Debat Perdana, Antara Euforia dan Ekspektasi Warga - Analisa - www.indonesiana.id
x

Manasse Nainggolan

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Debat Perdana, Antara Euforia dan Ekspektasi Warga

    Dibaca : 382 kali

    Debat capres yang pertama baru saja selesai digelar, supaya masyarakat bisa fokus mengikutinya maka oleh KPU debatnya dibagi menjadi enam babak alias enam ronde dan masing masing ronde diharapkan  punya cerita sendiri sendiri yang menarik.

    Ibarat pertandingan tinju, ini adalah pertandingan yang dinanti nantikan banyak orang, sebuah tanding ulang antara pemegang sabuk juara dengan sang penantangnya, animo dan euforia masyarakat sudah kelihatan jauh jauh hari. Ada yang mengharapkan penantang bisa meng KO kan petahana, tetapi banyak juga yang berharap sebaliknya

    Ronde pertama

    Di ronde pertama ini masing masing diberikan waktu yang sama untuk memaparkan visi misinya di hadapan publik yang hadir dalam ruangan, juga warga yang menonton dibawah tenda tenda dan layar raksasa, lengkap dengan atribut kubu masing masing mirip laga sepakbola saat final piala dunia.

    Menurut saya ronde pertama ini kurang menarik, karena materi visi misi ini tentu saja dirumuskan oleh tim sukses masing masing. Saya menantikan momen saling melempar pertanyaan antar kedua kubu dimana akan terlihat kesiapan masing masing karena baik pertanyaan maupun jawaban akan berlangsung secara  spontan.

    Ibarat menonton pertandingan tinju favorit ayah saya, dimana kedua petinjunya  saling melancarkan pukulan Jab, Hook dan Uppercut, atau mungkin pukulan kombinasi. Tentu saja pukulan yang dimaksud dalam debat ini adalah ide, gagasan atau pertanyaan dan argumentasi yang mengelaborasi lebih jauh visi misi masing masing peserta, maka dapat dipastikan akan menjadi sebuah tontonan yang menarik sekaligus menjadi acuan bagi warga negara untuk menentukan pilihannya.

    Namun ternyata yang tersaji di layar televisi semuanya seperti gerak lambat saja.

    Jauh jauh hari cawapres nomor urut 02 Sandiaga Salahuddin Uno memang sudah memberikan pernyataan bahwa ia ingin debat ini tidak terlalu berlebihan, bukan seperti menonton pertandingan tinju atau gulat. (Belakangan ternyata kita malah disuguhi adegan joget joget dan pijat memijat)

    Namun bagi kita para warga yang terlanjur ber ekspektasi bahwa debat ini akan menjadi ajang ‘unjuk gigi’ masing masing paslon dalam memberikan solusi yang mumpuni mengatasi berbagai persoalan yang terjadi, tentu mengharapkan masing masing pihak akan mengeluarkan jurus jurus yang mantap dan tepat sasaran dan saling adu argumentasi.

    Ronde 2

    Kedua kubu diberikan waktu yang sama untuk menjawab pertanyaan sesuai dengan kisi kisi yang telah diberikan kepada kedua paslon sebelumnya. Hal ini merupakan kesepakatan antara timses masing masing dengan pihak KPU

    Buat saya ini juga agak membosankan, mau bertanding kok minta bocoran,”pertandingan macam apa ini ?” ujarku sedikit menggerutu

    Ronde 3

    Ronde ronde selanjutnya ternyata tidak seperti yang diharapkan, ‘jual beli pukulan’ tak kunjung tiba, hanya terlihat paslon 01 melancarkan jab jab dan hooknya yang mengenai muka penantangnya ketika sang penantang mencoba melayangkan pukulan.

    Dari pengamatan saya yang masih amatir ini -karena saya bukan pengamat politik apalagi pengamat tinju- debat perdana ini masih kurang seru, apa mungkin ini baru pemanasan ? malah lebih seru melihat perdebatan kedua kubu pendukung di berbagai platform sosial media.

    Diantara sekian banyak ‘serangan’ dan tangkisan Jokowi menurut saya 2 hal ini yang paling saya ingat membuat Prabowo tidak bisa mengelak, alhasil  ‘pukulan’ Jokowi pun mendarat dengan telak .

    Pukulan jab dari 02 yang mencoba menerobos pertahanan paslon 01 melalui pertanyaan terkait penegakan hukum aparat yang disebutnya berat sebelah. Menurut Prabowo kepala daerah yang mendukungnya ditangkap oleh aparat sementara mereka yang mendukung Jokowi ‘baik baik saja’

    ‘pukulan jab’ ini langsung ditangkis Jokowi dengan jawaban “Jangan menuduh begitu pak Prabowo, kalau ada bukti diajukan saja nanti di proses secara hukum” tidak berhenti sampai disitu, Jokowi kemudian langsung melancarkan sebuah Hook yang cukup keras dan terukur dengan menyinggung soal hoaks Ratna Sarumpaet.

    “Kalau ada bukti sampaikan ke aparat, jangan grasa grusu menyampaikan sesuatu, misalnya jurkamnya pak Prabowo mukanya babak belur, ternyata operasi plastik” dan seketika ruangan menjadi riuh. Mungkin para warga pendukung 01 yang nobar dibawah tenda sana ikutan bersorak juga. Sebuah ‘pukulan hook’ yang mendarat telak dan tak mampu ditangkis oleh kubu 02

    ‘Pukulan’ telak lainnya adalah ketika Jokowi mempertanyakan komitmen partai Gerindra yang menurut ICW justru paling banyak mencalonkan bekas koruptor. Prabowo tidak bisa menangkis serangan ini sehingga mendarat dengan telak, bahkan belakangan ia memberikan pernyataan yang blunder dengan menyebutkan tidak apa apa kalau korupsinya tidak seberapa. What ? korupsi tetap korupsi mau besar atau kecil pak.

    ‘Pukulan’ ini walaupun tidak membuat Prabowo KO namun cukup membuat sang penantang ngos ngosan dengan muka yang memerah terkena ‘pukulan’ telak. Saking telaknya ia butuh sedikit relaksasi dengan joget joget tanpa musik dan bantuan pijatan di pundak dari sang cawapres. Tak ubahnya ibarat petinju yang dikipasi dan dipijat oleh pelatihnya usai sempoyongan kena hajar tinju lawan.

    Peran Cawapres

    Kubu Prabowo yang sudah terbiasa ngomong dengan cepat apalagi cawapresnya masih muda dan memiliki modal stamina yang lebih unggul harusnya bisa menyampaikan ide dan gagasannya dengan lebih tajam dan tepat.  Apalagi kalau kita bandingkan dengan gaya berbicara Jokowi dan Ma’ruf Amin yang pendek pendek dan pelan pelan bahkan terkadang keburu kehabisan waktu.

    Sayangnya keunggulan ini tidak dimanfaatkan paslon 02 dengan maksimal, sehingga saya dan warga lain yang menyaksikannya harus cukup puas disuguhi adegan joget joget dan pijat memijat tadi

    Dari sisi cawapres, menurut saya Sandi lebih terlibat dalam kegiatan debat ini dibandingkan cawapres Jokowi, Ma’ruf Amin. Setiap ada kesempatan Sandi terlihat beberapa kali ikut berbicara dalam debat, sementara Ma’ruf Amin lebih irit bicara. Bahkan ketika disodori kesempatan untuk menambahkan keterangan Jokowi terkait isu HAM pak kyai hanya menambahkan  kata “cukup”

    Belakangan pak kyai mendapat porsi ketika membahas isu terorisme yang menurutnya berasal dari pemahaman agama yang salah dan faktor ekonomi.

    Ketika ditanyakan oleh media kenapa Ma’ruf Amin irit bicara, seusai debat pak kyai menjawab “Kalau sudah dijelaskan oleh presiden ya saya tinggal menyetujui, mendukung. Jangan seperti orang balapan ngomong” ujarnya

    Hal ini bisa dimaklumi, Jokowi sebagai petahana sudah jelas pertanyaan pertanyaan yang diajukan lebih banyak kearah apa yang sudah dilakukan selama 4 tahun ini, disinilah kesempatan Jokowi untuk menjelaskan capaian kinerjanya sehingga porsi Jokowi untuk menjawab lebih banyak dibanding cawapresnya.

    Well secara keseluruhan menurut saya debatnya masih kurang greget, nampaknya kedua kubu masih saling mengamati dan menakar kekuatan lawannya. Ekspektasi dan harapan warga –termasuk saya- nampaknya terlalu tinggi terhadap debat perdana ini, atau mungkin kita yang terlalu hanyut dalam euforia ?  

    Apakah debat debat berikutnya akan menampilkan hal yang sama ? atau ada sesuatu yang baru yang menarik untuk disaksikan ? mari kita nantikan pada pertandingan debat selanjutnya.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.