Penggerebekan Ala Vicky Prasetyo, Stop Tayangan Merusak Pola Pikir Anak - Analisis - www.indonesiana.id
x

Retno Listyarti

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Penggerebekan Ala Vicky Prasetyo, Stop Tayangan Merusak Pola Pikir Anak

    Dengan menggunakan saluran milik publik, Vicky dan Lelga telah menjejali anak-anak dengan persoalan perselingkuhan dan kekerasan.

    Dibaca : 22.870 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    PERSETERUAN ANGEL LELGA VS VICKY PRASETYO, TAYANGAN TAK BERMAFAAT DAN BERPOTENSI MERUSAK POLA PIKIR ANAK-ANAK

    Sedang viral di berbagai media sosial dan media online terkait pemberitaan penggerebekan yang dilakukan Vicky Prasetyo di rumah Angel Lelga, istrinya pada pukul 02.00 Wib dinihari. Vicky menduga bahwa istrinya berselingkuh dengan pria lain. Uniknya, penggerebekan melibatkan banyak pihak, seperti kepolisian, pengacara pribadi, beberapa media terutama infotainment seperti Silet, ketua RT, warga sekitar dan keluarga dari pihak Vicky.

    Sebagai penggiat hak-hak anak dan komisioner KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), saya menilai bahwa tayangan dan pemberitaan terkait aksi penggerebekan tersebut sangat tidak mendidik dan berdampak buruk pada pola pikir dan tumbuh kembang anak-anak. Karena tayangan ini kemungkinan besar dilihat dan dapat diakses anak-anak melalui aplikasi youtube.

    Tayangan semacam ini merupakan pembodohan terhadap publik terutama anak-anak, bayangkan saja, dengan menggunakan saluran milik publik, Vicky dan Lelga telah menjejali generasi muda kita dan anak-anak dengan persoalan perselingkuhan, urusan ranjang, sikap tak menghormati lembaga perkawinan, kekerasan (ada dobrak dan tending pintu, kata-kata kasar seperti “penzinah”, “mengotori kampung”, dll. Benar-benar tayangan yang tidak patut dilihat, tidak ada manfaatnya bahkan membahayakan tumbuh kembang anak-anak Indonesia.

    Pengaruh media seperti halnya internet maupun televisi terhadap anak makin besar, namun bukan pengaruh positif yang diberikan melainkan pengaruh negatif. Bahkan, saat ini hampir seluruh stasiun televisi menyiarkan acara-acara yang bisa dikatakan minim manfaat untuk anak-anak. Anak-anak saat ini kerap menonton acara yang bukan untuk usia dan kerap kali tanpa didampingi oleh orangtuanya.

     

    Menurut hasil penelitian Kidia, menunjukkan bahwa pada tahun 2014 lalu dari seluruh tayangan televisi, yang aman untuk ditonton anak-anak hanyalah sekitar 15% saja. Angka yang sangat kecil tentunya jika dibandingkan dengan tontonan televisi Indonesia yang sangat banyak.

    Tayangan penggerebekan yang dilakukan Vicky Prasetyo terhadap dugaan perselikuhan istrinya seharusnya mendapatkan teguran keras dari KPI (Komisi Penyiaran Indonesia), karena masalah rumah tangga dibeberkan ke public dan aib keluarga sendiri diumumkan melalui saluran milik public. Apalagi, tayangan tersebut berpotensi kuat membahayakan tumbuh kembang anak-anak Indonesia, seharusnya kita semua bersinergi untuk melindungi anak-anak Indonesia dari berbagai tayangan yang mengandung konten yang bersifat pornografi dan kekerasan. Stop pembodohan publik.

    RETNO LISTYARTI, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)

    Ikuti tulisan menarik Retno Listyarti lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.