Pro Kontra RUU Permusikan - Seleb - www.indonesiana.id
x

Elnado Legowo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Seleb
  • Pilihan
  • Pro Kontra RUU Permusikan

    Dibaca : 629 kali

    Beberapa hari terakhir kita dikejutkan oleh RUU Permusikan yang dinilai mengekang kekreativitas musisi Indonesia. Banyak para musisi yang menentang, melakukan demonstrasi, bahkan membuat #tolakruupermusikan.

    Dalam RUU Permusikan, terdapat 19 Pasal yang di nilai bermasalah yaitu pasal 4, 5, 7, 10, 11, 12, 13, 15, 18, 19, 20, 21, 31, 32, 33, 42, 49, 50, 51. Namun pasal yang paling sering dibahas adalah pasal 5 yang berisi beberapa larangan bagi para musisi: dari mulai membawa budaya barat yang negatif, merendahkan harkat martabat, menistakan agama, membuat konten pornografi hingga membuat musik provokatif. Banyak yang menilai pasal ini bisa disalahgunakan untuk mengkriminalisasi musisi. Bahkan Anang Hermansyah yang mengusulkan RUU Permusikan juga kurang setuju, karena dinilai mengekang kebebasan berekspresi.

    Namun dibalik kontroversinya RUU Permusikan, terdapat tujuan untuk mendorong musik di tanah air agar bisa berkembang dengan pesat dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Selain itu, RUU Permusikan juga bertujuan untuk menyejahterakan pemusik lokal seperti contohnya pemusik tradisional. 

    Banyak musisi yang sudah banyak berkarya sepanjang hidup mereka, namun nasibnya sangat kontras dengan karyanya karena kurangnya penghargaan atas karya mereka. Sedangkan para pebisnis musik lebih sejahtera ketimbang pemusiknya.

    Banyak musisi yang seharian manggung, tetapi hanya dibayar 200ribu hingga 500ribu. Sedangkan di negara maju, mereka bisa dibayar puluhan ribu US Dollar hingga 1 juta US Dollar. Hal ini jelas sangat tidak sebanding dengan kerja keras mereka. Apalagi mereka bukanlah musisi amatir, melainkan musisi yang handal dan berpengalaman. 

    Dengan itu, Anang dan politisi lainnya di Komisi X DPR RI gigih memperjuangkan rancangan undang-undang permusikan. Selain mengatur standar penghargaan kepada seniman musik, RUU Permusikan juga mengatur ekosistem musik dan pendidikan musik yang ideal bagi generasi mendatang.

    Oleh karena itu, kita sebagai warga negara yang baik, terutama musisi tanah air sebaiknya mendukung dan mengkritisi RUU Permusikan, bukan menolaknya. Kecuali sudah melenceng dari tujuan awal, tidak ada diskusi atau kesepakatan bersama, terjadi pelanggaran dalam pembuatan RUU, dan sudah merugikan.

    Karena RUU Permusikan masih dalam bentuk Draft Rancangan Undang-Undang yang masih bisa direvisi, diubah, dan dihilangkan. Ini adalah kesempatan bagi para musisi untuk menggunakan hak suaranya untuk mengkritisi pasal-pasal yang dinilai bermasalah atau melenceng dari tujuan awal, supaya dapat menghasilkan UU Permusikan yang mensejahterahkan musisi tanah air.

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.