyata penyumbang paling besar dalam hal tumbuh suburnya kebencian di tengah masyarakat. Kita tentu masih ingat, betapa kasus-kasus ujaran kebencian berada pada level yang sangat mengkhawatirkan dibanding kasus-kasus kriminal lainnya. Virus kebencian menjalar cepat, mengikuti setiap sel darah dan bahkan meracuni otak kita sendiri dan itulah fenomena yang seringkali kita saksikan sehari-hari.

    Jika politik menjadi penyumbang virus kebencian nomor satu, maka peringkat keduanya adalah kebencian terhadap salah satu agama. Entah, kenapa ada orang yang begitu membenci agama, lalu agama diolok-olok padahal dirinya sendiri mengaku beragama. Apa yang salah dari agama? Kenapa harus agama yang dibenci dan menjadi bahan olok-olok? Ajaran agama sejatinya mengajarkan kasih sayang, kedamaian, mengajak kepada kebaikan dan mencegah tindakan buruk, lalu dimananya yang salah? Itulah persepsi pribadi yang terjangkiti virus kebencian, yang seringkali hitam-putih dalam memandang banyak hal. Virus kebencian ternyata sanggup menutup kejernihan akal, membuntukan rasa, bahkan menutup segenap aliran darah menuju muara kasih sayang.  

    Saya tak habis pikir, kenapa harus agama yang menjadi sasaran kebencian? Padahal tak ada satupun agama yang mengajarkan kebencian, kecuali kasih sayang. Munculnya video di salah satu akun populer media sosial yang memasak daging babi dan kurma, sepertinya memang sedang mengumbar kebencian kepada agama. Lalu, cukupkah dengan meminta maaf? Lalu selesai semua urusan? Ya, saking mudahnya menjadi pembenci karena virus kebencian telah menutup akal sehatnya, lalu secara sadar meminta maaf karena khilaf. Kekhilafan memang erat dengan kondisi dimana hati yang tertutupi rasa kebencian, sehingga tak ada sama sekali rasa cinta untuk mendamaikan dan menyalurkan rasa kasih sayang.

    Begitu tipisnya antara nilai cinta dan benci, sehingga hampir tak dapat dibedakan kapan kita dalam kondisi mencinta dan membenci. Ada sementara politikus yang giat menyuarakan narasi kemiskinan, kebobrokan, atau kemunduran suatu masyarakat dengan alasan bahwa mereka sangat mencintai masyarakatnya. Tetapi disisi lain, justru sedang menebarkan virus kebencian kepada pihak-pihak kompetitor lainnya. Hebatnya, disisi lain, pihak yang disasar malah melakukan pembalasan dengan jargon-jargon politik yang tak kalah rendahnya karena sama menebar virus kebencian kepada khalayak. Jargon-jargon politik itu muncul dalam suasana bermotif kebencian, jauh dari nilai-nilai kedamaian dan kasih sayang.

    Tengoklah media sosial atau media-media konvensional lainnya yang hampir sulit dikatakan mengacu pada nilai-nilai objektivitas sebagai media pemberi informasi kepada masyarakat. Yang didapatkan, betapa mereka telah menebarkan virus-virus kebencian karena ketidaksukaan mereka kepada salah satu pihak, lalu secara buta karena mencintai pihak lain, menonjolkan secara tidak berimbang kebaikannya. Para politisi berlomba-lomba membuat jargon politik yang saling sindir, saling nyinyir, dan saling plintir. Masyarakatpun ikut-ikutan terbawa arus menjadi penyebar virus kebencian, sehingga hampir-hampir lalu lintas kedamaian dan kenyamanan di seantero negeri ini tak pernah mulus laju perjalanannya. Padahal, sungguh tak ada ruginya menebarkan kasih sayang, cinta, dan kedamaian, karena efek vibrasinya dapat mendorong orang lain melakukan hal yang sama.

    Mereka yang terpapar virus kebencian tentu saja hampir seluruh segmentasi masyarakat, tak peduli elit, tokoh masyarakat, tokoh agama, penguasa, pegiat media, bahkan hingga sales panci tiba-tiba menjadi pribadi pembenci. Tak peduli orang pintar atau ahli agama, mereka yang dipercayakan menjadi pemimpin-pun tak kalah hebatnya terpapar virus kebencian yang sedemikian menjalar. Yang paling memilukan, ketika ada ungkapan “Tuhan masih menyayangi keluarga saya yang selamat dari sebuah kecelakaan pesawat”, justru dibalas dengan ungkapan kebencian dengan menyebut, “gue paling benci ungkapan ini, seakan-akan Tuhan tidak sayang kepada mereka yang terdampak musibah”. Betapa virus kebencian ini tak sekadar menjadi fakta dalam dunia politik, tetapi dalam suatu musibah-pun ia kerap menutup kendali akal sehat seseorang.

    Wajar memang, karena begitu luasnya paparan virus kebencian yang menulari masyarakat, maka proses ke arah perdamaian menjadi semakin sulit. Masyarakat akan terkotak-kotak menjadi agen-agen penebar virus kebencian yang memacetkan seluruh lalu lintas keadaban dan kedamaian. Betapa sulitnya kita menjadi pribadi yang senantiasa memandang setiap masalah dengan pertimbangan kekuatan akal sehat, yang ada justru perasaan yang semakin menguat mengalahkan apapun termasuk perasaan cinta yang memang telah mulai berkarat.

    Kita seakan tak ada pilihan, hanya rasa cinta dan benci yang terlampau berlebih, sehingga wajar jika akal sehat kita memang telah tertutup rapat-rapat. Saya jadi teringat sebuah pepatah lama, “Manis jangan lekas dilulur, pahit jangan lekas diluahkan, gumam-gumamlah dahulu”. Pepatah ini tentu saja memberikan pelajaran, anda jangan terlampau mencintai atau membenci, sewajarnya saja, dan yang terpenting gunakanlah akal sehat sebagai pertimbangan dalam menyelesaikan banyak hal, bukan perasaan yang lambat laun mendorong anda lebih jauh tersesat. Jadi, selamatkan generasi kita dari penyebaran virus kebencian, karena bagaimanapun kita tentu saja lebih menyukai perdamaian dimana lalu lintas keadaban dan kedamaian tentu akan berjalan mulus.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.







    Oleh: Salsabila Zulfani

    1 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 112 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.