Drupadi - Mempertanyakan Kodrat Perempuan - Gaya Hidup - www.indonesiana.id
x

Handoko Widagdo

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 26 April 2019

Sabtu, 27 April 2019 20:06 WIB
  • Gaya Hidup
  • Pilihan
  • Drupadi - Mempertanyakan Kodrat Perempuan

    Dibaca : 450 kali

    Judul: Drupadi

    Penulis: Seno Gumira Ajidarma

    Tahun Terbit: 2017

    Penerbit: Gramedia Pustaka Utama                                                                        

    Tebal: vi + 149

    ISBN: 978-602-03-3687-9

     

    Apa gunanya bagi seorang perempuan hidup dalam penuh kemanjaan tetapi tidak bisa menentukan sendiri nasipnya? Mengapa perempuan harus ikut menderita karena ulah lelaki? Apakah perempuan yang protes terhadap nasip adalah sebuah kesalahan? Begitulah kira-kira pikiran Seno Gumira Ajidarma (SGA) ketika menuliskan kisah hidup Drupadi menjadi novel. SGA mencoba menunjukkan kegelisahan beberapa perempuan melalui sosok Drupadi. Sosok yang lahir dengan tubuh sempurna. Penuh keayuan dan kemolekan. Tinggal di istana dengan pelayanan purna. Namun di tengah kelimpahan semua yang didambakan kebanyakan perempuan, Drupadi tak bisa mendapatkan apa yang menjadi keinginan-keinginannya.

    Alur cerita Novel Drupadi karya SGA ini sama tetapi tidak sama dengan alur cerita dalam epos Mahabharata. Sama karena ceritanya memang mengikuti urutan yang sama. Tidak sama karena tokoh Drupadi digambarkan dengan kegelisahan, daripada sebagai perempuan yang teguh menjalani takdir untuk mengawal kebenaran. Pandawa!

    Kegelisahan Drupadi sudah mulai nampak saat saat ia dihadirkan untuk melihat sayembara memperebutkannya menjadi seorang istri. Percintaannya dengan Krisna melalui mimpi tentu saja tak akan terwujud menjadi mahligai. Sebab percintaan itu hanya terjadi dalam mimpi. Dan…Krisna pun telah secara gambling menyatakan tidak akan menjadi pendampingnya, meski tetap akan bersamanya. Apakah perempuan tidak bisa memilih jodohnya sendiri? Ah…seandainya…

    Drupadi begitu lega ketika Duryudana gagal menarik gendewa. Ia sungguh tak menghendaki menjadi pendamping raja urakan. Drupadi tanpa penghalang ketika menolak Karna. Ia tahu bahwa Karna ikut sayembara bukan karena ingin menyuntingnya. Tetapi Karna ikut sayembara untuk menyerahkannya kepada sang junjungan Duryudana. Dengan mempermasalahkan bahwa Karna bukanlah seorang ksatria, maka Drupadi telah menggagalkannya untuk mengikuti sayembara.

    Drupadi lega, tetapi sekaligus gulana. Sebab akankah ia menjadi seorang wanita yang menua tanpa pendamping? Jika tak seorang pun mampu mementang gendewa dan membidik burung di atas penari, maka tak akan ada lelaki yang memboyongnya menjadi istri. Wajarkah perempuan hidup seorang diri tanpa menikah? Bukankah itu menyalahi takdir? Bagaimana masa depan umat manusia jika para perempuan tak mau menikah dan tidak mau melanjutkan generasi? Gundahlah Drupadi tentang hal ini.

    Namun sebelum kegundahannya berlanjut, tiba-tiba muncul seorang brahmana muda yang gagah gemulai. Drupadi terkesima. Wajahnya sama persis dengan Krisna yang ditemuinya dalam mimpi. Pertemuan pandangan mata antara keduanya menimbulkan api asmara. Maka Drupadi pun jatuh cinta. Dan. Sang brahmana muda itu memenangkan sayembara. Betapa bahagianya Drupadi mendapatkan calon sesuai dengan cintanya.

    Namun apa daya, ternyata bukan Arjuna yang harus menikahinya. Drupadi harus rela menjadi istri dari lima bersaudara yang bernama Pandawa. Drupadi harus menerima nasip yang ditentukan oleh budaya. Meski harus menjadi istri dari lima lelaki yang bersaudara, Drupadi menerimanya dengan lapang dada. Ia menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik dan menikmatinya.

    Sampai pada suatu hari kebodohan para ksatria itu berakibat kepada kehidupan Drupadi. Yudistira kalah dalam permainan dadu. Drupadi yang dijadikan taruhan harus rela menjadi jarahan para Kurawa. Ia dijemput saat malam masih berkuasa. Ia diboyong dengan kasar dari peraduannya. Dursasana memboyongnya dengan kasar dari peraduan ke tengah pesta. Ia dijadikan mainan di keramaian oleh 100 Kurawa. Pakaiannya dibelejeti oleh para lelaki tak bermoral tersebut. Sementara para Pandawa diam saja. Dengan alasan menjalankan sumpah ksatria yang telah kalah, maka para Pandawa tak membela Drupadi – sang istri, yang dipermalukan oleh para Kurawa. Drupadi berteriak putus asa: “Pandawa suami-suamiku yang lima, mengapa kalian diam saja melihat istri kalian dihinakan sedemikian rupa.” Sekali lagi perempuan harus rela menjadi obyek nilai-nilai laki-laki. Tanpa memperhitungkan derita sang perempuan, lelaki-lelaki itu, para Pandawa itu, lebih memilih menjalani harga diri sebagai ksatria daripada mempertahankan kehormatan seorang istri. Tega.

    Penderitaan Drupadi belum selesai sampai di situ. Untuk mengemban tugas sebagai istri yang setia, Drupadi harus rela mengikuti para Pandawa – suaminya, yang menjalani pembuangan selama 12 tahun. Saat mengikuti lima suaminya mengembara, Drupadi tidak merasa bahwa ia sendang menjalankan kewajiban sebagai seorang istri. Sebab ia memang mencintai kelima suaminya itu. Ia menjalankan kewajiban yang didasari rasa cinta.

    Ia harus menyamar menjadi orang biasa bersama para suaminya supaya tidak dikenali oleh para Kurawa. Sebab apabila mereka ditemukan oleh Kurawa, maka hukuman pembuangan harus diulang dari awal. Ia menyamar sebagai seorang dayang bernama Sarindhri di negeri Wirata.

    Sebagai seorang yang sangat cantik, meski berbungkus busana dayang, Sarindhri tetap menarik bagi para lelaki. Termasuk Patih Kichaka yang menghendakinya. Setelah gagal memperkosa Drupadi, Kichaka melamarnya untuk mendapatkannya. Dengan kecerdikan Sarindhri berhasil mengelabuhi Kichaka. Kichaka terbunuh oleh Bima saat mendatangi Sarindhri di kamarnya.

    Tanpa bisa dihindari, perang Bharatayudha haruslah terjadi. Ketika Drupadi mendengar bahwa Dursasana gugur, ia meminta kepada Bima untuk mengambil darah Dursasana yang pernah kurang ajar kepadanya. Darah Dursasana dipakainya untuk mengeramasi rambutnya yang dibiarkan terurai sejak kejadian memalukan di meja dadu itu. Drupadi meluapkan kemarahannya melalui prosesi keramas darah. Bolehkah perempuan mengumbar marah? Tidakkah seharusnya perempuan memendamnya demi harga diri? Drupadi memilih untuk meluapkan marahnya. Sebab marah adalah hak. Hak yang dimiliki oleh semua manusia, termasuk perempuan! Drupadi tak peduli jika keramas darah sebagai ungkapan kemurkaannya kepada kekurangajaran Dursasana dianggap sebagai cela. Drupadi dengan lantang berucap: “Aku Drupadi, seorang perempuan, terus terang menghendaki darah Dursasana, untuk memberi pelajaran kepada penghinaan.”

    Ketika para Pandawa telah mendapatkan kembali kedudukannya, dan melalui perang Bharatayudha para Kurawa musnah, derita Drupadi tidaklah terhenti. Aswatama yang marah berhasil masuk ke Wirata dan membunuh Drestajumena, Srikhandi dan Pancawala, tiga saudara Drupadi. Haruskah dendam Aswatama kepada Pandawa ditimpakan kepada keluarga Drupadi? Inikah namanya penderitaan tiada akhir? Apakah memang menjadi kodrat perempuan untuk menderita sepanjang hidupnya? Apakah penderitaan itu merupakan cara perempuan untuk mencapai kesempurnaannya sebagai kesempurnaan, seperti keyanikan para perempuan India dan Bangladesh yang merasa tidak akan masuk sorga jika tidak dipukul oleh suaminya?

    Penderitaan karena tak bisa menentukan pilihan hidupnya, penderitaan karena harus menerima neraka karena suaminya, penderitaan karena harus selalu bersikap sopan telah membakar Drupadi. Apakah karena Drupadi tidak patuh sehingga ia tidak sampai kepada pemokshaan di puncak Mahameru? Mengapa Yudhistira yang tidak bertanggung jawab sebagai seorang suami bisa mencapai pemokshaan bersama sang anjing? Apakah karena Yudhistira adalah seorang lelaki?

     


    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.