Mengenal Investasi ETF di Indonesia - Analisa - www.indonesiana.id
x

Setyo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Mengenal Investasi ETF di Indonesia

    Dibaca : 2.981 kali

    Perkembangan investasi di Indonesia setiap tahunnya semakin meningkat. Hal ini didukung juga dengan adanya kemudahan dalam berinvestasi melalui hadirnya beberapa fintech dan keberagaman jenis produk investasi. Untuk kita yang ingin melakukan diversifikasi risiko, akan cocok juga berinvestasi pada reksa dana. Namun, mengenal reksa dana saja ternyata belum cukup, karena masih ada alternatif jenis investasi lainnya, salah satunya ETF.

     

    ETF atau Exchage Trade Fund secara sederhana dapat diartikan sebagai reksa dana yang diperdagangkan di Bursa. Perdagangan ETF di Indonesia merupakan Kontrak Investasi Kolektif yang Unit Penyertaannya dicatatkan di Bursa Efek Indonesia, seperti saham. Sebagaimana halnya reksa dana pada umumnya, dalam ETF terdapat pula Manager Investasi dan Bank Kustodian.

     

    Perkembangan ETF di dunia sudah di mulai sejak tahun 1993. Sedangkan di Indonesia sendiri, ETF pertama kali diluncurkan pada tahun 2007, yaitu Premier ETF LQ45 untuk ETF saham dan Bahana ABF Bond Index untuk ETF Bonds.

     

    Sampai dengan saat ini, ETF di Indonesia semakin berkembang. PT Indo Premier Investment Management sebagai pioneer pembuat ETF dan PT. Indo Premier Sekuritas selaku dealer partisipan satu-satunya dalam penjualan ETF pada pasar primary terus melakukan sosialisasi mengenai manfaat dari ETF, sebagai salah satu pilihan investasi yang menarik.

     

    Saat ini sudah ada 24 reksa dana ETF yang ada di Indonesia, dan 11 diantaranya dikelola oleh PT. Indo Premier Investment Management (IPIM). ETF mulai popular pada beberapa tahun belakang karena ETF memiliki karakteristik fleksibel dalam bertransaksi dan transparan yang berarti kita dapat melihat seluruh underlying portofolio dalam reksa dana bursa tersebut.

     

    Pada dasarnya, ETF sama saja dengan reksa dana pada umumnya, namun dengan keunggulan tambahan dapat diperjualbelikan melalui Bursa Efek Indonesia selama jam bursa berlangsung. Sehingga dapat dikatakan, ETF merupakan penggabungan dari manfaat reksa dana dan saham.

     

    Namun, disamping manfaatnya yang luar biasa, kita juga tetap harus memikirkan risiko investasi pada ETF. ETF yang tercatat di Bursa Efek Indonesia termasuk juga ke dalam reksa dana saham, sehingga investasi ini termasuk ke dalam kategori profil risiko yang agresif. Maka dari itu, kita perlu mempelajari mengenai hal-hal apa saja yang akan mempengaruhi pergerakan harga ETF tersebut.

     

    Namun, jika kita belum terbiasa dengan volatilitas pergerakan reksa dana saham, alternatif lain yang dapat kita lakukan adalah dengan mengalokasikan dana kita pada Reksa Dana Pasar Uang.

     

    IPIM telah bekerja sama dengan IPOTPAY yang akan mempermudah nasabah dalam pembelian reksa dana pasar uang dengan produk Reksa Dana Premier Pasar Uang II. Sebagai fintech platform yang dapat digunakan untuk pembayaran, pembelian hingga transfer dana tanpa limit, IPOTPAY dapat memaksimalkan hasil saldo karena kita dapat mengalokasikan dana kita melalui reksa dana pasar uang.

     

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.











    Oleh: Admin

    5 hari lalu

    Digeser Suplayer Telur Kabupaten, Peternak: Pak Bupati, Beri Kami Kesempatan

    Dibaca : 1.092 kali

    Tuban - Belum selesai polemik soal beras berkutu di program BPNT, kini muncul suplayer yang mengatasnamakan diri suplayer kabupaten. Tak ayal, kehadiran suplayer telur kabupaten inipun menggeser peternak lokal. Adalah Sahli, Peternak Ayam Petelur di Desa Pongpongan Kec. Merakurak yang mengeluhkan tak lagi bisa ikut menyuplai telur dalam program BPNT. Pasalnya, e-warong sembako di desanya sudah memiliki suplayer baru yang ditunjuk dari kabupaten. Akibatnya, Sahli kehilangan pangsa pasar terdekat yang ada di desanya. "Katanya sudah ada suplayer baru dari kabupaten yang bertugas menyuplai telur di program BPNT, jadi e-warong sekarang tidak lagi ambil telur dari saya" terang Sahli saat di temuai di kandangnya, Kamis, 21/05/2020. Sahli menuturkan, peternak ayam petelur yang ada di desanya sebenarnya cukup merasakan dampak ekonomi dari program andalan Jokowi ini. Ia dan teman-temannya tidak perlu jauh-jauh mencari pangsa pasar untuk telur yang dihasilkan dari kandangnya. Selain itu, harga jualnya juga relatif setabil dan kompetitif. Namun semenjak kehadiran suplayer kabupaten ini, ia terpaksa harus mencari pangsa pasar baru. "Dulu telur tidak pernah keluar dari desa karena diambil Agen BPNT, sekarang saya terpaksa jual telurnya ke tengkulak meski harganya lebih murah" terang pemuda yang sudah menggeluti peternakan unggas sejak 5 tahun terakhir ini. Terpisah, Aripin, peternak ayam petelur di desa yang sama juga menyayangkan masuknya suplayer baru dari luar desa. Menurutnya, supplier kabupaten ini makin menambah derita peternak ayam petelur yang beberapa bulan terakhir ini mengalami guncangan harga akibat beredarnya telur yang diduga HE. Jika hadirnya suplayer luar di BPNT Desa Pongpongan ini adalah kebijakan Bupati, Arifin meminta agar kebijaka itu dievaluasi. "Mohon Pak Bupati bisa melindungi peternak lokal. Beri kami kesempatan untuk menyuplai telur di desa kami" pinta Arifin. Untuk diketahui, adanya komoditi telur dalam program BPNT ini telah memantik semangat warga desa mencoba peruntungan dalam bidang perunggasan. di Desa Pongpongan sendiri, saat ini terdapat 5 kandang ayam petelur milik warga. Dua diantaranya merupakan kelompok binaan dari PT. Semen Indonesia. Diperkirakan, tahun ini juga akan muncul lagi peternak-peternak baru yang menggeluti peternakan ayam petelur. Hal ini diketahui dari banyaknya usulan peternakan unggas dari kelompok masyarakat yang yang masuk melalui program CSR Semen Indonesia tahun 2020 untuk Desa Pongpongan (tro/id).