Capres Saling Adu Survei - Analisa - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Capres Saling Adu Survei

    Dibaca : 627 kali

     

    Di dunia bisnis, perusahaan yang meyakini pentingnya umpan balik dari konsumen akan secara teratur melakukan survei. Survei merupakan cara untuk mengetahui respon konsumen terhadap produk barang dan jasa yang dihasilkan produsen. Hasil survei kemudian digunakan oleh manajemen perusahaan untuk mengevaluasi dan meningkatkan kualitas berbagai hal, mulai dari produknya, cara dan media pemasaran, jalur distribusi, strategi penjualan, hingga tingkat kepuasan konsumen.

    Melalui survei pula, produsen produk tertentu dapat mengetahui situasi pasar maupun bidang industrinya. Perusahaan tertentu dapat mengetahui siapa yang memimpin pasar untuk produk sejenis saat survei dilakukan. Lazimnya survei dilakukan oleh konsultan luar yang disewa namun diberi kebebasan untuk melakukan aktivitasnya sehingga hasil survei relatif obyektif sebagai masukan balik bagi produsen. Surveyor disewa bukan untuk menyenangkan hati produsen apabila untuk itu ia harus bertindak tidak jujur dalam melakukan survei.

    Dalam politik, survei punya peran lebih dari itu. Survei memang diperlukan oleh partai politik untuk mengetahui respon masyarakat pada waktu tertentu terhadap calon-calon mereka, khususnya calon presiden. Popularitas dan elektabilitas merupakan dua hal yang sering disebut dan ingin digali dari masyarakat. Partai ingin memperoleh gambaran dari lapangan apakah elektabilitas capres mereka semakin meningkat menjelang hari pemilihan.

    Namun, lebih dari itu, survei juga dipercaya oleh partai mampu memengaruhi persepsi publik terhadap calon yang mereka usung dan dukung. Hasil survei untuk konsumsi publik yang selalu bagus bukan dimaksudkan untuk menyenangkan partai-partai penyewanya, melainkan untuk memengaruhi persepsi masyarakat terhadap calonnya.

    Jika hasil survei cenderung naik dari waktu ke waktu, partai percaya bahwa warga pemilih akan cenderung menjatuhkan pilihan pada calonnya. Sebaliknya, jika hasil survei semakin turun, mereka juga percaya bahwa akan bertambah banyak warga pemilih yang meninggalkan calonnya.

    Jalan pikiran itulah yang mendorong partai-partai untuk menyewa konssultan politik yang sekaligus mampu berperan sebagai lembaga survei. Dengan dua peran seperti itu, tidak heran bila ada yang meragukan obyektivitas hasil survei lembaga survei.

    Bahkan, belakangan ini partai-partai melakukan apa yang disebut ‘survei internal’ terkait dengan tingkat keterpilihan (elektabilitas) capres masing-masing. Kubu Joko-Ma’ruf menyebut masih unggul jauh, sedangkan kub u Prabowo-Sandiaga mengklaim sudah mulai menyusul. Media online mengabarkan, Senin, 4 Februari 2019, cawapres Sandiaga memberi bocoran hasil elektabilitas survei internal kubunya. Sandi menyebut elektabilitasnya sudah di atas 40 persen dan hanya selisih satu digit dengan pesaing. Sehari kemudian, tim kampanye Joko-Ma’ruf memaparkan hasil survei internal mereka. Disebutkan, elektabilitas Joko-Ma’ruf sekitar 56 persen dan unggul dua digit.

    Begitulah, tidak mengherankan bila kedua kubu capres saling mengeluarkan hasil survei yang mengunggulkan calon mereka. Tidak perlu bingung menghadapi hasil survei semacam itu jika kita memahami bahwa hasil survei terebut merupakan bagian upaya untuk memengaruhi persepsi publik, khususnya untuk warga pemilih yang belum menetapkan capres pilihannya alias masih terombang-ambing (swing voters).

    Hasil survei itu juga diperlukan untuk meyakinkan para pendukung masing-masing capres bahwa kans untuk memenangkan pilpres tetap terbuka. Di sinilah nilai penting lain hasil survei bagi kubu masing-masing capres: meningkatkan optimisme internal dan memiriskan semangat kompetitor dan pendukungnya. Survei bisa menjadi alat untuk menurunkan kepercayaan diri pesaing, alat untuk melakukan psywar. **


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.079 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).