Menyingkap Tabir Perkara Labora Sitorus - Analisa - www.indonesiana.id
x

James Tampubolon SH MH

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menyingkap Tabir Perkara Labora Sitorus

    Dibaca : 7.176 kali

    Kalau anda berkunjung ke Sorong (Papua) khususnya daerah Tanpagaram Beach, akan segera tahu siapa keluarga Labora Sitorus (LS) di mata warga sekitar. Tak sulit menemukan warga yang sudi bercerita dengan rasa hormat dan dengan senang hati akan sudi mengantar anda langsung ke kediaman keluarga LS atau menunjukkan tempat usaha mereka.

    Penggerak Ekonomi Warga

    Hormat yang diberikan warga Tanpagaram Beach, Sorong, dan daerah lain kepada keluarga LS bukan hanya karena sifat dermawan keluarga itu, tapi karena alasan yang lebih elementer. Menyangkut kehidupan ekonomi. Keluarga LS menjalankan bisnis pengelohan kayu yang tergolong sukses. Ingat, bisnis pengolahan kayu, bukan bisnis penebangan kayu (perambahan hutan) sebagaimana sering dimuat di media. Bisnis ini dijalankan secara sah, legal dan dengan prinsip persaingan sehat yang berusaha mencapai titik seimbang antara kepentingan warga (supplier) dan kemajuan perusahaan.

    Perusahaan yang dikelola keluarga LS membeli kayu dari warga. Mereka selalu memberi harga lebih baik dari perusahaan-perusahaan lain yang menjalankan bisnis serupa. Prinsipnya, keuntungan kecil (karena membeli bahan dari warga lebih mahal) tapi dengan frekuensi transaksi yang tinggi akan membuat perusahaan bertumbuh lebih cepat dan warga sekitar juga dapat menikmati pertumbuhan ekonomi. Inilah yang dimaksud dengan titik seimbang antara perusahaan dengan rekanan (warga). Terbukti memang mayoritas warga menjual kayu mereka ke perusahaan keluarga LS sehingga bisnis perusahaan bertumbuh pesat.

    Jika kita mengandaikan keluarga LS memberi harga lebih baik sekitar 10-20 % saja, bisa kita bayangkan dampak ekonominya terhadap masyarakat. Jika satu keluarga yang menjual kayu kepada keluarga LS terdiri dari 3 orang saja, maka dapat kita bayangkan berapa banyak orang yang merasakan langsung perbaikan kehidupan ekonomi berkat kehadiran keluarga LS. Lebih jauh, dapat juga dihitung dampak lebih luas terhadap peningkatan daya beli masyarakat karena peningkatan ekonomi keluarga tertentu akan turut meningkatkan geliat ekonomi di sekitarnya sehingga keluarga yang tidak memiliki bisnis jual beli kayupun akan merasakan peningkatan ekonomi.

    Dampak ekonomi secara riil tersebut ditambahkan dengan aneka sumbangan langsung keluarga LS dalam pembangunan untuk warga sekitar (seperti pembangunan rumah ibadah) membuat warga menghormati, mencintai dan akan membela keluarga LS jika terjadi perlakuan tak adil kepada mereka. Inilah latar belakang berkumpulnya massa untuk melindungi LS ketika penegak hukum hendak mengeksekusi putusan pengadilan beberapa tahun lalu. Tapi media gagal memahami kejadian ini dan justru membangun opini bias dengan membangun narasi bahwa LS mengumpulkan massa bayaran. Ada ribuan warga di Sorong yang siap membela LS tanpa bayaran sepeserpun. Untuk membuktikannya, silahkan berkunjung ke sana dan temukan sendiri bagaimana warga memandang keluarga LS.

    Sekali lagi, opini publik yang dibangun melalui media massa terhadap Labora Sitorus (LS) sangat tidak adil. Media menurunkan pemberitaan dengan hanya mengandalkan sumber satu pihak. Media telah gagal menerapkan salah satu prinsip jurnalistik yang menekankan keberimbangan berita (cover both sides).

    Pengunduruan Diri

    Salah satu kesalahan LS yang dapat dipahami akal sehat adalah dia memberikan rekeningnya untuk menampung hasil transaksi perusahaan keluarga. Tapi kesalahan ini bukannya tidak disadari. Kepada tim pengacaranya LS bercerita beberapa kali telah mengajukan pengunduran diri secara resmi sebagai anggota polisi, namun tidak pernah dikabulkan.

    Kalau kita menarik persoalan ini kepada diri kita sendiri, bukankah kita akan melakukan tindakan yang kurang lebih sama. Bayangkanlah, salah satu dari anggota keluarga anda berprofesi sebagai penegak hukum. Kemudian, anda menjalankan sebuah bisnis yang rentan dengan masalah-masalah hukum. Tidakkah anda akan meminta perhatian sanak keluarga yang berstatus sebagai penegak hukum tersebut? Mungkin bukan hanya untuk perlindungan, tapi juga untuk untuk penerapan displin kerja. Di pengadilan tidak pernah ditunjukkan bukti meyakinkan bahwa LS terlibat langsung mengelola perusahaan-perusahaan yang dihubungkan dengannya. Satu-satunya kesalahan LS, kalaupun itu diakui sebagai kesalahan, adalah memberikan rekeningnya untuk transaksi perusahaan keluarga yang menjalankan bisnis secara sah, dengan ijin yang lengkap dan berbagai persyaratan lain.

    Sisi-sisi yang diungkap di atas praktis tak  pernah disorot oleh media massa. Sehingga kesalahan kecil yang dilakukan oleh LS merembet menjadi pidana berat dan mesti dibayar dengan vonis 15 tahun penjara dan denda milyaran Rupiah. Apakah ini adil?


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.091 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).