Belajar Toleransi dari Nama Caleg PKS Fransisca Santa Clause - Analisis - www.indonesiana.id
x

Xavier Quentin Pranata

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB

  • Analisis
  • Topik Utama
  • Belajar Toleransi dari Nama Caleg PKS Fransisca Santa Clause

    Ada kader PKS yang bernama Fransisca Santa Clause. Sebenarnya nama seperti ini oke saja karena artinya juga baik.

    Dibaca : 3.196 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

    Belajar Menyuburkan Kebersamaan di Tengah Perbedaan dari Nama Caleg PKS Fransisca Santa Clause

    Warganet bisa saja menemukan segala sesuatu yang mereka anggap ‘aneh’ dan ‘nyleneh’. Misalnya, yang sedang viral saat ini. Ada kader PKS yang bernama Fransisca Santa Clause. Sebenarnya nama seperti ini oke saja karena artinya juga baik.

    Arti ‘Fransisca’ adalah kebahagiaan, kehormatan dan pernikahan. Sedangkan Santa Clause atau Sinterklas dari kamus belajar bahasa ada dua. Pertama, tokoh suci (dl agama Kristen) yg konon sangat sayang dan selalu memberi hadiah kpd anak-anak pd hari-hari penting (terutama pd ulang tahunnya tanggal 6 Desember). Kedua, perayaan memperingati hari ulang tahun Sinterklas, tanggal 6 Desember.

    Jadi, kalau nama itu digabungkan hasilnya tetap baik. Maknanya pun tidak ada yang aneh. Namun, karena kader PKS ini muslim, ada saja netizen yang menganggapnya aneh. Bahkan di kolom komentar adalah yang menulis, “mungkin ananda ini mualaf ya...” (Ria van basten).

    Warganet lainnya mempersoalkan nama caleg ini karena berasal dari PKS yang tidak menyetujui artibut Santa Claus atau Sinterklas.

    What’s in a name?

    Begitu pertanyaan klasik yang sering diulik orang saat memperbincangkan soal nama. Saya mengenal seorang pejabat bernama Sabar yang ternyata memang sabar. Namun, bagaimana jika seorang koruptor diberi nama Jujur oleh ortunya?

    Jadi, seandainya saya bertemu dengan pujangga Inggris ini yang karyanya saya teliti untuk menulis thesis saya dulu, saya akan berkata, “Nama itu penting sekali.” Jika tidak, mengapa kita tersinggung, bahkan marah jika seseorang memanggil kita hanya dengan menjentikkan jari telunjuk? Atau mengapa pula narapidana seringkali merasa tidak diperlakukan secara manusiawi saat namanya diganti dengan angka?

    Sebagai orang yang tinggal di Jawa yang kental dengan budaya Jawa, saya tahu bahwa setiap pergantian nama perlu ada acara tumpengan. Jadi, nama itu, sekali lagi, penting sekali.

    Apa salahnya Francisca Santa Clause?

    Di Indonesia, nama dan busana serta aksesoris tertentu dianggap—yang utama—mewakili agama tertentu. Misalnya nama Muhammad mewakili Islam sedangkan Fransiskus Xaverius mewakili Katolik. Padahal, bisa saja namanya Muhammad namun agamanya Kristen. Saya punya teman Kristen dengan nama Mohammad Yusuf. Apakah dia pindah agama? Ternyata tidak.

    Karena ‘cap di dahi’ itulah yang membuat caleg PKS itu dianggap aneh, padahal, apa anehnya? Nama itu pemberian orangtuanya. Mereka pasti punya alasan tertentu untuk memberi nama anaknya seperti itu.

    “Aku beri nama dia Tahir,” ujar sahabat saya yang baru dikaruniai seorang anak laki-laki setelah di sulung perempuan. “Aku berharap anakku kalau kaya bisa dermawan seperti Datuk Tahir,” ujarnya. Yang dia maksud dengan Tahir adalah konglomerat Indonesia pemilik kelompok usaha Mayapada.

    Dari Pintu Pemberitahuan sampai Etika Silit Asin

    Iseng saya ketika kata ‘nama aneh-aneh’ dan click ‘image’ dalam dua baris gambar saja saya sudah membaca nama-nama yang bikin ngakak: Jashujan, Nama (benar: namanya Nama), Tuhan, Royal Jelly, Selamet Dunia Akhirat, Satria Baja Hitam, Pintu Pemberitahuan, dan Etika Silit Asin.

    Nama terpendek di dunia pun ada di Indonesia, yaitu N, warga desa Tamanan, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Nama kedua kakaknya ‘norman’ yaitu Lestari dan Jarot. Entah apa yang ada di benak pasangan Wahyu Sih Nugroho dengan Sukarti sehingga memberi nama anak gadisnya dengan satu huruf saja, yaitu ‘N’.

    Nama terpendek di Indonesia tidak kurang hebohnya yaitu Aiwinur Siti Diah Ayu Mega Ningrum Dwi Pangestuti Lestasi Endang Pamikasih Sri Kumala Sari Dewi Puspita Anggraini. Begitu panjangnya nama ini sehingga disingkat ‘Y’ saja untuk KTP dan SIM.

    Yo Wis

    Jika kita menghormati HAM, kita tidak usah ikut kepo dengan nama orang lain. Toh ortunya sudah memikirkan nama anaknya dengan sungguh-sungguh. "Mudah-mudahan namanya jadi berkah, karena itu pemberian orang tua yang pasti menginginkan anak tumbuh sesuai namanya: malaikat yang selalu membuat manusia gembira saat bangun di pagi hari," kata Sekretaris Bidang Polhukam DPP PKS Suhud Alynudin kepada wartawan, Jumat (1/3/2019). (detik.com). Mengapa kita yang kebakaran jenggot? Seorang bapak yang memberi nama anaknya Pajero karena mencintai Mitsubishi justru mendapatkan hadiah dari pabrikan mobil itu.

    Kedua, bagaimana jika nama kita sendiri pun ternyata terasa aneh di daerah atau negara lain? Kita tidak senang jika nama kita ditertawain, apalagi dibuat bahan guyonan kan? Pernah baca humor ini?

    Seorang rohaniwan taat memberi nama anaknya berdasarkan dua belas suku Israel. Kebetulan, dia tidak ikut KB, sehingga mempunyai 12 anak: Ruben, Simeon, Lewi, Yehuda, Dan, Naftali, Gad, Asyer, Isakhar, Zebulon, Yusuf, Benyamin. Nah, bapak itu memberi kedua belas anaknya persis dengan nama-nama itu. Eh, ternyata lahir anak yang kedua belas. Teman-temannya menggodanya dengan pertanyaan, “Hayo, anak ketiga belas kamu beri nama siapa?” Dengan tenang dengan menjawab, “Ben Wae.”

    Meskipun ngakak, teman-temannya masih mengejarnya, “Kalau kebobolan lagi dan lahir anak keempat belas, kamu masih bisa memberi nama?”

    Sambil tersenyum lebar bapak itu berkata, “Ben Terus!”

    Sambil tersenyum, saya ingat waktu  memberi nama anak pertama saya Yonatan, ada yang tanya, “Kalau anak kedua?” Saya jawab sederhana, “Jika laki-laki saya beri nama Yosafat.”

    “Kalau perempuan?” kejar sahabat itu.

     “Yosefin.”

    “Jika lahir lagi?”

    “Saya kasih nama ‘Yo Wis’!” ujar saya yang disambut gelak tawa teman-teman.

    Jadi, yo wis tidak usah diperdebatkan.

    Ketiga, justru Fransisca Santa Clause ini saya rasa bisa menyejukkan sikon Indonesia yang lagi panas oleh berbagai black campaigne, hoax dan hate speech. Bukan saja menyadarkan dan mempersatukan perbedaan, namun juga menyejukkan. "Itu namanya, nama dikasih orang tua, dinamai begitu oleh orang tua," kata Fransisca. Penjelasan dari orang tuanya, lanjut Fransisca, alasan pemberian nama itu sebatas karena waktu kelahirannya, yakni pada bulan November. Ada pihak keluarga yang mengusulkan nama itu karena memang keluarganya berasal dari dua latar belakang berbeda. (detik.com) Bhineka Tunggal Ika kita kibarkan kembali dengan semangat kebersamaan. Setuju? Setuju ora setuju Yo Wis damai saja. Yang penting kita sama-sama mencintai tanah air bernama Indonesia. Merdeka!

    • Xavier Quentin Pranata, pelukis kehidupan di kanvas jiwa.

    2



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.079 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.