Kampanye Capres di Media Sosial: Berisik Tak Berisi - Analisis - www.indonesiana.id
x

firdaus cahyadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Kampanye Capres di Media Sosial: Berisik Tak Berisi

    Hingga Desember ini, dapat dikatakan bahwa kampanye capres di media sosial, masih jauh dari berkualitas dan mencerdaskan publik secara politik.

    Dibaca : 1.618 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    “Hingga Desember 2018, pasangan calon (Paslon) 02 masih mendominasi kampanye di media sosial,” ujar Program Manager Pemantauan Kampanye Capres di Media dari SatuDunia Anwari Natari, ”Hingga Desember 2018, isu ekonomi masih mendominasi kampanye masing-masing capres di media sosial.”

    Berdasarkan pantauan SatuDunia, tim pasangan Prabowo-Sandiaga Uno hingga tanggal 10 Desember 2018 telah mengangkat isu ekonomi dalam kampanyenya sebanyak 206 kali. Sementara tim pasangan Jokowi-Ma’ruf hanya 75 kali mengangkat isu ekonomi dalam kampanyenya di media sosial.

    SatuDunia melalui website www.iklancapres.id melakukan pemantauan konten kampanye capres di media sosial. Akun media sosial yang dipantau adalah akun resmi pasangan calon dan juga tim resmi kampanye mereka. Akun media sosial itu antara lain ada di facebook, twitter dan Instagram. Selain itu SatuDunia juga memantau akun-akun atau group di media sosial yang memiliki pengaruh dalam penyebaran kampanye masing-masing pasangan calon.

    ”Namun sayang, kedua paslon capres hanya saling klaim dalam kampanye mereka,” ujar Direktur Eksekutif SatuDunia Firdaus Cahyadi, ”Paslon nomor 01, mengklaim keberhasilan, sementara paslon nomor 02 mengklaim bahwa pemerintah gagal dalam pembangunan ekonomi.”

    Masing-masing paslon, lanjut Firdaus Cahyadi, tidak mengungkap kebijakan apa yang akan diubah atau diperbaiki bila terpilih menjadi presiden. ”Akibatnya, tidak ada debat yang substantive dalam kampanye mereka,” ujarnya, ”Ini tentu tidak mencerdaskan publik secara politik.”

     Catatan SatuDunia berikutnya adalah isu lingkungan hidup masih kurang diminati oleh masing-masing paslon untuk diangkat dalam kampanye mereka. Berdasarkan pemantauan SatuDunia (www.iklancapres.id), hingga 10 Desember 2018, baik paslon nomor 01 dan 02, mengangkat isu lingkungan hidup dalam kampanyenya hanya sebanyak 2 kali.

    Bukan hanya itu, menurut pantauan SatuDunia dalam kampanye capres di media sosial juga muncul wacana untuk kembali ke era Orde Baru. ”Ini jelas kemunduran dalam demokrasi,” ujar Firdaus Cahyadi, ” Nampaknya munculnya wacana untuk kembali ke era Orde Baru dilatarbelkangi oleh miskinnya konsep kebijakan dari masing-masing paslon ketika mereka terpilih di pilpres 2019.

     SatuDunia juga melihat bahwa dalam kampanye capres di media sosial, perempuan ditempatkan sebagai sosok yang tidak berdaya dalam menghadapi berbagai kesulitan ekonomi. Namun, di sisi lain, kepentingan mereka tidak ada yang mengangkatnya dalam kampanye mereka.

    Salah satu kepentingan perempuan itu adalah adanya UU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS). Desakan untuk pengesahan RUU PKS menjadi UU adalah desakan kaum perempuan di Indonesia. Hal itu dikarenakan kekerasan seksual memang masih memperihatinkan di negeri ini.

    Meskipun banyak desakan dari aktivis perempuan terhadap pengesahan UU PKS, belum ada capres yang mengangkat isu kebijakan pengahapusan kekerasan seksual dalam kampanye mereka. Nampaknya perempuan masih dijadikan objek dalam kampanye pilpres di 2019.

    Hingga Desember ini, dapat dikatakan bahwa kampanye capres di media sosial, masih jauh dari berkualitas dan mencerdaskan publik secara politik.

     

    Sumber gambar: https://www.youtube.com/watch?v=ruEljEQbqdo

     

     

     

    Ikuti tulisan menarik firdaus cahyadi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.