Kualitas Dewan Pengawas BPJS TK Benar-benar Menyedihkan - Analisa - www.indonesiana.id
x

ade armando

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Kualitas Dewan Pengawas BPJS TK Benar-benar Menyedihkan

    Dibaca : 786 kali

     
    KUALITAS DEWAN PENGAWAS BPJS TK BENAR-BENAR MENYEDIHKAN:  KETIKA RIZKY AMELIA DIKEROYOK SYAFRI DAN POEMPIDA HIDAYATULLAH
     
     
    Para pekerja di Indonesia harus kuatir dengan integritas Dewan Pengawas BPJS Ketenagakerjaan. 
     
    Ini misalnya terlihat dalam kasus Rizky Amelia (Amel atau RA) yang terus bergulir.
     
    Kali ini tidak kurang dari politisi senior Golkar, Poempida Hidayatulloh, yang turun tangan untuk membela terduga pelaku pencabulan Syafri Adnan Baharuddin.
     
    Poempida, yang kini menjadi salah seorang anggota Dewas BPJS Ketenagakerjaan, menyebarkan sebuah tulisan yang mati-matian membela Syafri dan menyudutkan Amel.
     
    Melalui website yang kelihatannya dia buat sendiri, nuansabaru.com, Poempida membuat sebuah tulisan berjudul ‘Bermain Detektif: Kasus Pemerkosaan’.
     
    Harus diakui, Poempida pintar menulis. Tapi isinya sampah. 
    Logikanya berantakan. Bahkan menggelikan dan memalukan.
     
    Di tulisan itu, dia belagak menjadi detektif sekualitas …. Sherlock Holmes (!!!!!!!)
     
    Di tulisan itu dia membangun imej SAB sebagai pejabat yang memiliki integritas baik, tegas dan sangat disiplin. Menurut Poempida, SAB membina RA menjadi karyawati yang baik dan professional. 
     
    Dia mengatakan ‘tuduhan’ RA kepada SAB adalah pembunuhan karakter. Alasan Poempida sederhana: RA bukannya melaporkan tindakan kepada pihak kepolisian atau ke Komnas Perempuan, melainkan menyebarkan cerita itu kepada pers. Kata Poempida, gara-gara pemberitaan media inilah, kehidupan dan reputasi SAB hancur.
     
    Lantas, sebagai ‘Sherlock Holmes’, Poempida menyajikan rangkaian ‘fakta’ untuk membantah tuduhan bahwa SAB adalah pelaku cabul.
     
    Tapi dasar detektif dungu, yang disajikan Poempida adalah rangkaian cerita yang tidak ada sangkut pautnya dengan tuduhan tindaan cabul SAB. Dia bercerita tentang ‘kedekatan hubungan’ SAB dengan keluarga RA, bantuan keuangan SAB kepada RA, kinerja RA yang menurut Poempida tidak terlalu baik,   hubungan RA dengan pacarnya (TS) yang tidak harmonis, hubungan RA dengan sesama staf (KP) di Dewas, bantuan SAB saat RA mencoba melakukan percobaan bunuh diri,  dan perkelahian antara pacar TS dan KP di kantor.
     
    Setelah bercerita panjang lebar, sang detektif dungu menyimpulkan sebagai berikut: “Kesimpulan sederhana yang dapat diambil untuk menjadi deduksi seorang Sherlock Holmes, dengan menyimak dan menganalisis fakta-fakta di atas, maka patut diduga, permasalahan yang dituduhkan RA kepada SAB adalah upaya pengalihan isu masalah pribadi antara RA, TS, dan KP yang berujung kepada labilnya jiwa RA yang kemudian juga diprovokasi oleh pihak-pihak tertentu yang tidak mengetahui persoalan sebenarnya.”
     
    Dungu kan?
     
    Oke, ada beberapa hal yang harus diluruskan.
     
    Amel tentu saja tidak ujug-ujug membuat konferensi pers pada 28 Desember 2018 yang menghebohkan itu.
    Sejak akhir November, Amel sudah melaporkan dugaan perilaku cabul SAB kepada banyak pihak: Ketua Dewan Pengawas BPJS TK, kepada Dewan Jaminan Sosial Nasional, kepada Presiden, kepada Komnas Perempuan,  dan Komisi IX DPR. 
     
    Celakanya gara-gara mengadu Amel malah diskors dan ditawari PHK oleh Dewas BPJS TK. Poempida pasti tahu persis pengaduan ini karena Poempida adalah anggota Dewas BPJS TK. Dan Poempida pasti tahu dan bahkan terlibat dalam penskorsan dan tawaran PHK pada Amel.
    Bahwa Amel akhirnya, dengan dibantu KPKS (Kelompok Pembela Korban kekerasan Seksual), melakukan konferensi pers pada 28 Desember adalah karena setelah dia diskor dan pengaduannya seperti lenyap ditiup angina, SAB pun mensomasi Amel dan mengancam akan menggugat Amel ke polisi.
     
    Sebagai catatan: segera sesudah konferensi pers, Amel dengan kuasa hukumnya menggugat SAB ke polisi.
     
    Jadi banyak sekali cacat logika dan tuduhan sampah dalam tulisan Poempida. Masalahnya, kenapa Poempida sedemikian ngototnya membela Syafri? Ada jalinan hubungan apakah antara Stafri  dan Poempida?
     
    Kita sebagai pekerja di Indonesia harus sangat kuatir dengan kualitas dan integritas orang semacam Poempida dan Syafri. Poempida menyatakan SAB memiliki integritas yang tinggi. Padahal chat-chat WA SAB kepada Amel jelas-jelas menunjukkan perilaku yang sangat tidak pantas. 
     
    Saya sendiri memiliki bukti-bukti tentang perilaku seks Syafri bahkan sebelum dia menjadi anggota Dewas BPJS TK. 
    Bagaimana mungkin orang semacam ini dibela oleh Poempida?
     
    Dari tujuh orang anggota Dewas BPJS TK yang digaji di atas seratus juta rupiah dan memiliki otoritas dalam hal ratusan triliun rupiah uang para pekerja, dua di antaranya ternyata memiliki integritas serendah ini.
     
    Kita harus khawatir. Mudah-mudahan lima lainnya tidak setali tiga uang dengan Syafri dan Poempida.


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.