Korupsi Dana Bansos, Sekdacdan 5 ASN Tasikmalaya Ditangkap - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Eva fahmadia wahidah rahma

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Berita Utama
  • Korupsi Dana Bansos, Sekdacdan 5 ASN Tasikmalaya Ditangkap

    Dibaca : 2.425 kali

         Sering kita mendengar Istilah “Korupsi” seakan tidak menghilang dari telinga kita. Negara Indonesia merupakan salah satu negara terkorup, akibatnya banyak terjadi kesenjangan sosial di masayarakat dan tidak meratanya pertumbuhan ekonomi di Indonesia, seperti lagunya Bang Haji Rhoma Irama terselip kata-kata “Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin” itu merupakan bentuk apresiasi lewat seni musik untuk kritikan para pemimpin dan wakil rakyat yang tidak amanah, tidak menaati peraturan pemerintahan yang telah ditetapkan di peraturan perundang-undangan Republik Indonesia, sehingga belum tercapainya ketertiban di kalangan para eksekutif,legislative,yudikatif.

    Belakangan menjadi sorotan bukan karena industry kerajinannya melainkan akibat kasus korupsi dana bantuan social atau bansos. Ditengah hiruk pikuk pemilu 2019 malah terkuat kasus yang sangat mengegerkan daerah jawa bawat sampai polisi menetapkan Sembilan tersangka mereka melakukan tindakan korupsi atas dana bansos kabupaten daerah tasikmalaya tahun anggaran 2017 sebanyak 3.9 miliar dan dana tersebut disalurkan kepada 21 lembaga atau yayasan yang sebagian dipilih oleh para tersangka dengan besaran atara 100 juta hingga 200 juta.  Dan bisa diperkirakan setiap lembaga hanya menerima dana baksos hanya 2 juta padahal yang tertera pada kertas sampai 100 juta. Para pelaku korupsi ini tidak bodoh mereka  punya otak mereka sama seperti kita pendidikan yang diperoleh mereka juga mungkin lebih dari pada orang awam dan pengalaman yang diperoleh juga lebih banyak tetapi, kenapa mereka masih saja tidak memikirkan rakayat yang lebih membutuhkan dan kasus dana baksos tersebut adalah teruntuk yayasan yang bergerak terhadap social. Tetapi mereka masukkan kepada kantong mereka sendiri apakah mereka bias dikatakan orang yang bisa menjadi pemimpin yang amanah untuk memimpin daerahnya. dan dana tersebut sebenarnya adalah dana yang digunakan untuk bantuan social yang kemanusian tetapi malah dikorupsi oleh tangan-tangan yang tidak punya rasa kemanusian.

      Bentuk perwujudan mahasiswa, bisa berupa upaya menanamkan nilai budaya integritas yang dilaksanakan secara kolektif dan sistematis, baik melalui aktivitas pendidikan anti korupsi dan internalisasi budaya anti korupsi di lingkungan kampus, rumah yang ditinggali, publik maupun swasta. Dengan kesamaan cara pandang pada setiap mahasiswa di seluruh Indonesia bahwa korupsi itu jahat, dan pada akhirnya para individu tersebut berperilaku aktif mendorong terwujudnya tata-kepemerintahan yang bersih dari korupsi diharapkan menumbuhkan prakarsa-prakarsa positif, serta perbaikan tata-kepemerintahan pada umumnya. Tingkat keberhasilan strategi ini diukur berdasarkan Indeks Perilaku Antikorupsi yang ada dikalangan tata-kepemerintahan maupun generasi penerus bangsa di seluruh Indonesia. Semakin tinggi angka indeks ini, maka diyakini nilai budaya anti korupsi semakin terinternalisasi dan mewujud dalam perilaku nyata setiap individu untuk memerangi tipikor, dan penanaman nilai-nilai pendidikan berkarakter demi terwujudnya Negeri yang adil, beradab, bermoral, dan tentunya maju.

    Saya berharap sebagai masukan bagi masyarakat jika mendengar, mengetahui dan memiliki bukti harus beranai melaporkan terkadang masyarakat yang menerima dana hibah ini bungkam , hal ini karena dipengaruhi berbagai factor semisal pemahaman advokasi secara hokum untuk membuka file file lama karena dinilai kemungkinan dengan kecenderungan hal serupa bias saja terjadi di anggaran tahun-tahun sebelumnya , apalagi masyarakat tentunya memiliki opini-opini tersindiri . tetapi opini-opini saat ini bias dibuktikan melalui proses yang dilakukan penegak hokum untuk mengusut sedalam apa kasus tersebut.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.













    Oleh: Admin

    3 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 812 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).