Menunggu Kolaborasi SBY dengan Prabowo - Analisa - www.indonesiana.id
x

yoyo tuna

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Menunggu Kolaborasi SBY dengan Prabowo

    Dibaca : 449 kali

    Masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebentar lagi akan berakhir. Tepat ditanggal 20 Oktober tahun ini Indonesia memiliki Presiden baru melalui pesta demokrasi lima tahunan pada 17 April mendatang.

    Pasangan calon Presiden dan cawapresnya hanya dua pasang. Prabowo Subianto dengan Sandiaga Uno, Joko Widodo berpasangan dengan Ma’aruf Amin.

    Jika pasangan Prabowo Subianto menang, maka status sebagai Presiden Republik Indonesia ke 7 pun akan disandang Jokowi dalam sejarah tanah air.

    Baiknya kita sedikit mengulik kisah saat Jokowi menjabat sebagai Presiden RI. Banyak yang dirasakan masyarakat sebagai kemudaratan. Jauh dari kesan bahagia dalam menjalankan sistem negara demokrasi yang berasaskan ideologi negara, yaitu Pancasila.  

    Terlebih dengan terpecahnya suara umat Islam. Banyak sahabat menjadi musuh. Saudara kandung pun jadi musuh, karena membela kubu penguasa. Hal ini sudah terasa sejak pemilu 2014 lalu. Dimana, pasangan capres dan cawapres juga hanya dua pasang yaitu, Prabowo dengan Hatta Rajasa, dan Jokowi berpasangan dengan Jusuf Kalla.

    Pertikaian ini terus berlanjut hingga sekarang. Pastinya sejak dipimpin Jokowi. Negara terasa aneh. Undang-undang pun sering di tabrak. Sehingga hal-hal aneh yang tak biasa dilakukan oleh pemerintahan sebelumnya dilakukan di pemerintahan yang era katanya ‘Sontoloyo’ bagi kubu rival.

    Beliau merupakan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Presiden Jokowi dianggap sebagai boneka sang Ketua Umum Megawati Soekarno Putri dalam menjalankan roda organisasi pemerintahan sejak dilantik 2014 silam.

    Tak heran banyak ulama maupun tokoh agama Islam menyindir kebijakan pemerintah. Lewat kotbah-kotbah kenegaraan maupun kotbah jumat pemerintahan ini juga dianggap pro Komunis. Pemerintahannya pun sering mengkriminalisasikan ulama. Salah satunya dalam bentuk persekusi yang dianggap radikal.

    Terlebih jelang pemilihan Umum Presiden tahun ini. Berbagai intrik dan gimik pemerintahan begitu ketara. Muda dibaca oleh masyarakat. Fitnah dan berita bohong dimana-mana. Lalu isu tersebut digoreng para pendukungnya agar isu tetap sebagai menyerang lawan politik.

    Saling mencaci dan mencari kesalahan kubu rivalitasnya begitu tampak.Hal ini semata-mata guna meraih elektabilitas masyarakat.

    Perasaan ini sangat berbeda dikala Susilo Bambang Yudhoyono memimpin Indonesia. Tak ada konflik. Berita bohong pun tak terdengar. Tak ada caci maki. Semua tampak harmoni. Saling menghormati sesama agama beda suku dan golongan lainya.

    Jika waktu bisa kembali diputar. Penulis ingin sekali memilih Pak SBY sebagai Presiden. Jikapun tidak bisa, anak sulungnya (AHY) bisa mewakili perasaan penulis membawa perubahan. Biar tak sama, yang penting program serta visi dan misi era SBY lebih baik dibanding Jokowi.

    Apapun yang telah dilakukan SBY selama sepuluh tahun kepemimpinannya, Jokowi hanya melanjutkan program tersebut. Semua diadopsi dari pemikiran mantan Jenderal empat tersebut. Contek dari Jusuf Kala yang pernah mendampingi SBY selama satu periode sebelum Budiono.

    Bagaimana pun pemikiran SBY lebih mengena ke hati masyarakat. Sedangkan pemerintahan sekarang pemikirannya bukan dari Presiden, melainkan orang sekitarnya yang haus dengan kekuasaan.

    Tulisan ini hanya segelintir perasaan masyarakat yang ingin ada perubahan di Indonesia. Ganti Presiden dengan Presiden Baru, Prabowo Subianto. Dan Partai nya Demokrat. Semoga dengan kolaborasi antara Prabowo dan SBY bisa membawa Indonesia menjadi lebih baik.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.089 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).