Peace Keeping era SBY Banyak Lahirkan Prajurit Hebat - Analisa - www.indonesiana.id
x

yoyo tuna

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Peace Keeping era SBY Banyak Lahirkan Prajurit Hebat

    Dibaca : 3.240 kali

    Pada tanggal 19 Desember 2011 lalu, Presiden Republik Indonesia ke 6 Susilo Bambang Yudhoyono telah meresmikan kawasan Indonesian Peace and Security Center, Bukit Merah Putih, Sentul, Bogor, Jawa Barat.

    Di kawasan ini berbagai fasilitas pendidikan dan pelatihan misi pemeliharaan perdamaian terpusat bersakala dunia digelar.

    Sebagai mantan Jenderal, SBY menginginkan para anggota TNI maupun Polri dalam bertugas di luar negeri khususnya daerah konflik memiliki skill, atau keterampilan dalam berbagai tugas, diantaranya kemampuan bahasa, keahlian menyetir dan kurangnya pengetahuan soal misi perdamaian.

    Tak hanya dibidang kemiliteran yang menjadi unggulan bagi perwira maupun bintara yang akan bertugas diluar negeri. Bidang lainya seperti penanggulangan bencana, penanganan terorisme, dan stand by force atau satuan tempur mekanis juga tersedia guna pembekalan bagi tentara yang bertugas di luar negeri.

    Terbukti, dalam kurun waktu tidak lebih satu tahun berjalan Indonesia diminta Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjalankan misi ke Suriah pada tahun 2012. Padahal, personil baru saja menjalankan tugas perdamaian di enam misi lain seperti UNAMED, UNIFIL, Sudan, Kongo, Liberia dan Lebanon.

    Sebelum berdirinya kampus Indonesian Peace and Security Center, banyak perwira dan bintara tak bisa diberangkatkan karena terkendala bahasa dan keterampilan lainya.

    Minimnya kemampuan para perwira ini juga berakibat buruk. Beberapa anggota kontingen terpaksa kembali ke Tanah Air, padahal mereka belum lama tiba di lokasi.

    "Jumlah perwira-perwira Indonesia yang menjadi leaders tidak terlalu banyak karena hambatan bahasa dan pengetahuan tentang peace keeping mission itu sendiri,"kata SBY dalam jurnal Pidato kenegaraan disaat menjabat Presiden ke 6 RI beberapa tahun silam.

    Indonesia sebagai negara besar harus memiliki kekuatan militer yang kuat. Mengingat, banyaknya pulau yang berada di teritorial NKRI begitu luas. Sehingga membutuhkan pengetahuan serta keterampilan belajar dari pengalaman menjaga perdamaian internasional di daerah konflik.

    Beda pemerintahan tentu beda cara serta program yang dibuat. Di zaman pemerintah Jokowi tak banyak prestasi yang terdengar dari pasukan garuda dalam menjalankan misi. Hal ini bisa disebabkan latar belakang Presiden yang tak mengerti dengan militer.

    Malahan, banyak asset negara yang dilepas dan dijual kepada pihak asing guna menutup utang yang jumlahnya hampir Rp20 Triliun. Malah, anggaran kemiliteran tidak menjadi perhatian pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.

    Semoga kejayaan TNI kembali bergairah dalam membantu PBB dalam menjalankan misi perdamaian dunia yang sedikit dilupakan pemerintah. Karena pemerintah lebih mengedepankan anggaran untuk Infrastruktur yang tidak seharusnya diunggulkan.

    Sebagai masyarakat tentu mengingkan negara tercinta disegani negara lain terlebih kekuatan pertahanan negara,agar tidak diremehkan bangsa lain. Semoga!


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.













    Oleh: Admin

    3 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 812 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).