Cara Mengajari Anak Mengelola Angpao Natal - Analisa - www.indonesiana.id
x

Setyo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Cara Mengajari Anak Mengelola Angpao Natal

    Dibaca : 2.478 kali

    Momen usai beribadah di gereja saat Natal pada 25 Desember adalah momen yang banyak dinanti-nantikan sebagian besar anak-anak. Di sejumlah keluarga, selain kado Natal, anak-anak juga mendapatkan angpao Natal.

     

    Seperti di Sulawesi Utara, ada tradisi unik turun-temurun sejak bahuela yakni angpao Natal yang dibagikan ke anak-anak. Tradisi ini menjadi wujud sukacita dan syukur atas Hari Raya Natal.

     

    Tak hanya di Sulawesi Utara, di banyak keluarga Kristiani, momen Natal menjadi momen untuk berbagi angpao pada anak-anak, ponakan dan mereka yang lebih muda.

     

    Amplop angpao Natal ini ada yang dibagikan langsung, tetapi ada juga yang digantung di pohon Natal. Selanjutnya, anak-anak dan mereka layak mendapatkan angpao yang datang bisa memilih sendiri amplopnya.

     

    Nah sebagai orangtua, momen Natal ini adalah momen yang tepat untuk mengajari atau bahasa kerennya mengedukasi anak cara mengelola uang Natal agar bermanfaat. Anak-anak perlu diajari cara mengelola uang sejak dini agar mereka bisa bertanggungjawab dengan uang yang diterimanya.

     

    Cara mengajarinya pun tak perlu dengan cara-cara yang ribet. Hal-hal sederhana berikut ini efektif untuk mengenalkan anak cara mengelola uang dengan benar:

     

    1. Biarkan Anak Menyimpan Uangnya Sendiri

    Membiarkan anak-anak kita menyimpan uangnya sendiri adalah cara paling tepat karena dengan cara ini orangtua memberi kepercayaan kepada anak-anak untuk menyimpan uang yang didapatnya. Kepercayaan semacam ini perlu ditanamkan sejak dini. Kepercayaan itu perlu dibangun sejak dini. Dengan begitu rasa tanggung jawab anak-anak akan tumbuh.

     

    2. Bantu Membelanjakan Uang

    Orangtua yang benar-benar mau mengedukasi anak dalam hal tanggungjawab keuangan dengan membantu anak-anak membelanjakan uang yang didapatkannya. Orangtua sebatas mendampingi, mengarahkan dan memberi pertimbangan saat anak-anak berbelanja. Memberi masukan dalam suasana diskusi santai diperlukan saat berbelanja dengan tujuan anak-anak bisa membelanjakan uangnya untuk barang-barang yang berguna, bermanfaat dan tidak mubazir. Momen saat anak-anak mendapat uang adalah saat tepat untuk memberi pemahaman yang benar bahwa tidak semua uang yang didapatkan selama Natal dapat dibelanjakan semuanya. Arahkan anak dengan batasan-batasan yang wajar dan realistis dalam membelanjakannya, terlebih agar mereka tidak boros.

     

    3. Kenalkan Cara Menabung yang Benar

    Memiliki banyak uang saat Natal karena diberi oleh orang-orang dekat tidak serta-merta membuat anak-anak kita boleh dengan bebas menggunakannya. Di saat-saat seperti ini adalah saat tepat bagi orangtua untuk masuk dan mengajarkan gaya hidup menabung. Menabung itu penting diajarkan sejak dini pada anak-anak, termasuk juga dikenalkan cara-cara menabung yang modern seperti melalui aplikasi IPOTPAY dari IndoPremier yang memberikan imbal hasil tinggi lebih dari tabungan biasa dan bahkan deposito. Cara nabung online termodern ini mudah dilakukan karena sejalan dengan gaya hidup masa kini yang sudah gadget oriented. Menabung di IPOTPAY cepat, mudah dan ora susah. Dengan cara-cara sederhana ini anak-anak pun akan memahami konsep menabung dengan benar. Menabung adalah cara efektif agar anak tidak menjadi boros dan konsumtif. Uang tidak harus dihabiskan dan dinikmati hari ini. Masih ada hari esok!

     

    4. Tanamkan Jiwa Sosial dengan Sedekah

    Masa-masa pertumbuhan adalah saat yang tepat untuk menanamkan jiwa sosial. Anak diajarkan untuk peduli dengan bersimpati pada sesama yang benar-benat memerlukan. Kepedulian semacam ini bisa diwujudkan dengan mengajari anak berbagi atau bersedekah dari sebagian kecil uang yang didapatkannya untuk diberikan pada pengemis atau pengamen. Perlu dijelaskan ke anak-anak bahwa berapa pun uang yang dimiliki itu, ada hak orang lain yang membutuhkan.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.









    Oleh: Napitupulu Na07

    2 hari lalu

    Keadilan Agraria dan Peningkatan Produksi Pangan Melalui Konsesi Lahan Pertanian Luasan 10 –80 ha, kepada Badan Usaha Perorangan.

    Dibaca : 133 kali

    Salah satu dari 9 masalah fundamental multi dimensi bangsa Indonesia adalah “masih rendah, terbatas dan timpang pembangunan dan kesejahteraan baik antar lapisan / strata masyarakat maupun antar daerah dan pulau”. Perwujudan sila ke 5 dari Pancasila yang tertera dalam pembukaan UUD 1945 yakni “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” masih jauh dari harapan. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9, bertajuk ‘Apa kabar Reforma Perhutanan Sosial’ Selasa 3/4/2018, Dalam paparan berjudul ‘Evolusi Kawasan Hutan, Tora dan Perhutanan Sosial, mengungkapkan: Ketimpangan pemberian lahan dan akses dari sektor kehutanan ini terdata sampai tahun 2017. Perbandingan ketimpangannya? Luas lahan di Indonesia yang yang sudah keluar ijin pengelolaanya adalah 42.253234 ha dari total 125.922.474 KH Indonesia. Dari 42.253.234 ha lahan yang diberikan ke swasta-masyarakat-kepentingan umum, 95,76 %-nya dilelola oleh swasta luas totalnya 40.463.103 ha. Perkembangan Luas Areal Kelapa Sawit, dari data peta RePPProT, pada tahun 1990 luasnya 7.662.100 ha, dari data baru tahun 2015 menjadi 11.260.277 ha, berarti kenaikan rata-rata 142.000 ha/tahun. Tahun 2016 menurun sedikit menjadi 11.201.465 ha. Tahun 2017 terhadap angka 2016 meningkat drastis 25 % lebih, menjadi sebesar 14.048.722 ha. Tahun 2018 naik menjadi 14.327.093 ha, Tahun 2019 naik menjadi 14.677.560 ha. Areal usaha perkebunan kelapa sawit tersebut didominasi oleh hanya puluhan pengusaha besar swasta. Ke depan apa yang bisa dilakukan? untuk mengurangi ketimpangan penguasaan / hak kelola Pengusaha Besar Swasta (PBS) atas tanah kawasan hutan (40.463.103 ha) dan Perkebunan kelapa sawit (14.677.560 ha), totalnya 55.140.663 ha setara 29,5 % luas daratan Idonesia 187.000.000 ha. Penulis menyarankan Solusi pengurangan ketimpangan secara bertahap, namun sekaligus bisa menangani permasalahan besar lain yaitu kemandirian pangan Indonesia yang sangat lemah / rapuh karena terkendala terbatasnya ketersediaan lahan garapan. Pada kesempatan ini diusulkan untuk Ekstensifikasi Pertanian pangan dengan membuka daerah irigasi (DI) Baru dengan Pola Pertanian Pangan UKM. Strateginya membangun Lima Pilar Pertanian Beririgasi Modern di luar P. Jawa meliputi: P1: Penyediaan air irigasi; P2: Pembangunan infrastruktur irigasi baru; P3: Pencetakan sawah baru petakan besar yang sesuai mekanisasi pertanian untuk para UKM dengan konsesi lahan 30-80 ha; P4: Mempersiapkan sistem pengelolaan irigasi; P5: Membangun sistem konsesi UKM pertanian mekanisasi padi komersial terpadu, mulai tanam, panen, sampai siap dipasarkan. Untuk keadilan agraria dan sekaligus penyediaan lahan garapan daerah irigasi baru, juga untuk lahan peternakan dan perikanan terlihat 2 kemungkinan yakni: (i) Mengatur pemberian puluhan ribu konsesi lahan luasan kecil 10 ha untuk peternakan, perikanan, hortikultur (mix farming), serta luas 30 - 80 ha untuk irigasi baru. Sebagai tahap pertama memanfaatkan cadangan areal untuk Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) seluas 4,1 juta ha, diberikan konsesi 30 tahun kepada badan usaha perorangan; dan (ii) Mengubah konsesi sawit lama yang habis masa konsesinya menjadi konsesi 30 tahun UKM sawah beririgasi 30 ha - 80 ha.