#SeninCoaching: Melihat Indonesia Cara Rahman Tolleng - Analisa - www.indonesiana.id
x

Mohamad Cholid

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • #SeninCoaching: Melihat Indonesia Cara Rahman Tolleng

    Dibaca : 410 kali

    #Leadership Growth: A Manifesto for Better Leadership

     

    Mohamad Cholid

    Practicing Certified Executive and Leadership Coach

     

    It always seems impossible until it’s done.”  -- Nelson Mandela.

    Ada golongan orang yang berhasil memberikan pengaruh positif atau legacy, memberikan positive impact kepada banyak orang, tanpa menjadi selebritas. Orang-orang golongan ini ibarat para pendekar yang mengarungi dunia persilatan dan menjadi jawara tanpa harus menyebabkan kematian lawan – bahkan menyebabkan lawan-lawan jadi merasa tumbuh, karena telah adu jurus (berinteraksi) dengan mereka. Mudah-mudahan tidak berlebihan menempatkan Rahman Tolleng, sering disebut sebagai pejuang demokrasi, dalam posisi jawara di bidang politik. Akhir Januari (tanggal 29) kemarin Rahman Tolleng meninggal.

    Pertemuan saya pertama dengan Rahman Tolleng terjadi di Yogya, beberapa tahun setelah Malari 1974. Ketika itu saya masih remaja, belum kuliah dan baru mau belajar jadi wartawan. Saya diajak Dokter Hatma Tunggul (almarhum) ketemu Rahman Tolleng, Hariman Siregar, dan Aini Khalid – ketiganya dikenal sebagai tokoh Malari. Dokter Tunggul sahabat Hariman sejak mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan kenal baik juga dengan Rahman Tolleng.

    Beberapa tahun kemudian, 1980-an, saya ketemu Rahman Tolleng lagi. Saat itu saya mahasiswa Universitas Indonesia sambil kerja sebagai penulis buku Apa & Siapa Sejumlah Orang Indonesia, diterbitkan PT Grafiti Pers (penerbit Majalah TEMPO). Rahman Tolleng saat itu Kepala Divisi Penerbitan PT Grafiti Pers.

    Sudah lama saya berhenti merokok, prosesnya bertahap. Sebelum akhirnya stop sama sekali, saya membiarkan diri tergoda merokok lagi hanya kalau ditawari produk-produk kelas terbaik. Rahman Tolleng sebelum di kemudian hari dikenal pengisap pipa cangklong, waktu itu selalu membawa Dunhill – premium, impor, buatan Inggris. Dia berhasil membuat saya merokok kembali saat itu.

    Biasanya, saat break makan siang, atau sore hari sambil menunggu bahan tulisan yang up to date hasil wawancara para reporter, sembari menikmati Dunhill bersama, Rahman Tolleng mengajak bicara banyak hal tentang negeri ini.

    Menulis ratusan tokoh yang berperan penting dalam perkembangan Indonesia, yang sebagiannya juga saya interview sendiri, buat saya sesungguhnya merupakan proses belajar, bagaimana orang-orang yang pergulatan hidupnya layak dituliskan ke dalam buku itu mengolah kehidupan, memberikan kontribusi positif untuk masyarakat. Bagaimana mereka mengembangkan perspektif dalam profesi dan dari posisi masing-masing -- sebagai pengusaha, pejabat pemerintah, budayawan, wartawan, tokoh politik, dan pelawak (seperti Basijo dan S. Bagyo).

    Perbincangan yang intensif dengan Rahman Tolleng, yang kadang dia selingi cerita-cerita pribadi, memperkaya saya memahami Indonesia dengan lebih cermat. Dia membiasakan melihat perbedaan pandangan politik tanpa rasa marah, apalagi benci. Membahas kebijakan politik tanpa menyinggung pribadi tokoh bersangkutan. Membedakan antara info politik yang menjurus gosip dengan kejernihan melihat persoalan. Termasuk kegundahannya terhadap kalangan yang mengaku sebagai politisi namun tumbuh tanpa mentoring yang genah, sehingga mereka menimbulkan kagaduhan di tingkat daerah sampai level nasional.

    Bagi saya, itu merupakan proses pembelajaran membangun perspektif lebih baik, dengan clarity, dalam melihat negara kita dan sejumlah tantangannya. Rahman Tolleng menyiratkan sebuah manifesto untuk proses demokratisasi yang lebih sehat dan kepemimpinan yang lebih akuntabel bagi kemajuan Indonesia.

    Bagaimana menghormati perbedaan, berpikir global, dan sharing leadership, di kemudian hari sangat berharga, ketika saya berprofesi penuh sebagai wartawan dan redaktur Ekonomi & Bisnis TEMPO, lantas menjadi pemimpin redaksi Majalah Dwimingguan Tajuk, dan saat sebagai direktur sebuah perusahaan investasi asing.

    Dalam proses pembelajaran selanjutnya dan sertifikasi di institusi pengembangan kepemimpinan Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching (MGSCC), ketiga kompetensi tersebut (appreciating diversity, thinking globally, dan sharing leadership) ternyata, bersama kompetensi building partnership dan developing technological savvy, merupakan lima emerging competencies yang sangat diperlukan dalam menghadapi dinamika global Abad 21.

    Ini sesuai hasil survei multiyear yang disponsori Accenture Institute for Strategic Change, terhadap 500 responden di 200 organisasi (multinasional) di enam benua (Global Leadership: The Next Generation, diolah Marshall Goldsmith, dengan co-author Cathy L. Greenberg, Alastair Robertson, dan Maya Hu-Chan).

    Bagi para eksekutif dan leader di institusi pemerintah, lembaga politik, organisasi bisnis, serta lembaga nonprofit, yang memiliki niat mulia mengajak bangsa Indonesia berperan lebih signifikan di arena global, meningkatkan kompetensi kepemimpinan sesuai tuntutan zaman menjadi sangat penting.

    Berbasis pada metode MGSCC, selain lima kompetensi tersebut di atas, ada sepuluh kompetensi lagi yang mestinya melengkapi kepemimpinan Anda: Demonstrating Integrity; Encouraging Constructive Dialogue; Creating a Shared Vision: Developing People; Empowering People; Ensuring Customer Satisfaction; Maintaining a Competitive Advantage; Achieving Personal Mastery; Anticipating Opportunities; dan Leading Change.

    Semua kompetensi itu dan peluang berperan lebih signifikan untuk kemajuan bersama, tentunya dapat kita raih, sepanjang kita sungguh-sungguh merengkuhnya. “It always seems impossible until it’s done,” kata Nelson Mandela.

     

    Mohamad Cholid  adalah Head Coach di Next Stage Coaching.

    n  Certified Executive Coach at Marshall Goldsmith Stakeholder Centered Coaching

    n  Certified Marshall Goldsmith Global Leadership Assessment

    Alumnus The International Academy for Leadership, Jerman

    (http://id.linkedin.com/in/mohamad-cholid-694b1528)

    (http://sccoaching.com/coach/mcholid1)

    Kontak Nella +62 85280538449 untuk jadwal peluang free consultation Anda.

     

     

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.