Antara Soekarno, Hatta dan Prabowo - Analisis - www.indonesiana.id
x

firdaus cahyadi

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Antara Soekarno, Hatta dan Prabowo

    Apa jadinya jika petani tak lagi punya sawah.... Apa jadinya jika cukong-cukong menguasai tanah....

    Dibaca : 2.123 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Siapa tak kenal Bung Karno dan Bung Hatta? Mereka berdua, meskipun sering berbeda pandangan, adalah peletak dasar-dasar nasionalisme di negeri ini.

    Nasionalisme seakan sudah menjadi bagian dari nafas mereka sehari-hari. Nasionalisme telah mencegah mereka melakukan akumulasi kekayaan di tengah penduduk Indonesia yang miskin.

    Bung Hatta misalnya, tidak pernah kesampaian membeli sepatu impiannya. Padahal sebagai seorang proklamator dan mantan pejabat, tak sulit baginya untuk mendapatkan sepatu impiannya. Hingga akhir hayatnya, Bung Hatta masih bersemangat mewujudkan sosialisme Indonesia melalui jalan koperasi.

    Bung Karno pun sama. Sebagai seorang proklamator dan mantan Presiden Indonesia pertama, lebih mudah baginya untuk melakukan akumulasi kekayaan demi kepentingan pribadi dan keluarganya. Tapi itu tidak dilakukannya. Seperti halnya, Bung Hatta, hingga akhir hayatnya ia masih kental keberpihakannya dengan kaum  marhean, kaum tani yang memiliki tanah dan faktor-faktor produksi lainnya serba minim.

    Waktu berubah. Pertanyaan berikutnya adalah apakah standar nasionalisme yang dasar-dasarnya diletakan oleh kedua tokoh itu telah berubah?

    Hingga muncul pernyataan seorang capres dalam debat dalam rangka bertahan terhadap pernyataan terkait penguasaan lahan ratusan ribu hektare. "Itu benar tapi itu adalah HGU, itu adalah milik negara. Jadi setiap saat negara bisa ambil kembali dan kalau untuk negara saya rela lakukan itu semua. Tapi daripada (lahan) jatuh ke orang asing lebih baik saya yang kelola karena saya nasionalis dan patriot," ucap Prabowo seperti ditulis oleh Tribunews.com.

    Ketimpangan penguasaan lahan adalah persoalan serius di negeri ini. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), seperti ditulis salah satu media daring, sejak 2003 hingga 2013 jumlah petani gurem yang kehilangan lahannya sebesar 53,75 persen atau sebanyak 5,04 juta rumah tangga petani. Konversi lahan didominasi oleh sektor perkebunan dengan areal sebesar 41,32 persen.

    Jika Soekarno dan Hatta sebagai bagian dari beberapa pendiri bangsa yang meletakan dasar nasionalisme yang hingga akhir hayatnya masih concern pada keadilan sosial. Kini, ada seorang calon pejabat publik yang menguasai lahan HGU di tengah jutaan kaum tani yang tidak punya lahan, justru mengklaim itu dilakukannya sebagai perwujudan dari nasionalisme dan sikap patriotisme.

    Ratusan ribu lahan itu harusnya dibagikan kepada kaum tani yang tidak punya lahan, bukan dikuasai secara personal. Tak penting siapa penguasa lahannya, orang asing atau warga Indonesia, tetap saja itu bukan sikap nasionalis apalagi patriotis di tengah jutaan keluarga kaum tani yang tidak punya lahan.

    Nasionalisme dan patriotisme Bung Karno dan Hatta jelas tidak bisa disandingkan dengan kapitalisme yang menghalalkan penguasaan lahan secara luas di tengah kaum tani yang kehilangan tanahnya. Jika nasionalisme dan patriotisme sudah disandingkan dengan kapitalisme, yang muncul adalah nasionalisme dan patriotisme gadugan.

    Apa itu nasionalisme dan patriotisme gadungan? Nasionalisme dan patriotisme gadungan adalah bila seorang atas nama nasionalisme dan patriotisme melakukan akumulasi kekayaan, salah satunya melalui penguasaan lahan secara luas, di tengah kemiskinan warga negara, termasuk kemiskinan kaum tani akibat tidak punya lahan untuk bertani.

    Akhirnya jadi ingat sebuah lirik lagu Iwan Fals yang berjudul, Hura hura Huru Hara

    ..............

    Apa jadinya jika petani tak lagi punya sawah....

    Apa jadinya jika cukong-cukong menguasai tanah....

     

    Sumber gambar: https://www.suarasosmed.info/2019/02/wahana-lingkungan-hidup-lahan-prabowo.html

    Ikuti tulisan menarik firdaus cahyadi lainnya di sini.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.