Strategi Generasi Milenial Menghadapi Ekonomi Digital

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
Bagikan Artikel Ini
img-content0
img-content
Iklan
img-content
Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

Millennials mulai mempersiapkan untuk menyesuaikan dirinya di balik berkembangnya teknologi ini.

Mendengar sebuah istilah digital ekonomi memang sudah tak asing lagi di telinga kita. Mungkin karena memang segalanya sudah berubah ke ranah digital. Semua kebiasaan kita tampaknya sudah terdigitalisasi. Karena pesatnya perkembangan teknologi, inovasi terus berlangsung. Para pengusaha di banyak bidang juga banyak melakukan inovasi. Para inovator ekonomi melahirkan satu genre baru di dunia bisnis, yaitu: e-commerce atau perdagangan elektronik. E commerce sendiri adalah kegiatan pembelian, penjualan, dan pemasaran baik barang, atau jasa, melalui sistem elektronik seperti internet. Genre baru ini bahkan berpotensi menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi global.

Indonesia tahun ini sedang mengalami pertumbuhan ekonomi paling lambat dalam lima tahun terakhir. Tetapi untuk pertumbuhan internet di Indonesia ini cukup dahsyat. Nantinya diprediksikan bahwa pengguna internet di Indonesia akan mencapai angka 215 juta sebelum tahun 2020 mendatang, dan lalu lintas internet global sepanjang tahun 2017 lalu bahkan sudah mencapai 1,2 zetabyte, atau setara dengan 1,2 Triliun gigabyte. di tengah perlambatan laju ekonomi tanah air. Tak dipungkiri lagi mungkin nantinya industri e-commerce dapat menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional, Terlebih, kebanyakan pelaku bisnis e-commerce di tanah air berskala kecil dan menengah (UKM).

 

Pemerintah Indonesia ingin menempatkan Indonesia sebagai Negara Digital Economy terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020. Selain adanya E-commerceRoadmap, pemerintah menargetkan dapat menciptakan 1.000 technopreneurs baru pada tahun 2020 dengan valuasi bisnis USD 10 miliar. Dan berharap nanti dapat terus dikembangkan dan mendukung perekonomian Indonesia yang diprediksi menjadi kekuatan ekonomi baru dunia pada tahun 2020 nanti.

 

Mereka ( generasi milenial ) identik dengan generasi yang lekat dengan penggunaan sosial media, baik jejaring pertemanan maupun pengunaan aplikasi tanda eksistensi diri. Sebagai generasi penerus di era yang penuh terpaan media, mereka dituntut untuk selalu menyesuaikan diri dengan cepat dan berprestasi akibat ketatnya persaingan, generasi milennial ini dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama ada di usia 21-37 tahun, yaitu yang telah mendapatkan achievement akan dirinya, mulai menentukan tujuan hidup dan berumah tangga.  Kelompok kedua adalah remaja akhir berusia 17-21 tahun. Mereka masih bergantung pada orang tua. Cenderung lebih ingin bebas dan sangat mudah dipengaruhi oleh role model.

 

Beberapa kalangan generasi millenial sekarang ini juga telah menjadikan internet terlebih lagi e-commerce sebagai bagian dari gaya hidup mereka. Perilaku konsumtif dari puluhan juta orang kelas menengah di Indonesia menjadi alasan mengapa e-commerce di Indonesia akan terus berkembang. Berbicara mengenai industri ini memang tidak semata membicarakan jual beli barang dan jasa via internet. Tetapi ada industri lain yang terhubung di dalamnya. Seperti penyediaan jasa layanan antar atau logistik, provider telekomunikasi, produsen perangkat pintar, dan lain-lain. Hal inilah yang membuat industri e-commerce harus dikawal agar mampu mendorong laju perekonomian nasional.

 

Selain itu, pemerintah juga merumuskan prinsip-prinsip utama dalam mengembangkan e- commerce lewat aksi afirmatif. Agar nantinya dapat meminimalisir hilangnya lapangan pekerjaan saat era transisi menuju perekonomian digital. Di tahun ini para generasi millennial memiliki peran penting, terdapat harapan dan bisa juga terdapat ketakutan besar terhadap hal ini. Mereka merupakan generasi yang paling terkena dampak masalah ini. Barangkali Millenials akan mengalami polarisasi di tempat kerja, atau pergeseran tren kerja lainnya di tahun depan. Namun, dibandingkan dengan generasi sebelumya, nilai- nilai generasi milenial yang menitik beratkan kepada jaminan, kesederhanaan, efisiensi, dan kemanisiaan membuat mereka akan tetap mampu bertahan dalam dunia digital dan otomatisasi. Hal ini juga disebabkan keinginan mereka untuk mengintegrasikan waktu kerja dan waktu luang mereka melalui kemudahan pekerja era digital.

 

Generasi millennial adalah orang-orang muda yang suka tantangan, cepat, dan ambisius. Oleh karena itu, ia dan perusahaan akan selalu berusaha untuk berubah dan lebih adaptif karena pasti ada beberapa kesenjangan budaya dan nilai-nilai antara generasi millennial dan generasi sebelumnya. Meskipun tidak lagi menjadi golongan pekerja termuda, Millennials telah memiliki pondasi kuat dalam pekerjaan professional, sehingga masih produktif dalam menciptakan inovasi dalam perusahaan. Dan diharapkan  tentunya nanti akan tetap memberi banyak kejutan di dunia kerja pada tahun ini.

Bagikan Artikel Ini
img-content
Bian Ade Wiratno

Penulis Indonesiana

0 Pengikut

Baca Juga











Artikel Terpopuler











Terpopuler di Peristiwa

img-content
img-content
img-content
img-content
Lihat semua