Militan di Mata Kaum Buta Huruf vs Partisan Politik - Analisa - www.indonesiana.id
x


Bergabung Sejak: 1 Januari 1970

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Militan di Mata Kaum Buta Huruf vs Partisan Politik

    Dibaca : 241 kali

    Militan bisa jadi kata penting hari-hari ini. Karena berapa banyak orang yang sangat militan dalam memperjuangkan “calonnya” di pilpres 2019. Tak peduli berujar benci, hoaks atau fitnah. Asal niatnya “mengalahkan lawan, memenangkan pujaan”.

     

    Militan itu artinya bersemangat tinggi; penuh gairah; walau sedikit berhaluan keras. Misalnya: untuk membangun sebuah organisasi yang berkualitas dibutuhkan orang-orang yang militan. Tentu, militan dalam perbuatan baik. Harusnya begitu, militan dalam menjadikan keadaan dari yang sebelumnya kurang baik menjadi lebih baik. Bukan sebaliknya.

     

    Sebagai contoh saja.

    Di Desa Sukaluyu Kaki Gunung Salak Bogor, ternyata masih ada ibu-ibu kaum buta huruf yang begitu militan dalam belajar baca dan tulis. Semangat dan gairahnya tiada tara agar bisa terbebas dari belenggu buta huruf. Dalam naungan “GErakan BERantas BUta aksaRA (GEBER BURA) Lentera Pustaka”, para ibu bersemangat selalu hadir dan penuh antusias datang untuk belajar baca dan tulis seminggu 2 kali.

     

    Bertempat di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Lentera Pustaka, ibu-ibu yang tidak tahu persisnya tanggal lahir dan umurnya ini sama sekali tidak mengendurkan semangat untuk bisa membaca dan menulis. Agar bisa membimbing anak-anaknya yang masih sekolah. Sekalipun mereka sudah berusia tidak lagi muda, para ibu punya jiwa militansi yang berkobar. Agar sekali lagi, bisa baca dan bisa tulis.

     

    “Terus terang, saya semangat sekali untuk bisa baca dan bisa tulis demi anak. Dan bersyukur di Lentera Pustaka, saya diajar oleh orang yang datang seminggu sekali dari Jakarta untuk mengajarkan ibu-ibu buta huruf seperti saya. Sudah puluhan tahun, saya ingin bisa baca dan tulis. Tapi tidak ada mengajari” ujar Ibu Ar, salah satu ibu buta huruf GEBER BURA.

     

    Semangat ibu-ibu, sekalipun di tengah kesibukan sebagai ibu rumah tangga, untuk terbebas dari buta huruf adalah sebuah militansi. Militan dalam kebaikan.

     

    Sementara di luar sana, di dunia politik, militan jadi berubah makna. Militan yang berarti semangat dan gairah “ditumpahkan” ke dalam ucapan, komentar bahkan perbuatan yang tidak baik. Hanya gara-gara soal politik, urusan pilpres. Betapa banyak orang yang militan untuk menjelek-jelekkan orang lain, membenci pemimpin dan negaranya. Militan hanya dipakai untuk mencaci, membenci, menghujat orang-orang yang tidak sesuai dengan pilihannya. Para partisan politik yang militan hanya berpikir untuk meraih kekuasaan, kemenangan. Tanpa peduli cara-caranya yang tidak baik. Menebar kebencian, berbagi berita bohong, hingga mengemas fitnah dijadikan media untuk membangun militansi.

     

    Militan di mata partisan politik makin aneh. Katanya demokratis tapi yang disebarkan berita negatif dan kejelekan orang lain. Pilpres 2019 hanya dijadikan ajang untuk melampiaskan ketidak-sukaan, nafsu kebencian. Spiritnya, asal bukan dia. Itulah dasar militansi para partisan politik.

     

    Kaum partisan politik sering lupa. Mereka begitu militan. Karena aesungguhnya mereka sedang memperjuangkan mimpi-mimpinya yang tidak pernah terwujud. Berjuang keras untuk melampiaskan nafsu politik, kebencian yang tertanam dalam ego pikiran dan perulakunya sendiri.

     

    Sungguh, militan menjadi berbeda makna; di mata kaum buta huruf versus kaum partisan politik yang mungkin tidak buta huruf tapi buta hati.

     

    Maka jadilah militan yang baik, yang positif.  Karena menjadi militan dalam mencari dan menebar keburukan tentang pemimpinnya, tentang negaranya sudah terlalu banyak di negeri ini.

     

    Hari ini, negeri ini hanya butuh orang-orang yang militan dalam kebaikan, dalam 


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.