Amien Rais dan Gejala "Conservative Turn" Islam Politik

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Bukan Amien Rais jika tak mampu menampilkan sensasi politiknya terhadap fenomena kekuasaan apapun yang dipandangnya melenceng dari nilai-nilai substansi

Desakan mundur Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais oleh sejumlah pihak pendiri partai berlambang matahari ini memberikan kesan sangat kuat terhadap kekhawatiran mereka atas “Islamisme” (gerakan politisasi agama) yang sejauh ini dicitrakan pada diri Amien Rais. Manuver politik Amien di PAN seolah membawa parpol besutan aktivis Muhammadiyah ini semakin ekslusif, kental nuansa “politisasi agamanya” bahkan seolah Amien dan PAN terus memanfaatkan simbol keislaman secara formal demi meraih keuntungan kekuasaan. Sangat kontras sekali dengan gaya manuver Amien disaat-saat jelang reformasi dulu, dimana ia justru menggandeng banyak tokoh nasionalis untuk meraup dukungan politik dalam rangka menggulingkan rezim Orde Baru.

Bukan Amien Rais jika tak mampu menampilkan sensasi politiknya terhadap fenomena kekuasaan apapun yang dipandangnya melenceng dari nilai-nilai substansi demokrasi. Ilmuwan politik sekelas Amien, rasa-rasanya sulit untuk diajak kompromi apalagi sekadar disodori iming-iming kekuasaan. Rekam jejaknya dalam dunia politik menunjukkan, sosok politisi gaek ini dikenal sangat anti-rezim, hampir tak ada rezim yang luput dari reaksi keras kritikannya. Hal ini dapat dibuktikan, ketika dirinya sukses mengantarkan Gus Dur menuju kursi kepresidenan melalui manuver “poros tengah” yang digagasnya, namun dalam beberapa bulan malah berbalik “menjatuhkan” Gus Dur lewat sidang Istimewa MPR dimana ia duduk sebagai ketuanya.

Sangat mungkin, dimana drama kejatuhan Gus Dur dari kursi kepresidenan membuat para pendukung tokoh NU ini merasa kecewa terutama terhadap Amien Rais. Rangkaian panjang kekecewaan ini mungkin saja berimbas ketika NU sendiri secara penuh memberikan dukungan kepada petahana, berbanding terbalik dengan sikap Amien yang terlampau kritis kepada kandidat yang saat ini mendapat dukungan kuat dari tokoh-tokoh NU. Ketokohan Amien Rais mungkin saja menjadi “warning” yang dapat membahayakan elektabilitas petahana, karena hampir dipastikan seluruh manuver politik Amien jelas-jelas mengganggu peta politik yang sejauh ini telah mereka bangun. Amien kemudian terus diposisikan sebagai wujud politisi paling “frontal” terhadap rezim, sehingga wajar ketika banyak kekuatan politik yang berupaya membungkamnya.  

Ketokohan Amien justru terdongkrak karena sikap kritisnya yang tajam kepada pemerintahan, sekalipun pemerintahan itu didukung oleh dirinya. Hampir dipastikan, tak ada rezim yang luput dari berbagai kritik “keras” Amien, termasuk ketika dirinya terus bermanuver untuk menggagalkan Jokowi kembali menang dalam Pilpres tahun depan. Kesulitan Amien menggaet para tokoh nasionalis yang umumnya pro-Jokowi, membuat dirinya memutar haluan menggandeng tokoh-tokoh muslim “garis keras” yang notabene kontra pemerintahan. Itulah kenapa, warna “Islamisme” menguat di tubuh PAN, bahkan parpol yang sedianya berideologi politik inklusif ini justru tampak “ekslusif” setelah ketua dewan kehormatannya memanfaatkan berbagai gerakan “Islam politik”.

Walaupun terlalu dini menyebut PAN linier dengan gerakan “Islamisme”, namun paling tidak, keberadaan Amien Rais yang sedemikian kuat di tubuh PAN dan mendapat dukungan penuh dari berbagai gerakan Islam politik yang kritis terhadap pemerintahan, sedikit banyak telah membentuk gambaran tersendiri bagi PAN dalam mengaktualisasikan sikap politiknya. Sejarah PAN yang lahir dari rahim Muhammadiyah dan memiliki keterikatan sejarah panjang dengan Masyumi, tak mungkin dilepaskan dari keterikatan ideologi konservatisme Islam yang menemukan bentuk barunya saat ini. Nasionalisme Amien dalam identitas kepolitikan, jelas memiliki kedekatan ideologis dengan gerakan konservatisme dan hal itu dapat dilacak dari serangkaian sejarah politik Muhammadiyah, dimana Amien Rais dibesarkan secara politik.

Asumsi saya, PAN memang memiliki latar belakang Islamisme yang kuat, dimana hampir seluruh tokoh politisinya berlatar belakang Muhammadiyah yang linier dengan garis perjuangan Islam konservatif yang pernah digelorakan partai Masyumi. Konservatisme biasanya identik dengan suatu fenomena keberagamaan yang mencerminkan ketaatan dalam beragama dengan kecenderungan menjaga nilai-nilai akidah dan syariat. Kelompok konservatif umumnya berupaya menjaga lembaga, tradisi, serta otoritas agama. Identitas keislaman yang hidup dalam kultur Muhammadiyah, memungkinkan setiap anggotanya yang tergabung dalam wadah politik PAN mengaktualisasikan dirinya melalui serangkaian fenomena gerakan formal Islam politik dan menemukan momentumnya disaat menguatnya gerakan konservatisme Islam yang cenderung mengkritik pemerintahan.

Sangat wajar saya kira, ketika PAN dibawah bayang-bayang Amien Rais justru benar-benar menemukan momentumnya ditengah menguatnya arus “Islam politik” dalam berbagai gerakan konservatisme yang terus menyuarakan pergantian kekuasaan. Para penggagas PAN yang kemudian kecewa dengan sikap Amien Rais yang dianggapnya melenceng dari khittah partai, lalu mendesak dirinya mundur semakin memperlihatkan bahwa ada upaya-upaya yang hendak mengaburkan garis demarkasi ideologi politik partai dengan suatu kenyataan politik. Tak berlebihan jika dikatakan, bahwa mungkin saja para penggagas PAN itu memang pro-rezim atau menganggap penguatan konservatisme agama hanya akan menemukan jalan buntu dalam memperoleh kekuasaan.

Manuver politik Amien Rais yang selalu diidentikkan dengan gaya konservatisme Islam, tentu saja seringkali membuat gerah para lawan politiknya. Tidak hanya mereka yang memang berseberangan secara ideologi politik, bahkan dalam internal PAN sendiri, seringkali terjadi upaya penggembosan politik seperti yang dilakukan tokoh-tokoh PAN daerah yang mendeklarasikan dirinya mendukung petahana dalam Pilpres 2019 mendatang. Keberadaan Amien terus dipertanyakan, bahkan berbagai kritik yang mengarah kepada pribadi dirinya seolah ia tak lagi mencerminkan sikap nasionalisme karena mendukung dan menggunakan kekuatan gerakan konservatisme Islam demi tujuan politik  kekuasaan.  

Lalu, apakah bermasalah ketika PAN memposisikan dirinya sebagai parpol pengkritik penguasa? Atau salahkah PAN yang benar-benar all out memenangkan capres Prabowo dengan memperkuat garis kepolitikannya yang konservatif, menggandeng gerakan-gerakan Islam politik yang seolah-olah diwacanakan publik sebagai gerakan politik yang cenderung memanfaatkan agama? Sosok Amien Rais yang selalu kritis memang berupaya membangkitkan sisi nasionalismenya melalui upaya “perlawanan” atas sikap “politisasi” rezim terhadap dirinya. Jika memang benar ada upaya kuat dari “tangan-tangan tak terlihat” dalam berupaya membungkam sikap kritis Amien yang terlampau keras, berarti memang ada upaya politisasi yang tidak sehat ditengah klaim menguatnya demokrasi. Maka, sudah sewajarnya jika ada upaya perlawanan balik dari PAN yang membela Amien Rais disaat tokoh paling seniornya justru “dipolitisasi”.   

Mungkin saja sosok Amien Rais menjadi ikon bagi gejala “conservative turn” sebagaimana penelitian Martin Van Bruinessen (Contemporary Developments in Indonesian Islam: 2013) yang mengungkap menguatnya kembali konservatisme beragama di kalangan Muslim Indonesia. Sekalipun hal ini menjadi gejala sosial yang bermasalah karena rentan terhadap kemunculan radikalisme dan ektrimisme, namun sosok Amien nampaknya tetaplah nasionalis karena sikapnya yang selalu kritis terhadap upaya penyelewengan-penyelewengan kekuasaan. Kesan penggunaan agama sebagai alat politik yang ditunjukkan melalui kedekatannya dengan berbagai gerakan konservatif, hanyalah taktik politik sekaligus konsistensi dirinya sebagai begawan politik yang anti-rezim.

Bagikan Artikel Ini
img-content
SYAHIRUL ALIM

Menulis, Mengajar dan Mengaji

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua