Body Shaming Berujung Bui ? - Viral - www.indonesiana.id
x

Sumber : Lifestyle Okezone

Faizatul Alfiyah

Penulis Indonesiana
Bergabung Sejak: 8 Mei 2019

Rabu, 8 Mei 2019 20:40 WIB

  • Viral
  • Topik Utama
  • Body Shaming Berujung Bui ?

    Artikel ini menjelaskan tentang body shaming yang dapat dibawa ke jalur hukum

    Dibaca : 2.381 kali

    Dukung penulis Indonesiana untuk terus berkarya

         Fenomena body shaming semakin menjadi jadi. Body Shaming merupakan tindakan untuk mempermalukan seseorang dengan memberi komentar menghina tentang bentuk tubuh. Body shaming kerap dialami setiap orang dalam kegiatan sosial sehari hari terlebih lagi perempuan. Karena pada dasarnya setiap perempuan selalu menginginkan tubuh yang ideal sesuai dengan standar yang ada.

          Body shaming termasuk dalam kategori bullying secara verbal. Bullying secara verbal yaitu seperti mengejek, mempermalukan seseorang, merendahkan, menyindir dan sebagainya.

    “Kok kamu pendek banget sih”

    “Pipi lo makin lama makin kaya bola ye, banyakan makan sih lo haha”

    “Tambah bulet aja lo”

    "Kok kurus banget sih, udah kaya lidi aja hahaha"

          Setidaknya kalimat kalimat itulah yang sering kali kita jumpai, apalagi dalam sosial media. Bebagai komentar tentang ejekan bentuk tubuh kerap bertengger pada kolom komentar sosial media seperti instagram. Kolom komentar instagram para selebritis contohnya, banyak sekali netizen yang melakukan body shaming dengan menyebut artis gendut, hitam, pendek dan lain sebagainya. Di era modern ini informasi dalam bentuk apapun sudah dapat dengan mudah kita dapatkan. Kemudahan akses yang didapat harusnya dapat dimanfaatkan dengan baik. Kita harus bijak dalam  menggunakan sosial media. Kita harus dapat membatasi apa yang harus kita komentari dan tidak.  

          Perbuatan body shaming dapat dilaporkan ke kepolisian dan dijerat dengan undang-undang Undang-Undang Informasi dan Tranksaksi Elektronik (UU ITE) jika dilakukan di media sosial, dan pidana umum jika di ruang publik. Pelaku akan dijerat Pasal 27 ayat 3 Juncto Pasal 45 ayat 3 UU ITE.

          Bunyi dari Pasal 27 ayat 3 Juncto Pasal 45 ayat 3 UU ITE yaitu "Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik."

          Polisi sudah banyak menangani kasus body shaming. Setidaknya telah 900 lebih kasus body shaming yang telah ditangani oleh pihak kepolisian pada tahun 2018. Contoh kasus selebriti korban body shaming yang kemudian melaporkan ke pihak berwajib yaitu Dian Nitami yang merupakan istri dari Aktor Anjasmara. Anjasmara melaporkan seorang netizen yang menghina fisik istrinya pada kolom komentar instagram.

           Body shaming adalah perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan. Banyak pelaku body shaming yang menganggap komentar yang mereka lontarkan hanyalah sebuah candaan belaka. Mereka tidak pernah berfikir bahwa yang mereka anggap sebagai “candaan” tersebut dapat melukai perasaan orang lain. Tidak jarang orang yang mengalami body shaming menjadi menutup diri dari lingkungan bahkan ada yang sampai depresi. Sebelum menilai orang lain seharusnya kita berkaca pada diri kita sendiri apakah kita sudah sempurna sehingga dapat menilai orang lain, oleh karena itu kita harus berhenti berbuat body shaming terhadap sesama.



    Suka dengan apa yang Anda baca?

    Berikan komentar, serta bagikan artikel ini ke social media.















    Oleh: Surya Ningsi

    5 hari lalu

    Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Peserta Didik

    Dibaca : 14.077 kali

    Pembelajaran di masa pandemi covid-19 menuntut guru untuk selalu kreatif dan inovatif dalam membelajarkan peserta didik. Selain guru harus menyiapkan rancangan pembelajaran, melakukan kegiatan pembelajaran, evaluasi dan penilaian, guru juga dituntut untuk terampil menggunakan teknologi agar mampu menjawab tantangan zaman yang selalu berubah. Salah satu strategi yang dapat dilakukan guru untuk menjawab tantangan tersebut adalah melakukan pembelajaran yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi peserta didik. Strategi PLICIK (Pembelajaran Literasi, Inspiratif, Cerdas, Inovatif dan Kreatif) berbasis Flipped Classroom mendukung program pemerintah untuk mewujudkan merdeka belajar. Setiap peserta didik diberikan kebebasan untuk mempelajari materi melalui literasi, didukung oleh bahan ajar yang beragam bentuknya disesuaikan dengan gaya belajar peserta didik dan diekspresikan dalam wujud produk sebagai bentuk kolaborasi, kreativitas dan inovasi peserta didik yang dapat menginspirasi banyak orang. Guru hanya memfasilitasi kebutuhan peserta didik yang beragam dengan melihat keunikan dan potensi dalam diri masing-masing peserta didik. Tidak adanya paksaan, sanksi dan reward dalam pembelajaran ini mendorong peningkatan motivasi belajar peserta didik yang berdampak pada peningkatan prestasi belajar peserta didik.