Tanpa Guru, Tak Ada Pemimpin - Analisa - www.indonesiana.id
x

yoyo tuna

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Tanpa Guru, Tak Ada Pemimpin

    Dibaca : 422 kali

    Tanggal 25 November merupakan hari kita memperingati hari guru. Dimana jasa-jasa pahlawan tanpa jasa ini hingga kita beranjak dewasa masih dirasakan manfaat nya bagi masyarakat.

    Hari Guru Nasional ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Dan juga Hari Guru Nasional sebagai tanda terbentuknya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

    Banyak peran guru yang membawa kita kesuksesan dalam menjalankan kehidupan. Ya, sejak kita mengenyam pendidikan paling dasar, kita sudah dikenalkan nama-nama binatang, mengenal abjad hingga mengenal nama orang-orang terdekat seperti ayah dan ibu kita.

    Begitu pun dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Mantan Presiden ke 6 Republik Indonesia ini sangat menghargai dan menghormati para guru di tanah air. Hampir dimasa jabatannya selama 10 tahun (2004-2014), Ketua Umum Demokrat ini kesejahteraan Guru begitu diperhatikan.

    Tentu para guru se tanah air ingat akan kebijakannya melalui Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang guru dan dosen. Dimana regulasi ini terwujud sejak menjabat sebagai orang nomor satu di Indonesia yang pernah didampingi Jusuf Kalla dan Boediono.  

    Tak hanya itu, dimasa jabatannya, SBY secara bertahap, mengangkat status guru hononer menjadi PNS terwujud. Hingga kini para guru yang beruntung bisa menikmati dinginya tangan SBY saat memperhatikan nasib para guru dengan peningkatan kesejahteraan guru lewat sertifikasi guru secara finansial. 

    Coba kita lihat kebelakang, banyak anggaran yang dialokasi kepada para guru lewat program misi mengangkat harkat anak-anak cerdas melalui APBN sebanyak 20%.

    Program Bidik Misi mengangkat harkat anak-anak cerdas dari keluarga miskin secara ekonomi untuk dapat menjadi mahasiswa diberbagai perguruan tinggi akan terus berlanjut dalam Komitmen Partai Demokrat yakni 14 Prioritas Demokrat "Angkat secara bertahap Guru & Pegawai Honorer dan tingkatkan kesejahteraan perangkat desa". 

    Partai Demokrat sebagai partai politik tetap focus pada banyak program yang memampukan bangsa Indonesia untuk setara dengan bangsa lain.

    Sejak 23 November kemarin, Partai Demokrat kembali melakukan jemput aspirasi ke beberapa daerah di Jawa Barat- Jawa Tengah. Dimana sebelumnya, hampir aspirasi guru ditampung guna mendengarkan jeritan nasib guru honorer yang hingga kini belum kunjung tau akan nasib masa depannya direzim Jokowi.

    Banyak nasib guru yang kesejahteraannya belum teratasi sejak masa transisi pemimpinan SBY ke Jokowi pada 2014 lalu. Semoga dengan peringatan hari Guru Nasional tahun ini akan membawa perubahan yang dilakukan Partai Demokrat untuk bangsa dan tanah air untuk 10 tahun kedepan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.088 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).