Jalan Menuju Istana (Bag 2) - Analisa - www.indonesiana.id
x

kang Nasir

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Berita Utama
  • Jalan Menuju Istana (Bag 2)

    Dibaca : 2.020 kali

    Tulisan saya bulan November 2018 lalu dengan judul  yang sama, isinya menggambarkan tentang bagaimana perjalanan menuju Istana pada zaman sebelum demokrasi lahir di Indonesia.

    Saya menggambarkan bahwa  untuk merebut Singgasana atau kursi di Istana, orang tak segan segan melakukan persetruan. Salah satu contohnya adalah persetruan antara Raja Amangkurat I dengan  Mas Rahmat yang tak lain adalah putra dari Amangkurat I. Hanya karena singgasana di Istana, seorang anak berani melawan orang tua hingga ahirnya Mas Rahmat menjadi Raja dengan gelar Amangkurat II setelah Amangkurat I wafat. Dalam catatan sejarah, Amangkurat I wafat setelah minum air yang sudah dicampur dengan racun.

    Demikian pula dalam kisah pewayangan, untuk menduduki singgasana, tak juga lepas dari trik dan intrik, fitnah dan kebohongan bisa digunakan senjata untuk mencapai tujuan. Diantara yang terkenal karena kelicikannya hingga ia menduduki jabatan bergengsi adalah tokoh yang bernama  Tri Gantalpati.  Karena kelicikannya, Tri Gantalpati berhasil menghasut dan menyebar kebencian kepada para kurawa bahwa Patih Gandamana  yang sedang berkuasa  adalah Patih yang tidak bener. Para Kurawa  terhasut dengan kebohongan yang disampaikan Tri Gandalpati sehingga  ahirnya membunuh Patih Gandamana,  Prabu Pandu berhasil di kadalin oleh Tri Gantalpati, laporannya bahwa Patih Gandamana berhasil ia bunuh  hingga ahirnya Prabu Pandu percaya kepada Tri Gantalpati dan mengangkatnya sebagai Patih dengan gelar Patih Sengkuni.

    Lantas bagaimana  Jalan Menuju Istana  dimasa sekarang, orang menyebutnya zaman Demokrasi yakni zaman dimana rakyat punya peran dalam menentukan seseorang menuuju Istana. Tentu saja dalam konstitusi tidak disebut sebagai kursi Raja, tetapi secara substantive sama saja yakni singgasana yang ada di istana dengan sebutan Presiden.

    Jalan Menuju Istana sebagaimana yang dihelat di Indonesia saat ini, ditentukan oleh rakyat melalui pemilihan langsung yang disebut Pemilihan Presiden, sedang calonnya   diusung oleh Partai Politik. Oleh karenanya, dalam kontestasi ini banyak melibatkan rakyat dan partai politik.

    Rakyat yang terlibat dalam kontestani ini amat beragam dengan kepentingan yang beragam pula. Ada yang dengan suka rela menjadi tim relawan untuk mementingkan capres tertentu, ada juga yang jadi tim sukses yang resmi dibentuk dan terstruktur berdasarkan kesepakatan bersama, sedangkan di tingkat yang paling bawah, banyak rakyat yang sekedar mendukung atau simpatisan capres tertentu walaupun tidak terikat oleh tim apapun.

    Kepentingan rakyat melibatkan diri dalam kontestasi Pilprespun juga macam macam, ada yang betul betul karena panggilan nurani, berharap negara lebih maju jika capresnya menang atau karena terikat fatsum partai yang mengharuskan untuk mendukung capres tertentu. Selain itu ada juga karena kepentingan pragmatis  -- walaupun terselubung-- mungkin  ingin mencari perlindungan, mungkin ada yang ingin berharap keuntungan secara pribadi (dalam bidang usaha)  bahkan kemungkinan ada yang ingin  mempertahankan status quo misalnya;  yang sedang jadi komisaris BUMN, ingin tetap jadi komisaris,  ada yang sudah jadi direktur berharap tidak digeser dsb.

    Sedangkan partai politik tentu saja punya kepentingan politik, sudah bukan rahasia umum, partai politik yang secara bersama sama mengusung calon presiden, berharap partai politiknya ikut terlibat dalam proses penyelenggaraan pemerintahan dengan mendapat jatah mentri  dalam kabinet yang akan datang.

    Pertanyaannya adalah apakah dalam kontestasi politik memperebutkan Singgasana Istana saat ini tidak terjadi persetruan?. Sepanjang proses pelaksanaan Pilpres saat ini, dimana  informasi begitu terbuka  melalui akses internet, boleh dibilang Pilpres saat ini adalah pilpres yang paling gaduh.

    Menurut saya, frasa yang paling pas untuk menggambarkan kegaduhan itu adalah frasa yang berbunyi “Saling”. Masing masing kubu, entah itu rakyat, relawan termasuk tim sukses merasa saling mendapat fitnah, mereka saling klaim  dan saling berbantah bantahan baik di media mainstream maupun di media social, masing masing kubu saling ejek bukan hanya persoalan pemikiran atau program, tetapi ranah pribadipun menjadi sasaran.

    Menyaksikan persetruan seperti ini, rakyat jelata yang kadang bingung, persetruan yang terjadi diantara dua kubu, dengan jelas menggambarkan masing masing kubu merasa  paling benar, paling baik, orang arab bilang Ana Khoirun minkum.

    Dalam konteks kontestasi politik, menawarkan  pemikiran atau program  untuk membangun negeri adalah hal seharusnya dilakukan sebagai bahan pertimbangan rakyat untuk menjatuhkan pilihan, tetapi jika perestruan itu kemudian saling serang, saling ejek dalam wilayah pribadi, maka demokrasi sudah kehilangan ghiroh dan  kwalitasnya, demokrasi hanya dijadikan tameng dalam rangka memuluskan jalan menuju istana.

    Harus diakui, bahwa kontestasi politik yang bernama pilpres ini, sedikit banyak berpengaruh terhadap  perubahan perilaku anak bangsa, orang yang tadinya alim, berubah jadi (agak) sangar, orang yang tadinya berhubungan baik sesama teman, berubah saling ejek, bahkan diantara saudarapun bisa saling bermusuhan. Demikian sebaliknya, orang yang tadinya jarang mengenal Tuhan, berubah menjadi (pura pura) alim, orang yang tadinya tak mengenal dunia panggung hiburan, dengan sangat terpaksa pura pura enjoy dihadapan biduan dan publik. Hanya satu yang tidak berubah yakni perilaku orang merokok, siapapun itu, merokok tetap menjepit rokoknya diantara dua jari, tidak ada yang merokok menjepit dengan satu jari.  

    Hal yang paling diharapkan rakyat sebetulnya  adalah bagimana agar pemilihan presiden ini berjalan dengan baik dan beradab, tidak ada saling ini itu, tidak ada kecurangan sehingga melahirkan pemimpin negara yang amanah, rakyat hanya mengidamkan negara baldatun thoyyibatun warobbun ghofur.

    Ahirnya, soal pilihan untuk mengantarkan  orang menuju istana dalam Pilpres, ---meminjam istilah iklan di televisi--, “kami yang mengabarkan, anda yang memutuskan”, pilihlah sesuai dengan  hati nurani -- bukan Hanura lo --, jangan ada keterpaksaan, yakinlah tidak akan ada yang menggugat, urusan selesai saat keluar dari TPS.  

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.