Elite Partai Mulai Cemas - Analisa - www.indonesiana.id
x

dian basuki

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Analisa
  • Pilihan
  • Elite Partai Mulai Cemas

    Dibaca : 482 kali

     

    Sebagian elite partai politik tampak mulai cemas setelah mengetahui hasil-hasil survei mutakhir. Bukan perkara pemilihan presiden, melainkan terkait pemilihan anggota legislatif. Mereka mungkin kaget bahwa partainya diprediksi bakal tidak lolos ke Senayan lantaran perolehan suaranya tidak mampu melewati ambang batas parlemen, yaitu 4%.

    Ambang batas tersebut memang bukan angka kecil mengingat dominasi tiga partai yang diramalkan meraih suara terbanyak pada pileg 2019, yaitu PDI-P, Gerindra, dan Golkar. Satu hasil survei menyebutkan, jika perolehan suara ketiga partai digabung hasilnya sudah melebihi 50%. Sisanya harus dibagi untuk partai-partai lain, yang 3-4 di antaranya lolos ke Senayan, sedangkan sisanya diprediksi terpaksa gigit jari.

    Bukan hanya partai-partai baru yang khawatir, partai-partai lama pun dihinggapi perasaan harap-harap cemas. Ikhtiar mereka untuk mewujudkan impian mendudukkan (kembali) wakil-wakil mereka di DPR terancam pupus. Waktu tinggal satu pekan ke depan, praktis tidak banyak yang bisa dilakukan oleh partai-partai kecuali mengandalkan massa tradisional serta pemilih yang punya hubungan dekat dengan pengurus partai.

    Pemilihan tahun ini boleh dibilang terlampau presiden-sentris. Pemilihan presiden menjadi pusat perhatian dengan publikasi dan liputan media yang tak habis-habis. Media jurnalistik maupun media sosial seolah menyoroti setiap gerak langkah kedua capres kemanapun kedua pasangan bergerak. Perkataan mereka ditunggu, dibicarakan, disebarluaskan, dan dikomentari. Debat capres diulas sebelum maupun sesudah debat berlangsung.

    Sayangnya, bobot materi yang diwacanakan oleh kedua capres cenderung kurang memperoleh perhatian media maupun warga. Entah karena bobotnya biasa-biasa saja, tidak ada yang istimewa atau karena alasan lain. Yang jelas, ucapan-ucapan dengan diksi yang provokatif, serangan dan kritik yang timbal balik, serta kesalahan-kesalahan yang dilakukan kedua capres lebih menarik perhatian ketimbang isinya. Demokrasi kita, jika pemilihan presiden dan anggota legislatif dijadikan sebagai tolok ukur, mungkin bisa dianggap kurang berbobot dari sudut pandang eksplorasi substansi wacananya.

    Dalam situasi seperti ini, pemilihan anggota legislatif (DPR dan DPD di pusat, dan apa lagi di tingkat provinsi dan kota/kabupaten) praktis tidak mendapat perhatian yang selayaknya. Liputan media jurnalistik mengenai pemilihan legislatif terlihat jauh lebih sedikit dibandingkan liputan tentang kehebohan pilpres. Media sosial juga jarang membicarakan sepak terjang partai dan programnya. Hanya sedikit partai yang tahu mencuri perhatian publik dengan melontarkan wacana yang memancing kontroversi, seperti dilakukan oleh Partai Solidaritas Indonesia. Partai-partai lain terkesan lebih sibuk mengurusi calon presiden masing-masing.

    Pemilihan anggota legislatif dapat menjadi ‘alat saring’ bagi kelangsungan hidup partai-partai politik di Indonesia. Akan terjadi seleksi alam mana partai yang dapat melanjutkan hidup dan mana yang harus memikirkan ulang kehadirannya. **


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.