Reuni 212 Masih Menyisakan Imbas yang Sama - Analisa - www.indonesiana.id
x

Aditya Harlan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Reuni 212 Masih Menyisakan Imbas yang Sama

    Dibaca : 915 kali

     

    Dari tahun lalu aksi 212 selalu diwarnai perdebatan di tanah air. Berbagai pihak seringkali mengulik sisi buruk maupun sisi positif imbas dari gerakan ini. Jika ia merupakan kubu pro, maka mereka akan menunjukkan yang manis – manis saja. Jika ia datang dari kelompok kontra maka mereka akan mengulik sejumlah imbasnya yang kurang baik.

                Faktanya, dari tahun ke tahun acara ini digelar selalu saja menyisakan imbas yang sama, yaitu rusaknya sejumlah fasilitas yang ada di sekitaran lokasi demo. Seperti tanaman yang tumbuh cantik di taman, pagar – pagar taman dan masih banyak fasilitas lain yang kemudian mengalami penurunan fungsi akibat kerusakan yang disebabkan oleh aksi 212 ini.

                Seperti yang sudah disinggung oleh pemberitaan – pemberitaan sebelumnya, bahwa aksi ini selain kental dengan anarkisnya karena sampai membakar kendaraan, juga terkenal dengan imbas terhadap lingkungan yang kurang baik. Pernah ditulis juga beberapa sebab yang ditimbulkan oleh aksi ini, antara lain kerusakan sejumlah taman, baik fasilitasnya maupun tanamannya, kerusakan fasilitas umum seperti wc umum, keran tempat wudhu dan sebagainya

                Pernah disinggung juga, aksi ini mengakibatkan polusi udara yang ditimbulkan oleh adanya aksi bakar kendaraan. Masyarakat Jakarta yang setiap harinya harus tutup hidung agar tidak tercemar asap kendaraan bermotor, corong – corong pabrik, kala itu harus ditambah sesak dengan adanya asap hitam yang mengepul akibat dibakarnya sebuah kendaraan pada aksi demo tersebut.

                Selain imbas – imbas di atas, ada fakta lain yang lebih merugikan warga sekitar area demo, yaitu sebuah kemacetan panjang. Kemacetan panjang disinyalir terjadi karena sepanjang jalan menuju Monas sampai ke Bundaran HI dipadati anggota demo yang juga berorasi tanpa etika. Mereka tidak memikirkan orang lain yang hendak melakukan perjalanan ke tempat kerja ataupun ke tempat yang menjadi kepentingan mereka. Dengan adanya demo aksi 212 ini, aktivitas mereka terpangkas berjam – jam karena ramainya jalanan pada waktu itu.

                Warga juga banyak yang mengeluhkan suasana pasca aksi 212 ini digelar. Selain berbuntut kemacetan panjang, sekitaran area demo terlihat seperti lautan sampah. Ya, sampah ini dihasilkan dari bungkus – bungkus camilan dan softdrink yang menemani para anggota demo. Sebab, para pendemo ini cenderung sembarangan dalam membuang sampah. Lalu, apa yang dibanggakan dari aksi ini jika kita mengingat banyak sekali imbas yang kurang positif terjadi?

                Di atas sudah diuraikan beberapa imbas negatif yang tercipta akibat adanya aksi 212 ini. Seharusnya alumni 212 berbenah diri agar tidak melakukan atau mengulangnya kembali di demo – demo berikutnya. Namun, imbas ini terus berulang dan menyisakan hal yang sama. Hal yang seperti apa? Yaitu hal negatif seperti kerusuhan den kerusakan berbagai fasilitas yang ada di sekitaran area demo digelar.

                Hal ini terbukti saat reuni akbar ini usai digelar, Monas kembali terlihat seperti lautan sampah. Bekas – bekas botol minuman, sampah nasi bungkus sisa, bekas bungkus snack dan permen bahkan bungkus – bungkus lain yang sangat mengganggu pemandangan mata. Padahal kondisi seperti itu sudah sempat menuai kritikan dari berbagai kalangan. Lantas, mengapa mereka tidak mengindahkan dan memperbaiki kritik tersebut?

                Mereka tidak mempedulikan kondisi sekitar sebab mereka terlalu asyik dengan kalimat – kalimat orasi yang diserukannya. Mereka terlalu serius menggembor – gemborkan pilihannya. Pilihan apa? Pilihan akan politiknya. Sebab, reuni kemarin ini kental dengan nuansa politik. Itulah mengapa menjadikan mereka lupa akan etika – etika yang harus dijaga saat berdemo.

                Pada intinya, reuni ini masih meninggalkan bekas yang sama seperti aksi yang lalu. Dahulu, membuat sejumlah kerusuhan dan kerusakan, sekarang pun masih. Dahulu meninggalkan tumpukan sampah, sekarangpun masih. Yang beda adalah, dahulu mereka menyerukan umat Islam agar melakukan aksi bela Islam, kalau sekarang mereka menyerukan anggotanya untuk membela Capres Prabowo di Pilpres 2019. Itu mengapa kalimat – kalimat #2019gantipreiden berkumandang riuh di acara reuni 212 lalu.

                Selama tiga kali aksi ini digelar, masyarakat menilai masih menyisakan hal – hal negatif bagi lingkungan. Membelok dari semua hal yang merugikan masyarakat dengan fenomena sampahnya. Acara ini juga sudah sukses ditunggangi politik praktis. Itu mengapa nilai – nilai positif yang dibangun sebagai citra alumni 212 kemudian luntur saat tahu masyarakat tahu adanya unsur politik ini.

                Masyarakat juga menilai, adanya tujuan politik di aksi ini yang membuat perpecahan dan beda pendapat yang berimbas buruk pula di kalangan masyarakat. Akhirnya mereka saling benci, saling mengunggulkan idolanya dan saling memberi pembelaan terhadap diri sendiri.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Salsabila Zulfani

    2 hari lalu

    Covid-19, Membuat Tugas Auditor Menjadi Sulit?

    Dibaca : 141 kali

    Covid 19 adalah virus yang menyerang sisem pernapasan. Virus corona dapat menyebabkan gangguan ringan pada sistem pernapasan, infeksi paru-paru berat hingga kematian. Pertama kali ditemukan di kota Wuhan, China pada akhir Desember 2019. Virus ini menular dengan cepat dan telah menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Hampir setiap hari ribuan bahkan ratusan korban infeksi virus corona meregang nyawa. Perekonomian negara terganggu bahkan banyak perusahaan yang harus mengurangi pegawai supaya tidak bangkrut. Dampak Covid 19 ini memang cukup banyak bagi negara terdampak. Lalu bagaimana dengan negara Indonesia?. Indonesia sudah berusaha sedemikian rupa untuk mencegah penularan virus Covid 19 ini,hingga pemerintah menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB ). Bekerja dan belajar dari rumah, hal ini mungkin tidak terlalu sulit sebab teknologi yang semakin canggih di masa sekarang ini. Lalu bagaimana dengan profesi yang harus bekerja turun lapang atau outdoor? Auditor misalnya?. Auditor harus menyambangi perusahaan klien sehingga dapat dengan mudah mengamati sistem pada perusahaan klien. Mengamati bagaimana SOP atau bagan alur setiap kegiatan perusahaan, seperti penjualan, pembelian dan aliran kasnya. Bagaimana auditor harus bekerja dari jarak jauh?. Strategi bagi auditor yang harus bekerja jarak jauh meliputi perencanaan audit, pemeriksaan/pengkajian dokumen, kerja lapangan/melakukan pengamatan, wawancara terhadap pihak yang terkait, dan pertemuan penutupan. Berikut penjelasan singkatnya. Perencanaan Perencanaan audit merupakan hal yang sangat penting di setiap pengauditan. Namun hal ini akan sulit jika pihak klien ada di lokasi yang jauh ataupun sulit terjangkau ( terpencil ). Sementara tahap perencanaan audit ini harus dibahas dengan klien. Informasi yang dapat dibahas dalam tahap ini adalah ruang lingkup perusahaan serta perncanaan jadwal kapan kegiatan audit akan di mulai, tak lupa memberi informasi kepada klien mengenai keterbatasan perihal proses kegiatan audit jarak jauh ini. Serta info apa saja yang akan dibagikan dan dengan tunjangan media atau teknologi apa yang digunakan. Berdasarkan kebutuhan diatas, auditor dapat menghabiskan waktu dua kali lebih banyak guna membahas perencanaan ini. Teknologi yang dapat digunakan dalam hal ini seperti vidio conference dan powerPoint untuk menyampaikan informasi/materi atau dapat menggunakan panduan visual lainnya. Pemeriksaan/Pengkajian Dokumen Pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh akan memakan waktu cukup banyak serta tak luput dari keterbatasan. Dalam hal ini auditor harus mampu menerima dokumen dalam bentuk/format apapun yang paling mudah diperoleh oleh klien sehingga dapat meminimalisir beban yang ada. Pertimbangan terkait aksesibilitas sistem file digital yang digunakan klien untuk menyimpan rekaman catatan tersebut harus diberikan. Pertimbangan strategi audit yang baik dan tepat juga harus dipikirkan oleh auditor untuk pemeriksaan ataupun pengkajian dokumen, pengambilan sampel dapat menjadi alternatif terbaik. Tergantung pada jumlah rekaman catatan yang ada. Terlepas apakah auditor memeriksa semua atau sebagian dari data yang tersedia. Tidak seperti pemeriksaan/pengkajian rekaman catatan di lokasi, pemeriksaan/pengkajian dokumen dari jarak jauh biasanya tidak memungkinkan untuk memberikan pertanyaan langsung pada saat yang sama. Auditor harus mencatat ataupun menulis hal-hal yang patut dipertanyakan pada klien saat melakukan proses pemeriksaan/pengkajian dokumen, dan dapat ditanyakan saat wawancara jarak jauh. Kerja Lapangan/Pengamatan Hal ini mungkin akan menjadi hal yang cukup sulit bagi audit jarak jauh, pasalnya hal ini biasanya dilakukan dengan menyambangi perusahaan klien. Salah satu cara yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan vidio conference ataupun livestreaming. Walaupun tidak terlepas dari kendala-kendala yang ada seperti ketersediaan Wi-Fi, lokasi kerja klien yang berada di tempat terpencil dan kebisingan yang mungkin akan mengganggu proses audit ini. Tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh dengan melakukan observasi jarak jauh. Sebab penayangan vidio hanya pada satu titik dan auditor akan kesulitan untuk melakukan pengamatan. Alternatif lain yang dapat diambil adalah dengan foto digital yang dapat diambil dari smartphone milik klien ataupun milik perusahaan. Hal ini dapat menimalisir kendala jaringan yang tidak memungkinkan melakukan vidio conference. Dari hasil pengamatan, audit dapat membuat catatan dan menyiapkan pertanyaan. Wawancara Terhadap Pihak yang Terkait Dalam hal ini mungkin tidak jauh beda dengan wawancara langsung, hanya perlu media penghubung seperti panggilan vidio ataupun semacamnya misalnya Google Meet, Skype dan Zoom. Auditor perlu melakukan perencanaan wawancara seperti berapa lama waktu yang diperlukan dan kepada siapa saja pihak yang perlu diwawancarai. Misalnya dengan penanggung jawab kegiatan, pemegang keluar dan masuknya kas ( kasir ), bagian gudang, penerimaan barang, dan personil lain yang bertanggung jawab dalam mendukung fokus audit. Persiapan wawancara jarak jauh membutuhkan waktu tambahan bagi auditor, serta auditor harus siap dengan daftar pertanyaan dan hal-hal terkait informasi tambahan apa saja yang dibutuhkan berdasarkan pengamatan yang dilakukan sebelumnya. Keterbatasan wawancara jarak jauh ini juga dapat terjadi ketika personil yang diwawancarai merasa canggung, gugup atau tidak nyaman dengan panggilan vidio oleh sebab itu, pemilihan kata dan penempatan intonasi yang bagus dan tepat akan dapat membuat wawancara menjadi tidak tegang. Pertemuan Penutupan Pertemuan penutupan audit jarak jauh memiliki konsep yang sama dengan pertemuan penutupan secara langsung, mungkin memang memerlukan media penghubung. Penjadwalan penutupan ini harus dipertimbangkan oleh auditor, minimal dua hari setelah melakukan wawancara. Sehingga auditor dapat mengkaji kembali catatannya dan menyusun rancangan awal hasil audit. Pertemuan penutupan ini dimaksudkan untuk mrmpresentasikan rancangan awal hasil audit kepada klien, menyelesaikan pertanyaan/permasalahan serta melakukan pembahasan lebih lanjut untuk hasil final audit, yaitu opini dari auditor. Kesimpulan yang dapat di ambil ialah penggunaan teknologi secara praktis. Inovasi dan transformasi teknologi menjadi fokus bisnis serta progam audit di seluruh dunia. Saat ini adalah saat yang tepat untuk mengkomunikasikan lebih lanjut mengenai proses audit jarak jauh. Terdapat beberapa teknologi berkembang yang dapat menunjang kegiatan tersebut antara lain vidio livestreaming, Virtual Reality ( VR ), pesawat tak berawak ( drone ) dan lainnya. Namun semua teknologi pastilah diperlukan biaya tambahan yang mungkin malah mengakibatkan auditor merugi. Jadi pilihlah teknologi yang sesuai dengan bayaran yang diterima. Proses audit jarak jauh bukanlah satu-satunya solusi yang tepat untuk semua masalah. Hal ini bukan pula sebagai pengganti pelaksanaan audit secara langsung. Namun sebagai bagian dari alternatif yang dapat dilakukan di masa pandemi ini.